Hengki Hendra Pradana
Universitas Nahdlatul Ulama

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Identitas Diri Pada Komunitas Vespa Di Blitar Hengki Hendra Pradana
SINDA: Comprehensive Journal of Islamic Social Studies Vol 1 No 3 (2021): Volume 1,Number3, Desember 2021
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/sinda.v1i3.763

Abstract

Terbentuknya sebuah komunitas karena seorang individu menyadari bahwa terdapat kesamaan dengan individu yang lain. Adapun kesamaan yang dimaksud antara lain adalah hobi, minat dan lain sebagainya, begitu pula dengan komunitas Vespa yang ada di Blitar. Komunitas vespa yang ada di Blitar juga seperti komunitas-komunitas pada daerah-daerah lainnya yang memandang bahwa semua pengguna vespa itu memiliki kesamaan, sering berbagi rasa, susah maupun senang dijalani secara bersama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan tujuan untuk memberikan gambaran nyata, dan penjelasan dengan dianalisis deskriptif, tentang bagaimana gambaran identitas diri anggota komunitas vespa di Blitar secara sistematis dan faktual. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. Identitas diri anggota komunitas vespa Di Blitar dapat dilihat dari cara berpenampilan, bagaimana hubungan dengan anggota lain, dan bagaimana komitmen mereka dalam mengikuti komunitas vespa. Bagi anggota vespa ini, penampilan yang unik dijadikan sebagai ciri khas masing-masing anggota bahkan dengan anggota komunitas motor vespa lainnya. Sebagian masyarakat menilai bahwa dominan anggota vespa ini yang memiliki penampilan yang urak-urakan. Namun, anggota vespa di Blitar tidak menganggap atau tidak memperdulikan apa yang diasumsikan oleh orang lain terhadap komunita mereka. Identitas diri adalah salah satu hal yang kuat dan dimiliki oleh setiap individu seperti komitmen atas ideologi, politik maupun agama. Komunitas vespa di Blitar tidak memiliki komitmen yang mengikat pada setiap anggota yang tergabung di dalamnya seperti halnya aktivitas kerja dan lain sebagainya, namun dalamm diri masing-masing anggota memiliki komitmen yang tinggi bagaimana mereka dalam mengikuti komunitas vespa. Pada setiap anggota pun memiliki tangung jawab untuk menjaga nama baik komunitas vespa di Blitar sebagai tempat untuk mengekspresikan bakat, hobi, kesenangan dan minatnya masing-masing.
Kesejahteraan Psikologis Pada Remaja Dengan Keluarga Broken Home Hengki Hendra Pradana
SINDA: Comprehensive Journal of Islamic Social Studies Vol 1 No 3 (2021): Volume 1,Number3, Desember 2021
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/sinda.v1i3.764

Abstract

Perceraian adalah hubungan pernikahan yang pisah atau tidak dapat diteruskan karena sering terjadi konflik dan juga kesepakatan antara kedua belah pihak untuk melakukan perceraian. Banyak faktor yang menyebabkan anak yang dari latar belakang keluarga yang tidak utuh atau broken home akan memiliki perilaku negatif karena jiwa dan mental dari anak yang memiliki keluarga tersebut mudah terpengaruh dengan ranah hal-hal yang negatif. Kesejahteraan yang harus diperhatikan pada anak yang memiliki kelurga broken home adalah kesejahteraan psikologisnya. Kesejahteraan psikologis adalah merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesehatan psikologis individu berdasarkan pemenuhan kriteria fungsi psikologi positif seperti penerimaan diri, bertujuan, beruhubungan positif, pribadi yang mandiri, dan bertumbuh. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa remaja dengan hasil terdapat kurangnya terpenuhi kesejahteraan psikologis, karena yang jauh dari orang tua dan harus mendapat perhatian dari orang lain. Tidak hanya itu sulit mengontrol diri, kurangnya dukungan sosial, dan penguasan dalam lingkungan atau istilahnya menyesuaikan dengan lingkungannya. Dengan demikian kesejahteraan psikologis pada remaja yang mengalami broken home sangat diperlukan guna memenuhi kesejahteraan psikologisnya. Tujuan peneliti ingin mengetahui bagaimana kesejahteraan psikologis remaja terhadap keluarga broken home.