Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Dampak Sebuah Nikah Bawah Tangan Presfektif Hukum Islam Sumiati Sumiati; Jamaluddin Jamaluddin
Journal on Education Vol 5 No 3 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v5i3.1833

Abstract

This research explains that the main purpose of marriage is to build a lasting and happy household life between husband and wife with the intention of continuing offspring. Given that marriage is an instinctive human demand for offspring for the continuation of life and obtaining peace of life and fostering and cultivating human affection. The harmony that exists between two souls will make them integrated in the world of love and togetherness. Marriage for mankind is something very sacred and has a sacred purpose as well, and is inseparable from religious provisions. People who enter into a marriage are not merely to satisfy the lust that is perched in their souls, but to achieve peace, tranquility and mutual nurturing between husband and wife based on deep love and affection.
Peran Pembiayaan Akad Qard Terhadap Keberlanjutan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Pada Bank Wakaf Mikro Syariah Mawaridussalam Batang Kuis Deli Serdang Satra Alfira; Eli Agustami; Sumiati Sumiati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6304

Abstract

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian nasional, khususnya dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pelaku UMKM sering menghadapi kendala utama berupa keterbatasan akses permodalan, terutama bagi masyarakat miskin produktif yang tidak memenuhi persyaratan perbankan formal. Kondisi ini mendorong hadirnya Bank Wakaf Mikro Syariah sebagai lembaga keuangan mikro berbasis syariah yang bertujuan memberikan pembiayaan tanpa agunan melalui prinsip tolong-menolong, salah satunya dengan menggunakan akad qard. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pembiayaan akad qard terhadap keberlanjutan Usaha Mikro Kecil dan Menengah pada Bank Wakaf Mikro Syariah Mawaridussalam Batang Kuis Deli Serdang. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji bagaimana pelaksanaan pembiayaan akad qard serta dampaknya terhadap keberlangsungan usaha nasabah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, yang berfokus pada pemahaman mendalam terhadap pengalaman dan pandangan para informan terkait pelaksanaan pembiayaan akad qard. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap pihak pengelola Bank Wakaf Mikro dan nasabah penerima pembiayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiayaan akad qard yang diterapkan oleh Bank Wakaf Mikro Syariah Mawaridussalam Batang Kuis berperan penting dalam mendukung keberlanjutan UMKM. Pembiayaan ini memberikan kemudahan akses modal usaha tanpa beban bunga dan tanpa agunan, sehingga membantu nasabah dalam memulai maupun mengembangkan usaha mikro mereka. Selain itu, pembiayaan akad qard juga disertai dengan pendampingan usaha dan pembinaan melalui pertemuan rutin, yang berkontribusi terhadap peningkatan pengetahuan, kedisiplinan, dan tanggung jawab nasabah dalam mengelola usaha. Dampak pembiayaan ini terlihat pada meningkatnya kemampuan nasabah dalam mempertahankan keberlangsungan usaha, meskipun tingkat peningkatan pendapatan usaha berbeda-beda pada setiap nasabah. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembiayaan akad qard memiliki peran yang signifikan terhadap keberlanjutan UMKM pada Bank Wakaf Mikro Syariah Mawaridussalam Batang Kuis Deli Serdang. Melalui pembiayaan berbasis prinsip syariah dan pendampingan intensif, Bank Wakaf Mikro mampu menjadi solusi alternatif permodalan bagi masyarakat miskin produktif serta mendorong keberlanjutan usaha mikro secara berkelanjutan.
PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN FIQIH: STUDI PADA SISWA KELAS VIII MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 3 LABUHAN BATU Ina Rahmadani Ritonga; Rini Dewi Andriani; Sumiati Sumiati
Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman Vol 11, No 1 (2026): Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/muaddib.v11i1.%p

Abstract

Penilaian autentik dalam pembelajaran Fiqih belum sepenuhnya berjalan secara optimal. Hal ini terlihat dari masih dominannya penggunaan tes tertulis sebagai bentuk evaluasi pembelajaran, sementara instrumen penilaian autentik seperti rubrik kinerja, portofolio, maupun penilaian proyek masih jarang digunakan. Selain itu, keterlibatan siswa dalam praktik ibadah, seperti wudhu dan salat, masih terbatas sehingga pemahaman siswa cenderung bersifat teoretis dan kurang aplikatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (a) mengetahui pelaksanaan penilaian autentik dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fiqih pada kelas VIII MTs Negeri 3 Labuhanbatu; (b) mengetahui faktor-faktor kendala yang dihadapi guru dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi Fiqih di kelas VIII MTs Negeri 3 Labuhanbatu; dan (c) mengetahui solusi yang dilakukan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi Fiqih di kelas VIII MTs Negeri 3 Labuhanbatu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian kualitatif memiliki karakteristik antara lain: sumber data berasal dari situasi alami, peneliti berperan sebagai instrumen kunci, data bersifat deskriptif, lebih menekankan pada makna proses daripada hasil, analisis data dilakukan secara induktif, serta menempatkan makna sebagai fokus utama dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian autentik dalam pembelajaran Fiqih pada siswa kelas VIII MTs Negeri 3 Labuhanbatu telah diterapkan secara menyeluruh dengan menilai aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Penilaian ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif terhadap tingkat pemahaman siswa serta mendorong siswa untuk tidak hanya memahami materi secara teoretis, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai Fiqih dalam kehidupan sehari-hari
Implementasi Pembelajaran Inklusif dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Taman Pendidikan Islam Medan Amplas Riki Rifaldo; Rini Dewi Andriani; Sumiati Sumiati
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1613

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran inklusif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SLB Taman Pendidikan Islam Medan Amplas. Penelitian dilatarbelakangi oleh pentingnya pendidikan inklusif sebagai upaya pemenuhan hak belajar yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus, sesuai dengan prinsip keadilan, kesetaraan, dan nilai-nilai Islam. Fokus penelitian mencakup strategi guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran inklusif, faktor pendukung dan penghambat, serta dampaknya terhadap hasil belajar siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian guru PAI, siswa reguler dan berkebutuhan khusus, serta kepala sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran inklusif dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran berbasis diferensiasi. Guru menerapkan strategi pembelajaran individual, pengelompokan fleksibel, penggunaan media visual, audio, dan kinestetik, serta penilaian autentik berbasis proses dan portofolio. Faktor pendukung meliputi dukungan kebijakan sekolah, kesiapan guru, sarana-prasarana, dan dukungan orang tua, sedangkan hambatan meliputi keterbatasan waktu, rasio guru-siswa, perbedaan kemampuan siswa, dan keterbatasan media khusus. Implementasi pembelajaran inklusif terbukti meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran inklusif pada mata pelajaran PAI efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa secara holistik dan mendukung terwujudnya pendidikan Islam yang adil dan ramah bagi semua peserta didik. This study aims to describe the implementation of inclusive learning in improving students’ learning outcomes in Islamic Religious Education (PAI) at SLB Taman Pendidikan Islam Medan Amplas. The study is motivated by the importance of inclusive education as an effort to provide equal learning rights for all students, including those with special needs, in accordance with the principles of justice, equality, and Islamic values. The focus of the study includes teachers’ strategies in designing and implementing inclusive learning, supporting and inhibiting factors, and its impact on students’ learning outcomes. This study employed a descriptive qualitative approach involving Islamic Religious Education teachers, regular students, students with special needs, and the school principal as research subjects. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The data were analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that the implementation of inclusive learning was carried out through three stages: planning, implementation, and evaluation based on differentiated instruction. Teachers applied individualized learning strategies, flexible grouping, various learning media such as visual, audio, and kinesthetic media, and authentic assessment emphasizing processes and portfolios. Supporting factors included school policy support, teacher readiness, adequate facilities and infrastructure, and parental support, while inhibiting factors included limited time, imbalance in teacher-student ratio, differences in students’ abilities, and limited special learning media. The implementation of inclusive learning significantly improved students’ cognitive, affective, and psychomotor learning outcomes. This study concludes that inclusive learning in Islamic Religious Education is effective in improving students’ holistic learning outcomes and supports the realization of fair and inclusive Islamic education for all learners.
The Concept of Khuruj and its Relationship to Family Maintenance Among Tabligh Jamaat Members Marina Marina; Syarifuddin Elhayat; Sumiati Sumiati
Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan Vol 15, No 1 (2025): Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan
Publisher : Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/taushiah.v15i1.14289

Abstract

This study aims to analyze the fulfillment of family financial support by husbands who undertake khuruj as part of the missionary activities of Jamaah Tabligh at Markaz Madani, North Sumatra, and to examine it from the perspectives of Islamic law, the Marriage Law, and the Compilation of Islamic Law. This study employed an empirical method with a qualitative approach and a case study design. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving the Amir, religious teachers, Jamaah Tabligh members who had participated in khuruj, and their wives. Data were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, while data validity was established through source and technique triangulation. The findings indicate that khuruj is not regarded as a reason for husbands to neglect their obligation to provide financial support for their families. Before departure, members generally prepare their families’ needs, save money, adjust the duration of khuruj to their financial capacity, and discuss the plan with their wives. This practice is generally consistent with marriage law and the Compilation of Islamic Law as long as the needs of wives and children remain adequately fulfilled. Thus, maintaining a balance between missionary activities and family responsibilities is essential in conducting khuruj.
Legal Certainty for Stepchildren to Obtain Mandatory Bequests: Analysis of the Decision of the Serdang Bedagai Religious Court No. 655/Pdt.G/2024/PA.Srh. Yuni Irawan; Abu Bakar; Sumiati Sumiati
Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan Vol 15, No 1 (2025): Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan
Publisher : Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/taushiah.v15i1.14257

Abstract

This study aims to analyze the legal position of stepchildren within the Islamic inheritance system and their legal certainty in obtaining a compulsory bequest based on the Decision of the Serdang Bedagai Religious Court Number 655/Pdt.G/2024/PA.Srh. This study employs normative legal research using statutory, conceptual, and case approaches, supported by interviews with legal practitioners and Islamic law experts. The findings indicate that stepchildren are not normatively classified as heirs because they have no blood relationship with the deceased. Article 209 of the Compilation of Islamic Law regulates compulsory bequests only for adopted children and adoptive parents and does not explicitly regulate stepchildren. In the case examined, the majority of the judges rejected the application for a compulsory bequest for the stepchildren based on a normative interpretation of Article 209 of the Compilation of Islamic Law. Conversely, the dissenting opinion opened the possibility of granting a compulsory bequest by considering emotional closeness, upbringing, contribution, and social relationships between stepchildren and the deceased. Supreme Court Circular Letter Number 7 of 2012 also indicates that stepchildren may receive a compulsory bequest on a discretionary basis. This condition demonstrates that the legal certainty of stepchildren remains relative and case-specific. Therefore, clearer legal guidelines are required to establish a balance between legal certainty, substantive justice, and legal utility.
Islamic Legal Review of Divorce Through Whatsapp Chat: Case Study of Decision Number 3045/Pdt.G/2023/PA. Mdn Siti Aulia Rahma; Jamaluddin Jamaluddin; Sumiati Sumiati
Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan Vol 15, No 1 (2025): Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan
Publisher : Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/taushiah.v15i1.14355

Abstract

This study analyzes the Islamic legal review of divorce pronounced through WhatsApp chat in Decision Number 3045/Pdt.G/2023/PA.Mdn and the factors underlying it. This field research applied normative and sociological approaches. Data came from interviews with judges and a judicial case analyst, literature study, and decision documentation. Content analysis involved data reduction, display, and conclusion drawing, with triangulation for credibility. The findings show that WhatsApp divorce may be valid under Islamic law when the sender is authenticated, the wording is explicit, the message is sent consciously without coercion, and the husband's genuine intention is established. The message constitutes written divorce, yet under Indonesian positive law it functions only as evidence; dissolution of marriage requires a court decision. The underlying factors included prolonged conflict, failure to provide material and emotional maintenance, financial dishonesty, poor communication, the husband's disappearance, infidelity, separation since 2021, breach of the conditional divorce pledge, and failed reconciliation. WhatsApp was therefore not the primary cause of divorce, but the medium used to communicate a decision after the marriage had irreversibly broken down and reconciliation no longer appeared realistically possible.
Reconstruction of the Management Model of Pusako Tinggi from the Perspective of Islamic Law Fikri Aqil; Syarifuddin Elhayat; Sumiati Sumiati
Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan Vol 15, No 2 (2025): Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan
Publisher : Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/taushiah.v15i2.14356

Abstract

This study analyzes control rights over pusako tinggi under Minangkabau custom, its legal status when no successor to customary authority remains, and its transformation into public waqf. The legal research applies normative juridical and conceptual approaches, supported by statutory analysis and a socio-legal inquiry in Jorong Marambung, Nagari Baringin, Palembayan District, Agam Regency. Data were obtained through literature review, in-depth interviews, and documentation, then analyzed through reduction, narrative display, conclusion drawing, and verification. The findings show that pusako tinggi remains the collective property of the clan, while the mamak kepala waris holds a managerial trust. The absence of a successor does not automatically convert it into individual property while the clan continues to exist. Formally, pusako tinggi is not family waqf because it was not established by a founder, intention, and waqf declaration, although its features resemble a quasi-family endowment. Transformation into public waqf is possible when management fails, deliberation secures approval from the clan, customary leaders, and Nagari Customary Council, and a waqf pledge and nazir appointment follow. This model preserves the asset and connects customary with Islamic law.
FACTORS INFLUENCING THE LOW INTEREST IN MARRIAGE AMONG YOUNG PEOPLE Khairul Ilham; Jamaluddin Jamaluddin; Sumiati Sumiati
Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan Vol 15, No 1 (2025): Taushiah: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Kemasyarakatan
Publisher : Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/taushiah.v15i1.14352

Abstract

This study analyzes young people’s views of marriage and the factors influencing low interest in marriage in Medan Johor District. It employed a qualitative field research approach. Data were obtained through interviews and documentation involving 12 informants aged 19–25 years who resided in Medan Johor District and were selected purposively. The data were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings show that informants generally viewed marriage positively as worship, a sacred bond, and a means of establishing a harmonious family. Nevertheless, they considered readiness more important than age when determining the appropriate time to marry. Low interest in marriage was primarily influenced by unstable economic conditions, living costs, and concerns about meeting future household needs. Other factors included mental and emotional readiness, education, employment and career orientation, family experiences, social environment, and exposure to social media narratives concerning conflict, divorce, infidelity, and domestic violence. The findings confirm that postponing marriage does not represent rejection of marriage as an institution; rather, it reflects young people’s strategy to attain multidimensional readiness before establishing a household. Such readiness