Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISA PENGARUH SUHU TEMPERING 390, 420, 450C DENGAN SUHU OLI QUENCHING 50C PADA BAJA SUP 9 MATERIAL SUPPLIER JTS DAN JIANYING TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO M Sochieb; Meryanalinda; Komsim
Wahana Teknik Vol 11 No 1 (2022): Wahana Teknik
Publisher : Wahana Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri otomotif Indonesia telah menjadi sebuah pilar krusial didalam sektor manufaktur di negara ini sebab banyak perusahaan kendaraan beroda empat yang terkenal membuka kembali pabrik-pabrik manufaktur kendaraan beroda empat atau menaikkan kapasitas produksinya di Indonesia. Oleh sebab itu dengan meningkatnya penjualan kendaraan beroda empat maka semakin tinggi juga permintaan sparepart baik untuk perakitan kendaraan beroda empat baru maupun kendaraan beroda empat yang sudah lama. Salah satu sparepart dalam perakitan kendaraan beroda empat diantaranya merupakan pegas atau sistem suspensi pada kendaraan beroda empat. Pada penelitian ini dilakukan penelitian terhadap sifat mekanis serta strutur mikro baja SUP 9 dari supplier JTS (Kode Flatbar JSRE) dan supplier Jianying (Kode Flatbar JYRE) dengan mengunakan suhu tempering 390, 420, 4500C dengan oli quenching 500C. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan pengaruh parameter setting temperature tempering furnace pada produk JTS dan Jianying yaitu pada produk JTS didapatkan hasil pada suhu variable N3 produk after tempering sesuai spesifikasi kekerasan produk sebesar 429-487 HV (hardness vickers) dengan tensile strength 151,771 Mpa. Sedangkan pada produk Jianying pada suhu variable N2 produk after tempering sesuai spesifikasi kekerasan produk sebesar 429-483 HV (hardness vickers) dengan tensile strength 155,794 Mpa. Sehingga agar terhindar dari kegagalan proses heat treatment maka pada material JTS dan Jianying diberikan identitas agar memudahkan dalam setting temperature tempering furnace.
ANALISA PENGARUH SUHU TEMPERING 390, 420, 450C DENGAN SUHU OLI QUENCHING 50C PADA BAJA SUP 9 MATERIAL SUPPLIER JTS DAN JIANYING TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO M Sochieb; Masrufaiyah; Meryanalinda
Wahana Teknik Vol 11 No 2 (2022): wahana teknik
Publisher : Wahana Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri otomotif Indonesia telah menjadi sebuah pilar krusial didalam sektor manufaktur di negara ini sebab banyak perusahaan kendaraan beroda empat yang terkenal membuka kembali pabrik-pabrik manufaktur kendaraan beroda empat atau menaikkan kapasitas produksinya di Indonesia. Oleh sebab itu dengan meningkatnya penjualan kendaraan beroda empat maka semakin tinggi juga permintaan sparepart baik untuk perakitan kendaraan beroda empat baru maupun kendaraan beroda empat yang sudah lama. Salah satu sparepart dalam perakitan kendaraan beroda empat diantaranya merupakan pegas atau sistem suspensi pada kendaraan beroda empat. Pada penelitian ini dilakukan penelitian terhadap sifat mekanis serta strutur mikro baja SUP 9 dari supplier JTS (Kode Flatbar JSRE) dan supplier Jianying (Kode Flatbar JYRE) dengan mengunakan suhu tempering 390, 420, 4500C dengan oli quenching 500C. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan pengaruh parameter setting temperature tempering furnace pada produk JTS dan Jianying yaitu pada produk JTS didapatkan hasil pada suhu variable N3 produk after tempering sesuai spesifikasi kekerasan produk sebesar 429-487 HV (hardness vickers) dengan tensile strength 151,771 Mpa. Sedangkan pada produk Jianying pada suhu variable N2 produk after tempering sesuai spesifikasi kekerasan produk sebesar 429-483 HV (hardness vickers) dengan tensile strength 155,794 Mpa. Sehingga agar terhindar dari kegagalan proses heat treatment maka pada material JTS dan Jianying diberikan identitas agar memudahkan dalam setting temperature tempering furnace.
ANALISA LAJU KOROSI PADA PIPA CARBON STEEL A.106. GR.B PADA PROSES PRODUKSI MINYAK BUMI DI LEPAS PANTAI Meryanalinda; Agus Umartono; Mustafa Sihombing
Wahana Teknik Vol 11 No 2 (2022): wahana teknik
Publisher : Wahana Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the production process of oil and gas, corrosion is one of the factors to considered in planning the pipe will be used to adjust to the needs of operation. In this study, the pipe material used in the oil and gas production process is A.106. GR.B. To prevent potential failure or damage during operation, the corrosion rate is monitored using the weight loss method with a coupon sample and also measuring the pipe wall thickness with Ultrasonic Thickness Measurement (UTM). The pipes taken as data are 4 production well pipes, namely Well Z2, Well Z3, Well Z4 and Well Z5. The results of data processing showed that the corrosion rate value on ell Z5 is 3.20 mpy, Z3 is 1.95 mpy, Z4 is 1.82 mpy and Z2 is 0.92 mpy. While the corrosion rate values obtained through calculation with pipe wall thickness measurements are well Z5 which 4.01 mpy, Z3 is 3.24 mpy, Z4 is 3.20 mpy and Z2 is 1.50 mpy. Base on the assessment of the corrosion rate with the two methods above, the key is that the corrosion rate by measuring the thickness of the pipe wall has a greater value due to external corrosion the occurs in the well pipe of the production process. From the results of the corrosion rate value obtained, well pipes that have greater corrosion value will have a shorter remaining pipe life.
PERANCANGAN MESIN PENDINGIN UNTUK PENYIMPANAN UDANG KAPASITAS 5 Kg DENGAN PRINSIP KOMPRESI UAP Putri Sundari; Meryanalinda; Suhartono
Jurnal Penelitian Multidisiplin Vol 2 No 6 (2023): Jurnal Penelitian Multidisiplin
Publisher : Jurnal Penelitian Multidisiplin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu komoditas utama hasil tambak di Kabupaten Gresik yaitu udang vanami. Hasil panen udang vanami ini perlu disimpan dan diawetkan sebelum diproses untuk berbagai hasil pengolahan pangan dengan cara membekukan produk dibawah titik beku bahan pangan tersebut. Proses pembekuan yang dilakukan dengan menyimpan udang tersebut pada mesin pendingin, hal ini dapat mencegah perkembangan bakteri dan mikroorganisme pada udang. Berdasarkan hal ini, perlu dilakukan perancangan mesin pendingin untuk penyimpanan udang kapasitas 5 Kg dengan sistem kompresi uap sebagai solusi menjaga kualitas udang. Perancangan mesin ini diawali dengan menentuakan dimensi box tempat penyimpanan, perhitungan beban pendinginan, pemilihan komponen, menentukan desain konstruksi alat, pembuatan alat dan uji coba hasil mesin pendingin. Dimensi box penyimpanan yaitu Panjang 40cm, lebar 30cm dan tinggi 40 cm. Hasil perhitungan beban pendinginan evaporator total untuk produk udang yaitu sebesar 238,45 watt. Kapasitas motor kompresor sebesar 1/6 HP atau sebesar 124,33 watt. Jenis refrigerant yang digunakan yaitu R-134a, karena jenis refrigerant ini memiliki nilai ODP 0 dan tidak menyebabkan kerusakan pada lapisan ozon. Hasil perancangan mesin pendingin untuk kapasitas 5 Kg dengan sistem kompresi uap yaitu berdasarkan ploting pada PH diagram yaitu : Kerja kompresor yaitu 96,662 watt, beban panas kondensor sebesar 333,252 watt, dan beban evaporator 236,6 watt. Maka berdasrkan hasil perhitungan beban pada evaporator perancangan mesin pendingin dan perhitungan berdasarkan dari mesin pendingin memiliki selisih 1,85 Watt lebih besar dari data yang direncanakan. Nilai COP hasil perancangan mesin pendingin ini sebesar 2,44.