Nur Rahmad Yahya Wijaya
STIT Al-Karimiyyah Sumenep

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ETIKA ISLAM: Sebuah Kajian Sintesis Multidisipliner Nur Rahmad Yahya Wijaya
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 6 No. 1 (2018): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.33 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v6i1.38

Abstract

Tulisan ini merupakan penelusuran terhadap ukuran etis bagi perbuatan moral yang dicari lewat berbagai kajian, baik dari Barat, maupun dari Islam sendiri. Pertanyaannya adalah apa ukuran yang paling tepat bagi perbuatan moral? Dan, apakah penjelasannya dapat ditelusuri hanya melalui akal saja, ataukah juga memerlukan penjelasan dari wahyu? Kajian Etika Islam ini bukan hanya menguraikan perdebatan di dalam wacana Filsafat Barat, tetapi juga Filsafat Islam; bukan hanya di dalam Etika Barat, tetapi juga di dalam bidang Etika Islam klasik yang termuat di dalam perdebatan teologis Ilm al-Kalam dan Filsafat Islam Abad Pertengahan. Selanjutnya, kaidah kedaruratan Usul al-Fiqh dan Etika Teleologis dapat memberikan penjelasan bagaimana kasus-kasus pelik dan dilematis di dalam realitas pengalaman empiris dapat diselesaikan. Kajian Etika Islam ini disebut multidisipliner karena menggunakan berbagai pendekatan melalui berbagai disiplin keilmuan, dan disebut sintesis karena mengambil ide-ide terbaik yang ditawarkan di dalam pemikiran-pemikiran etika yang dibahas di dalam tulisan ini, dan menggabungkannya menjadi suatu kesatuan yang utuh dan padu.
REKONSILIASI AKAL-WAHYU DALAM FILSAFAT IBN RUSYD Nur Rahmad Yahya Wijaya
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 5 No. 1 (2017): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.284 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v5i1.42

Abstract

Maraknya klaim-klaim kebenaran atas nama Tuhan dan agama dan paksaan atas satu tafsir kebenaran menunjukkan bahwa kedewasaan berakal dan bernalar masih jauh dari yang semestinya. Ketidakdewasaan ini membuat lupa bahwa pemahaman keagamaan, apapun bentuknya, dari siapapun ia disandarkan, dan dari manapun ia berasal, hanyalah tafsir atas wahyu Tuhan. Akhirnya, ini membuat lupa bahwa sebenarnya kebenaran tidak hanya dapat diakses dengan satu tafsir, satu cara, satu bahasa, dan satu pemahaman. Di antara manusia juga ditemukan bahwa kemampuan bernalar tidak sama dan tidak dapat disamakan. Bahwa kebenaran dapat diraih dengan berbagai bahasanya ini juga ditunjukkan oleh ragam bahasa al-Qur’an yang dapat sesuai dengan berjenjangnya ragam kecerdasan manusia. Tulisan ini menghadirkan Ibn Rusyd yang dengan usahanya menunjukkan bahwa sasaran utama wahyu adalah khalayak manusia pada umumnya. Kebenaran yang disampaikan di dalam wahyu, karenanya, lebih memilih bahasa yang dapat cocok untuk semua kalangan. Tetapi jika seseorang bermaksud mencari kebenaran terdalam, ia harus menelusurinya lewat pencarian akal manusia, yang sebenarnya juga merupakan karunia Tuhan bagi umatnya yang terlatih, dan, bagaimanapun, pertentangan akal-wahyu hanyalah kesan di permukaan luar pemahaman yang sempit dan dogmatis.
MERUNTUHKAN FILSAFAT ILMU: SUATU USULAN UNTUK MEMBANGUN FILSAFAT RUMPUN ILMU Nur Rahmad Yahya Wijaya
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 3 No. 1 (2015): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.824 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v3i1.53

Abstract

Tulisan ini merupakan kritik terhadap filsafat ilmu. Tetapi, filsafat ilmu yang dimaksud adalah filsafat ilmu yang masih asli yang berasal dari daerah aslinya di Barat dengan pendekatannya yang positivistik. Kritik terhadap filsafat ilmu ini akan dilakukan dengan cara menguji kecukupan syarat yang harus dipenuhi oleh sistem pemikiran apapun yang namanya filsafat. Dari pengujian ini akan dilihat apakah sistem filsafat ilmu memenuhi syarat-syarat tersebut, dan apakah penyelidikannya terhadap hakikat ilmu sudah memadai bagi semua ilmu. Dan jika tidak, apa yang harus dilakukan terhadap filsafat ilmu. Dari kritik ini kemudian ditawarkan sebuah terobosan baru untuk merumuskan filsafat rumpun ilmu.
PERDEBATAN TEOLOGIS AL-QUR’AN: TEORI DAN IMPLIKASINYA Nur Rahmad Yahya Wijaya
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 4 No. 1 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.195 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v4i1.67

Abstract

Tulisan ini membicarakan perdebatan teologis di antara kelompok Ahl al-H}adi>s\ dan Mu‘tazilah mengenai Al-Qur'an. Apakah Al-Qur'an, sebagai kala>m al-La>h dan merupakan sifat atau perbuatan-Nya? Selain itu, tulisan ini selanjutnya juga melihat beberapa implikasi yang memungkinkan dari perdebatan awal ini. Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa para teolog terbagi ke dalam dua kelompok dalam menetapkan Al-Qur'an sebagai kala>m al-La>h. Kelompok pertama, Ahl al-Sunnah wa al-Jama>‘ah, yang terdiri dari Ibn H}anbal dan H}ana>bilah, al-Asy‘ari> dan Asy‘ariyyah, serta al-Ma>turi>di> dan Ma>turi>diyyah menetapkan bahwa Al-Qur'an, sebagai kala>m al-La>h, adalah qadi>m dan tidak diciptakan. Al-Asy‘ari> menemukan bahwa doktrin kekadiman Al-Qur'an-nya Ibn H}anbal tidak dapat menjelaskan bagaimana sifat Tuhan yang qadi>m ini dapat berhubungan dengan Nabi saw. untuk diwahyukan kepadanya. Dengan demikian, al-Asy‘ari> membagi kalam Tuhan kepada kalam mental dan kalam verbal. Kelompok kedua, kelompok minoritas, yaitu Mu‘tazilah, menegaskan bahwa menganggap Al-Qur'an sebagai kala>m al-La>h yang qadi>m akan membuat pemahaman bahwa ada yang qadi>m lain selain Tuhan itu sendiri.
Perbuatan Moral dan Pertimbangan Batin Ideal: Menelusuri Filsafat Etika di Dalam Studi Islam Nur Rahmad Yahya Wijaya
Kariman: Jurnal Pendidikan Keislaman Vol. 7 No. 1 (2019): Pendidikan dan Kesilaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.996 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v7i1.106

Abstract

Sebagai bagian dari kajian yang membicarakan segala sesuatu ‘sebagaimana seharusnya’, filsafat etika khusus mempelajari perbuatan manusia. Yang ditanyakannya setidaknya tiga hal. Pertama, apa ukuran perbuatan yang tepat? Kedua, ‘apa’ yang seharusnya manusia perbuat? Ketiga, ‘mengapa’ manusia harus berbuat? Pertanyaan kedua dapat dijawab dengan menjawab pertanyaan pertama: yang harus diperbuat manusia adalah perbuatan yang ‘benar’, atau perbuatan yang ‘baik’; dua hal ini merupakan dua hal yang berbeda. Sedangkan pertanyaan ketiga dapat dijawab dengan memberikan alasan yang menjelaskan pertimbangan batin mengapa perbuatan itu dilakukan. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, istilah-istilah teknis di dalam kajian etika, baik yang berasal dari Islam sendiri, maupun yang berasal dari Barat, dipaparkan, dan untuk selanjutnya dijadikan sebagai patokan ideal. Uraian singkat atas aliran-aliran etika dan model etika, baik di dalam filsafat etika Barat, maupun filsafat etika Islam, yang ditemukan di dalam kajian Ilmu Kalam, Filsafat Islam, Tasawuf, dan Ilmu Akhlak demikian juga, dijabarkan. Penjabaran atas aliran-aliran dan model-model etika ini selanjutnya dianalisis, dikritik, dan dicari sintesisnya. Setelah diuraikan sintesisnya, dirumuskan kemudian poin-poin terbaik di antara pemikiran etika tersebut. Dan pertanyaan keempat yang ingin dijawab dalam tulisan ini adalah apa poin-poin terbaik di antara aliran-aliran dan model-model etika tersebut yang dapat dirumuskan menjadi model etika utama di dalam Islam?
Asal-Usul Tasawuf: Sebuah Perdebatan Nur Rahmad Yahya Wijaya; Anwar Rudi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 8 No. 1 (2020): Pendidikan dan Kesilaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.402 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v8i1.124

Abstract

Selama ini lazim diketahui bahwa teori tentang asal-usul tasawuf ada dua. Teori pertama, bahwa tasawuf berasal dari dalam Islam. Teori kedua, bahwa tasawuf berasal dari luar Islam. Dua teori ini besar kemungkinan dihasilkan dari pertanyaan: “Apakah tasawuf itu murni berasal dari dalam Islam, atau dipengaruhi oleh ajaran lain dari luar Islam?” Pertanyaan semacam ini jelas paling mendasar dan paling umum, tetapi cakupannya tidak cukup luas untuk mewadahi berbagai kemungkinan adanya teori lain yang lebih spesifik atau agak berbeda seputar persoalan asal-usul tasawuf. Dengan menambahkan tiga pertanyaan khusus, penelitian ini menemukan lima teori lain tentang asal-usul tasawuf, selain dua teori yang telah tersebut. Teori ketiga, tasawuf berasal dari luar Islam dan bertentangan dengan Islam. Teori keempat, tasawuf berasal dari dalam Islam, kemudian mendapat pengaruh dari luar Islam, dan tetap sesuai dengan Islam. Teori kelima, tasawuf berasal dari dalam Islam, kemudian mendapat pengaruh dari luar Islam, dan bertentangan dengan Islam. Teori keenam, sebagian ajaran tasawuf berasal dari Islam dan sebagiannya lagi berasal dari luar Islam. Teori ketujuh, tasawuf berasal dari masa setelah generasi utama Islam.
أهمية مهارة الكلام Bambang Hermanto; Anwar Rudi; Nur Rahmad Yahya Wijaya
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 7 No. 2 (2019): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.679 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v7i2.137

Abstract

الكلام مهارة إنتاجية تطلب من المعلم القدرة على استخدام الأصوات بدقة و التمكن من الصيغ النحوية و نظام ترتيب الجمل و الكلمات حتى تساعد على التعبير عما يريده المتكلم فى مواقف الحديث أي إن الكلام عبارة عن عملية إدراكية تتضمن دافعا للتكلم ثم مضموما للحديث.كما أن الكلام يعتبر عملية إنفعالية إجتماعية تتم تبين طرفين هما المتكلم والمخاطب بحيث يتبادلان الأدوار من وقت لأخر فيصبح المتحدث سامعا والسامع متحدثا، ويحتاج الحديث إلى النطق ويحتاج النطق إلى العمليات الذهنية المرتبطة بالتعبير الشفهي ولذلك فليس لمتحدث واحد سيطرة تامة على الموقف من حيث اختيار الأفكار والموضوعات. معنى هذا أن الكلام هو عملية تبدأ صوتية وتنتهى بإتمام عملية إتصالية مع متحدث من إبناء اللغة فى موقف إجتماعي ومن هنا فالفرض من الكلام نقل المعنى