Karnadi Hasan, Karnadi
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strengthening The Students' Value of Diversity in Learning in Global Era Hasan, Karnadi
International Journal of Active Learning Vol 2, No 2 (2017): October 2017
Publisher : International Journal of Active Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.879 KB) | DOI: 10.15294/ijal.v2i2.10799

Abstract

Religious education as the basis of formation of students is basically a form of internalization of the value of faith and devotion (Imtaq) through the vehicle of school education. The importance of the Imtaq coaching, because religious education paying attention to all aspects of student potential (Supriyadi, 2004: 123), which includes manners (inner strength, character), mind (intellect), and body (Dewantara, 1977); Cognitive, affective, and psychomor (Blomm et al., 1981); Thinking, acting, and feeling (Gable, 1986); Smart and good (Lickona, 1992); Intelligence quotiont, emotional quotion, and spiritual quotiont (Agustian, 2001), to be a faithful and devout human being to God Almighty, to be noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent and to be a democratic and responsible citizen (UUSPN Number 20 Year 2003, Article 3). The implementation of religious education in schools as an effort to develop the values and attitudes of religious students, will be effective when using an integrative approach. Such approaches include: (1) creation of a school culture which is conducive to the growth of Imtaq, (2) Imtaq material integration into other non-religious education subjects, (3) extracurricular activities that contain Imtaq, and (4) Cultivate school cooperation with parents and community in the guidance of Imtaq students. Strengthening students' religious values in schools can occur from: (1) creation of school culture, which includes school discipline, learning facilities, and teacher competence; (2) learning process of religious education; (3) learning result competence; And (4) the religiosity of students in the community related to belief, religious practices, and religious behavior (the consequences). This article is the main idea of strengthening the values of religious students as an effort to establish noble character and enrichment of information for observers of religious education in schools.
MODEL REHABILITASI SOSIAL GELANDANGAN PSIKOTIK BERBASIS MASYARAKAT (STUDI KASUS DI PONPES/PANTI REHSOS NURUSSLAM SAYUNG DEMAK) Hasan, Karnadi; Al-Kundarto, Sadiman
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1105.437 KB) | DOI: 10.21580/at.v6i2.722

Abstract

Ponpes/Panti REHSOS ?Nurusssalam? Sayung Demak yang menjadi lokus dari penelitian ini merupakan salah satu panti rehabilitasi sosial yang dikelola langsung oleh masyarakat dan patut menjadi model rujukan bagi rehabilitasi sosial para gelandangan-psikotik di Jawa Tengah atau bahkan bisa menjadi rujukan ?Nasional?. Riset ini menyimpulkan bahwa hasil rehabilitasi sosial terhadap gelandangan psikotik yang diberikan di Ponpes/Panti REHSOS ?Nurusssalam? Sayung Demak lebih komprehensip dibanding 2 (dua) panti lain yang menjadi pembanding karena rehabilitasi yang diberikan di sini meliputi; bimbingan sosial, medik, herbal, fisik, rekreatif dan pemberdayaan di bidang ekonomis produktif dengan terapi religius model pondok pesantren lebih manusiawi, karena memandang manusia secara utuh meliputi : fisik, mental maupun sosial, berdampak positif pada upaya secara langsung menghilangkan stigma masyarakat, sehingga tingkat kambuh kembali relatif kecil;Selain itu, tingkat penyembuhan klien di Panti Nurusslam lebih optimal, terlebih-lebih setelah difasilitasi Hydrotherapy by shower lebih efektif dan efisien. Karena terdapat kenaikan jangkauan pelayanan dari model manual hanya bisa melayani 30 orang per malam dengan 3 shower bisa menjadi 90 orang ( 300 % ) per malam.Penggunaan Hydrotherapy by shower dapat merangsang kesadaran syaraf sensoris, sehingga klien dapat mudah tidur dan selanjutnya merangsang tingkat kesadaran diri yang tinggi yang berdampak positif untuk mudah disembuhkan.
Revitalisasi karakter islami siswa melalui program Tahsinul Ibadah Kafa, Choiri; Hasan, Karnadi; Nita, Nita Yuli Astuti
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 18 No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v18i2.19877

Abstract

Various studies show that globalization and technological advances have an impact on the decline in the religiosity of the younger generation. To overcome this, Al Azhar 16 Semarang Islamic High School implemented the Tahsinul Ibadah Program as an effort to revitalize students' Islamic character through systematic worship habits. This study aims to analyze the implementation of the program and its impact on changes in student behavior, using a qualitative case study approach and data collection through observation, interviews, and documentation. The subjects consisted of PAI teachers, vice principal, and six active students from various grade levels. The results showed that the program succeeded in internalizing Islamic values through routine activities such as compulsory prayers in congregation, sunnah prayers, tahsin and tahfidz Al-Qur'an, recitation of the three-language pledge, and religious interactions between teachers and students. Positive changes are seen in the aspects of religiosity, discipline, and responsibility of students. The main contribution of this study is an integrative school culture-based Islamic character building model, which can be adapted by other Islamic education institutions. The sustainability of the program requires collaboration with parents as well as local context adjustment. Abstrak Berbagai studi menunjukkan bahwa globalisasi dan kemajuan teknologi berdampak pada menurunnya religiusitas generasi muda. Untuk mengatasi hal ini, SMA Islam Al Azhar 16 Semarang menerapkan Program Tahsinul Ibadah sebagai upaya merevitalisasi karakter Islami siswa melalui pembiasaan ibadah secara sistematis. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi program tersebut dan dampaknya terhadap perubahan perilaku siswa, dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus serta pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek terdiri dari guru PAI, wakil kepala sekolah, dan enam siswa aktif dari berbagai tingkat kelas. Hasil menunjukkan bahwa program berhasil menginternalisasi nilai-nilai Islami melalui kegiatan rutin seperti sholat wajib berjamaah, sholat sunnah, tahsin dan tahfidz Al-Qur’an, pembacaan ikrar tiga bahasa, serta interaksi religius antara guru dan siswa. Perubahan positif terlihat dalam aspek religiusitas, kedisiplinan, dan tanggung jawab siswa. Kontribusi utama studi ini adalah model pembentukan karakter Islami berbasis budaya sekolah yang integratif, yang dapat diadaptasi oleh lembaga pendidikan Islam lain. Keberlanjutan program memerlukan kolaborasi dengan orang tua serta penyesuaian konteks lokal.