Alfathri Adlin, Alfathri
Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STFD) Jakarta Jl. Cempaka Putih Indah No. 100-A, Jembatan Serong, Rawasari, Cempaka Putih Barat, DKI Jakarta 10560, Indonesia. Anggota Forum Studi Kebudayaan FSRD

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Michel Foucault: Kuasa/Pengetahuan, (Rezim) Kebenaran, Parrhesia Adlin, Alfathri
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i1.1694

Abstract

Berbeda dengan para filosof sejarah yang lazimnya membahas watak perkembangan sejarah, teori sejarah, arah dan kecenderungannya, kubu-kubu kekuatan di balik peristiwa sejarah dan sebagainya, Foucault sama sekali berbeda. Foucault tidak menulis “tentang sejarah” tetapi menulis banyak hal “dalam sejarah”. Setiap persoalan selalu dilihatnya dalam hubungan yang rumit dengan pelbagai unsur sosial lain—politik, kekuasaan, kepentingan, gender, pemikiran, ideologi dan sebagainya—segagai sistem keseluruhan berpikir masyarakat yang disebut “episteme”. Apa yang kita pandang sebagai kebenaran dalam pelbagai diskursus (penalaran melalui bahasa), baik itu diskursus ilmiah, rapat-rapat, pidato politik, diskusi, dst. tidaklah lepas dari pengaruh episteme ini. Tulisan ini memperlihatkan bagaimana berbagai diskursus dalam setiap masyarakat melahirkan pengetahuan, kuasa, dan kebenaran dalam suatu hubungan sirkular, sebuah rezim kebenaran/kekuasaan tertentu yang berkembang dalam suatu periode dan berubah atau berganti secara total dalam tahapan periode lainnya.
"Neraka adalah (Account) Orang Lain” dan Kebenaran Eksistensial : Membaca Ulang Pemikiran Jean-Paul Sartre di Era Media Sosial serta Menelusuri Kontribusinya Bagi Estetika Adlin, Alfathri
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i2.1710

Abstract

Perubahan pemikiran dan bahkan juga sikap politik merupakan suatu hal yang biasa terjadi pada banyak pemikir. Søren Aabye Kierkegaard, misalnya, sering menulis dengan menggunakan nama pena yang berbeda dalam berbagai karyanya, dan kemudian dalam buku terbarunya, dia malah mengkritik pemikirannya sendiri di buku sebelumnya. Kita juga bisa melihat bagaimana para pemikir dari jalur strukturalisme beralih ke jalur post-strukturalisme di era berikutnya. Begitu juga dengan Sartre. Pernah pada satu masa dia mendukung sepenuhnya rezim Stalin, dan bahkan memujinya, namun di akhir masa hidupnya dia pun menarik kembali dukungannya. Begitu pula soal sikapnya terhadap Hitler dan NAZI, Sartre menganggapnya tidak berbahaya, padahal saat itu dia sendiri sedang menempuh studi di Jerman dan seharusnya bisa menyaksikan langsung dari dekat brutalnya ideologi NAZI; dan benar saja, ternyata pandangannya itu memang terbukti salah di kemudian hari. Bahkan, dalam pemikiran filosofisnya sendiri, Sartre pun mengalami perubahan mulai dari masa pemikiran filosofis awal yang menekankan kebebasan individu serta relasi antar individu yang saling berubah di masa akhir hayatnyayang mendekati Marxisme dan kesetiakawanan kelompok.