Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Geoteknik Penyanggah Batuan Development Biggosan Tambang Bawah Tanah PT. Freeport Indonesia, Kabupaten Mimika, Papua Tengah Abd Rahim; Nilam Sry Putri
Jurnal Sosial dan Teknologi Terapan AMATA Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Politeknik Amamapare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55334/sostek.v2i2.154

Abstract

Seluruh hal yang berhubungan dengan kajian serta evaluasi geoteknik dan karekteristik batuan akan bermuara pada pemilihan metode penambangan yang tepat termaksud rekayasa sistem penyanggah yang sesuai. Ukuran dimensi bukaan beserta tata letak tambang ini yang kemudian memberikan pengaruh terhadap stabilitas dan kebutuhan penanganan serta pengelolaan dari sisi aspek geomekanis. Pengolahan mekanis akan kemudian tidak terlepas dari kebutuhan rekayasa penyanggah batuan yang disesuaikan dengan perilaku dari batuan setempat saat menerima beban. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tipe kelas batuan, menentukan tipe penyanggah batuan dari sistem RMR. Metode dalam penelitian ini dilakukan langsung di lapangan menggunakan parameter geomekanika sistem RMR melalui pembobotan, Metode penelitian lapangan dengan cara melakukan mapping geoteknik menggunakan parameter rock mass rating. yaitu data rock condition, data rock strength, data rock quality designation, data spasi of diskontinyu, data condition of diskontinyu, data ground water, data orientasi of diskontinyu. Data tersebut kemudian dilakukan analisis untuk menentukan jenis penyangga berdasarkan hasil data di lapangan. Berdasarkan klasifikasi geomekanik dengan menggunakan sistem RMR, massa batuan di area tambang bawah tanah Biggosan, nilai kuat tekan batuan berkisar 8 Kn (point load index) tergolong batuan kuat, Rock quality designation 61% (sedang), spasi discontinuity total 1-3 m, kondisi diskontinuity rougness sedikit kasar dengan nilai 3 point, separation 1-5 mm dengan rating 1 point, contuinity 1-3meter nilai 4 point, weathring sedikit lapuk dengan adanya butiran pada joint nilai 5 point, infilling cukup keras untuk material pengisi <5 mm nilai 4 point, kondisi air tanah dengan nilai bobot 7 (basah), orientasi discontinuity sejajar dengan arah terowongan kondisi ini membuat bidang lemah untuk batuan sehingga memiliki faktor terkoreksi -10. Setelah dilakukan jumlah pembobotan dan seluruh parameter maka didapatkan untuk nilai RMR 49 kelas batuan III klasifikasi batuan sedang. dengan menggunakan beberapa rumus persamaan serta mengacu pada rekomendasi penyanggah sistem RMR dari bieniawski. jenis penyangga rock bolt dengan panjang 4meter sebanyak 13 pcs spasi 1.5meter dilapisi semen semprot (shotcrate) 75 mm.
Studi Inklusi Fluida Terhadap Endapan Mineral Pada Prospek Tarra’ Awak Mas, Sulawesi Selatan Nilam Sry Putri
Jurnal Sosial dan Teknologi Terapan AMATA Vol. 3 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Politeknik Amamapare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55334/sostek.v3i1.199

Abstract

Pulau Sulawesi memiliki morfologi yang terdiri dari dataran dan pegunungan, dengan puncak tertinggi mencapai ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut. Secara geografis, wilayah ini terletak di antara 3⁰21’30” hingga 3⁰22’15” lintang selatan dan 120⁰6’45” hingga 120⁰7’45” bujur timur. Daerah ini terdiri dari batuan dasar metamorf dan batuan sedimen yang lebih muda. Litologi utama di daerah penelitian adalah batuan dari Formasi Latimojong Kapur Akhir, yang meliputi filit, slate, batuan vulkanik basa-intermediet, batugamping, dan sekis yang mewakili palung bagian depan dari urutan flysch. Beberapa peneliti telah melakukan penelitian di Awak Mas namun, belum ada yang meneliti terkait krakteristik mineralisasi pada wilayah tersebut secarakhusus pada prospek Tarra’. Metode inklusi fluida dapat membantu dalam mendeskripsikan keunikan sampel melalui total spektrum fluida, yang kemudian memungkinkan interpretasi terhadap pembentukan inklusi fluida yang sering terkait dengan proses di zona penunjaman pada mantel atas bumi. Informasi ini dapat menceritakan sejarah geologi dalam berbagai rentang waktu. Data yang diberikan mengenai nilai temperature melting (Th) dan temperature homogenisasi dari sampel urat kuarsa menunjukkan adanya variasi yang signifikan dalam kisaran nilai. Temperature melting berkisar dari -0,9°C sampai -0,6°C, sedangkan temperature homogenisasi berkisar dari 260°C sampai 330°C. Rata-rata keseluruhan Th adalah -0,6°C, sementara rata-rata keseluruhan temperature homogenisasi adalah 298°C. Dari data ini, disimpulkan bahwa evolusi fluida pembawa mineralisasi di lokasi penelitian melibatkan proses percampuran dengan fluida yang memiliki salinitas rendah, yang kemungkinan besar merupakan fluida air tanah atau fluida meteorik. Hal ini dapat didukung oleh fakta bahwa temperature homogenisasi, yang mengindikasikan kondisi di mana fluida menjadi homogen, terjadi pada suhu yang relatif rendah, yang sesuai dengan kondisi yang biasanya ditemukan pada fluida air tanah atau meteorik.