Eleven Sihotang
Sekolah Tinggi Diakones HKBP

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Melatih Anak Membaca, Menulis dan Berhitung di Desa Sianipar Siopatopat Balige Eleven Sihotang; Derselli P. Silitonga; Sri Rahayu Sitorus; Devia Sinaga
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6, No 1: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/realcoster.v6i1.244

Abstract

Education is a help given by educators to educators to develop their interests or talents. Education includes four things, one of which is head education, which is training thinking intelligence. Reading, writing and numeracy are part of head education. In this service, the team found that there are still many children in Sianipar Siopatopat Balige village who have not been able to read, write and count smoothly while they have undergone formal education. This happens due to several factors including the economic existence of parents who are not enough to provide additional tutoring for children, a distance of about 2 km from the residence to the place of study which makes it difficult for children to adjust the time and learning facilities that are still relatively minimal, therefore in this service activity the team conducts reading training, write and count to children in the village of Sianipar Siopatopat Balige. The purpose of this activity is to further increase children's knowledge and insight in writing, reading and arithmetic. This PkM activity is carried out by means of meetings that have been scheduled for ten meetings and it is hoped that children will be helped in doing the tasks given by teachers in formal schools.Keywords: counting; education; read; write AbstrakPendidikan merupakan pertolongan yang diberikan pendidik kepada naradidik untuk mengembangkan minat ataupun bakat yang dimiliki oleh seseorang. Pendidikan mencakup empat hal salah satunya adalah pendidikan head yaitu melatih kecerdasan berpikir. Membaca, menulis dan berhitung merupakan bagian dari pendidikan head. Dalam pengabdian ini tim menemukan masih banyak anak-anak di desa Sianipar Siopatopat Balige yang belum dapat membaca, menulis dan berhitung dengan lancar sementara mereka telah menjalani pendidikan formal. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya keberadaan ekonomi orang tua yang tidak cukup untuk memberikan les tambahan bagi anak, jarak tempuh sekitar kurang lebih 2 Km dari kediaman ke tempat belajar yang menyebabkan anak-anak sulit untuk menyesuaikan waktu dan fasilitas belajar yang masih tergolong minim, oleh karena itu dalam kegiatan pengabdian ini tim melakukan pelatihan membaca, menulis dan berhitung kepada anak-anak di desa Sianipar Siopatopat Balige. Adapun tujuan kegiatan ini dilakukan adalah untuk semakin meningkatkan pengetahuan dan wawasan anak-anak dalam menulis, membaca dan berhitung. Kegiatan PkM ini dilakukan dengan cara adanya pertemuan yang telah dijadwalkan selama sepuluh kali pertemuan dan diharapkan anak-anak terbantu di dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru di sekolah formal.Kata Kunci: berhitung; pendidikan; membaca; menulis
Makna Present, Listening dan Touching dalam Pendampingan Pasien Hemodialisa: Tinjauan Teori Anton Boisen (Studi Literatur) Yuni Cahyati Siregar; Elkana Siburian; Reni Hutauruk; Eleven Sihotang
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 7, No 1 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v7i1.367

Abstract

AbstractThis study examines the meaning of presence, listening, and touching in pastoral care for hemodialysis patients through Anton Boisen’s theory of the living human document. Hemodialysis patients undergo long-term therapy that affects not only their physical condition but also their psychological and spiritual well-being, including anxiety, despair, mental fatigue, and loss of life meaning. This research employs a qualitative method with a literature review approach, drawing on theological, pastoral, and healthcare-related sources. The findings show that presence provides security and reduces loneliness, listening creates space for patients to express their lived experiences, and touching functions as non-verbal communication that conveys empathy and emotional support. These three aspects enrich holistic pastoral care and help hemodialysis patients rediscover hope, meaning, and overall well-being amid their suffering. AbstrakPenelitian ini membahas makna kehadiran (present), mendengarkan (listening), dan sentuhan (touching) dalam pendampingan pastoral pasien hemodialisa berdasarkan teori Anton Boisen tentang the living human document. Pasien hemodialisa menghadapi terapi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis dan spiritual, seperti kecemasan, keputusasaan, kelelahan mental, serta hilangnya makna hidup. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur terhadap sumber-sumber teologis, pastoral, dan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran memberi rasa aman dan mengurangi kesepian, mendengarkan membuka ruang bagi pasien untuk mengekspresikan pengalaman hidupnya, sedangkan sentuhan menjadi komunikasi non-verbal yang menghadirkan empati dan dukungan emosional. Ketiga aspek tersebut memperkaya pendampingan pastoral yang holistik, serta menolong pasien hemodialisa menemukan kembali harapan, makna hidup, dan kesejahteraan secara menyeluruh.
Memaknai Lukas 10:25-37 Melalui Lensa Diakonia dan Pendampingan/Konseling Pastoral Eleven Sihotang; Sari Asi Situmorang
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.102.1389

Abstract

AbstractThis study explores the integration of diakonia and pastoral care/counseling in the interpretation of Luke 10:25–37. The research employs Reader-Response Criticism (RRC) as its methodological framework, involving twenty-five students from Sekolah Tinggi Diakones HKBP Balige as participants. The aim of the study is to demonstrate that diakonia and pastoral counseling constitute two interrelated dimensions of practical theology. The findings reveal that the relationship between diakonia and pastoral care/counseling is exemplified in the Samaritan’s compassionate response expressed through concrete actions toward those in need. More specifically, the study underscores that both diakonia and pastoral care/counseling are realized through tangible acts of service rather than mere verbal expressions. An additional finding highlights the processual nature of care, in which the one being helped (the counselee) gradually attains independence and empowerment. Ultimately, such integration fosters a pastoral praxis that moves individuals from dependence to self-reliance, embodying the transformative essence of diakonia and pastoral care within the Christian community.  AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengetengahkan integrasi diakonia dengan pendampingan/konseling pastoral dalam membaca Lukas 10:25-37. Metode yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Reader Respons Critism (RRC) dengan melibatkan dua puluh lima orang mahasiswa Sekolah Tinggi Diakones HKBP. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bahwa diakonia dan konseling pastoral adalah dua bidang ilmu teologi praktika yang integral. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara diakonia dengan pendampingan/konseling pastoral dilihat ketika orang Samaria menolong dengan beralaskan belas kasih dan melalui tindakan nyata terhadap orang yang membutuhkan. Lebih jelasnya hendak ditekankan bahwa diakonia dan pendampingan/konseling pastoral diwujudnyatakan dengan bertindak secara langsung bukan hanya lewat kata-kata. Hal menarik lainnya yang memperlihatkan keterkaitan diakonia dan pendampingan/konseling pastoralyaitu adanya tahapan dalam tindakan pemedulian yang dilakukan. Dalam arti, konseli atau orang yang ditolong akan sampai kepada tahap memandirikan dan memberdayakan. Dengan demikian, tidak akan bergantung kepada konselor atau pelaku diakonia.