Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Expansi Morfologi Perkotaan di Kota Pelabuhan Makassar Dara Fitriani; Naoki Tsurusaki; Asta Juliarman Hatta
Jurnal Teknik Vol 20 No 2 (2022): Jurnal Teknik
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37031/jt.v20i2.309

Abstract

Artikel ini menelusuri perkembangan morfologi antarmuka kota pelabuhan Makassar selama berabad-abad dalam empat periode waktu yang relevan secara historis yang terbentang dari awal abad ke-20 hingga saat ini. Makassar merupakah kota pasca industri yang memiliki konsep kota waterfront yang menginspirasi pembentukan kota tepi laut lainnya di Indonesia. Proyek reklamasi terbesar di Indonesia sedang dibangun di kota Makassar sebagai kawasan pusat bisnis di Indonesia. Namun, belum banyak penelitian yang dilakukan untuk mengkaji lebih detail tentang kondisi morfologi perkotaan di kota Pelabuhan. Penelitian ini akan membahas proses perubahan expansi morfologi kota Makassar dari waktu ke waktu dari segi tata guna lahan, blok struktur bangunan dan struktur spasial. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kota pelabuhan di kota Makassar telah mengalami perubahan dan perluasan wilayah yang terbagi dalam 4 (empat) Periode waktu yaitu pembangunan, rekonstruksi, revitalisasi dan regenerasi. Jaringan struktur jalan di Kota Makassar secara morfologis terus berkembang tidak teratur dengan banyak simpang miring. Saat ini, pembangunan expansi kota sangat condong ke arah selatan sebagai pemanfaatan daerah baru.
Persepsi Pengemudi Ojek Online terhadap Titik Kumpul di Kota Bandung Asta Juliarman Hatta; Allis Nurdini; Dara Fitriani
Jurnal Teknik Vol 20 No 2 (2022): Jurnal Teknik
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37031/jt.v20i2.311

Abstract

Moda transportasi online muncul pada tahun 2011 dan mulai berkembang di tahun 2015 dengan penambahan layanan lainnya. Jenis moda transportasi yang menggunakan motor sebagai alat transportasinya disebut sebagai ojek online (ojol). Kemunculan ojek online menimbulkan maraknya titik kumpul pengemudi yang mengambil lahan ruang publik sebagai titik kumpul. Salah yang dijadiikan titik kumpul oleh pengemudi ojol yaitu Jalan Pelesiran. Studi ini bertujuan untuk mengungkap alasan atau faktor yang menjadi penyebab suatu tempat menjadi titik kumpul. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan grounded-theory. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei, observasi, dan wawancara. Respon (jawaban) dari pengemudi dikaitkan dengan teori persepsi dan teori nodes yang selanjutnya dibentuk ke dalam kata-kata kunci yang akhirnya menjadi faktor-faktor pengemudi memilih tempat tersebut sebagai titik kumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 8 faktor pemilihan titik kumpul ojek online yaitu faktor banyak orderan, lokasi strategis, titik jemput, dekat warung, dekat rumah, keamanan, tujuan pengantaran dan komunitas. Dari faktor-faktor yang diperoleh, faktor keamanan dan faktor komunitas merupakan dua faktor pendukung yang dapat diperhatikan lebih lanjut dalam perencanaan titik kumpul oleh perencana kota di masa mendatang. Hal ini dikarenakan kedua faktor tersebut turut memberi andil positif terhadap lingkungan sekitar.
Faktor Dominan yang Mempengaruhi Preferensi Pemilihan Posisi Ruang Tidur Orang Tua dan Anak di Rumah Tinggal Asta Juliarman Hatta; Hanson Endra Kusuma; Dara Fitriani
Jurnal Permukiman Vol 14 No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2019.14.73-81

Abstract

Ruang tidur merupakan salah satu ruang penting dalam rumah tinggal yang digunakan penghuni rumah untuk beristirahat dan tidur. Selain faktor skala ruang, faktor penempatan posisi ruang tidur juga merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan untuk perencanaan layout ruang tidur yang baik dalam rumah tinggal. Setiap penghuni rumah sebagai orang-tua ataupun sebagai anak memiliki preferensi ruang tidur dalam rumah tinggal yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor dominan yang mempengaruhi preferensi terhadap variasi posisi ruang tidur dalam rumah tinggal.  Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner online yang dibagikan secara non-random sampling. Temuan penelitian mengungkapkan 5 dimensi (variabel laten) yang mempengaruhi preferensi seseorang terhadap tiga posisi ruang tidur yaitu dimensi keamanan, kenyamanan dan privasi, interaksi, keinginan, dan tradisi. Dimensi keamanan dan tradisi merupakan dimensi yang yang mempengaruhi perbedaan preferensi tiga posisi ruang tidur secara signifikan.
PENGARUH MODA TRANSPORTASI ONLINE TERHADAP RUANG PUBLIK PADA LINGKUNGAN PERKOTAAN DI KOTA GORONTALO (The Influence of Online Transportation Modes on Public Space in Urban Environments in Gorontalo City) Asta Juliarman Hatta; Dara Fitriani; Heryati Heryati
Tesa Arsitektur Vol 21, No 2: Desember 2023
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v21i2.11098

Abstract

Penggunaan moda transportasi umum semakin berkembang dari tahun ke tahun yang ditandai dengan munculnya ojek online yang semakin diminati dan menjadi kebutuhan di masa kini. Untuk menjemput penggunanya, pengemudi ojek online memanfaatkan faktor kedekatan dengan pengguna dengan menciptakan suatu titik kumpul. Permasalahan yang banyak ditemukan bahwa pengemudi ojek online kerap membuat titik kumpul dengan menggunakan ruang publik, bahkan mentransformasinya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh titik kumpul ojek online terhadap ruang publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan mendeskripsikan bagaimana bentuk, aktivitas, karakteristik, serta perubahan yang terjadi pada fenomena penggunaan ruang publik sebagai titik kumpul ojek online. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada tiga titik kumpul ojek online di ruang publik pada area minimarket, pedestrian, dan taman kota/RTH memiliki pengaruh terhadap tipologi dan morfologi kota. Perubahan tipologi yang terjadi menyebabkan adanya penyalahgunaan fungsi ruang publik, struktur fisik, ketidakteraturan tata letak dan tata ruang kota pada ruang publik. Perubahan morfologi yang terjadi menyebabkan kemudahan aksesibilitas kepada pengguna jasa ojol, mengurangi beban lalu lintas, penggunaan ruang publik menjadi lebih hidup dan dinamis, serta memicu pertumbuhan sentra ekonomi lokal yang berdampak positif pada perkembangan kota. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mengembangkan kebijakan dan regulasi yang tepat mengenai bagaimana titik kumpul ojek online dapat mengubah ruang publik dan membantu mengarahkan perkembangan perkotaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Desain Ruang Publik Kawasan Tepian Danau di Desa Huluduotamo Kabupaten Bone Bolango Guna Pengembangan dan Pemanfaatan Potensi Wilayah Lydia S Tatura; Dara Fitriani; Asta Juliarman Hatta
Madaniya Vol. 5 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.1142

Abstract

Gorontalo merupakan salah satu kota besar di Pulau Sulawesi yang terkenal dengan kekayaan wisata alamnya. Berdasarkan peta pusat Bone Bolango, wilayah ini memiliki potensi alam yang besar, terutama Danau Perintis yang terletak di Bone Bolango. Selain itu, sumber daya manusia (SDM) di Gorontalo unggul dalam sektor pertanian dan perikanan yang melimpah. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan infrastruktur dan perancangan kawasan tepian air untuk mendukung aktivitas masyarakat serta meningkatkan perekonomian daerah. Metode pelaksanaannya dilakukan melalui studi pendahuluan, identifikasi potensi, melibatkan partisipasi masyarakat, dan penyusunan konsep desain. Hasil dari pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah rekomendasi desain yang bisa dijadikan panduan bagi pemerintah daerah setempat dalam mengembangkan kawasan daerah danau Bone Bolango sesuai potensi wilayahnya.
MODEL TRIADIK CITRA KOTA GORONTALO BERBASIS KESENIAN, ARSITEKTUR TRADISIONAL, DAN SIMBOL KEISLAMAN Dara Fitriani; Zuhriati A Djailani; Asta Juliarman Hatta
Tesa Arsitektur Vol 24, No 1: Juni 2026
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v24i1.14614

Abstract

This study aims to explore public perceptions of the cultural elements that shape the image of Gorontalo City. Amid rapid urban development that may gradually erode local wisdom values, strengthening the city’s identity has become increasingly important. Although Gorontalo’s cultural identity and city image have been widely discussed, studies examining cultural elements as determinants of city image from the community’s perspective remain limited. This research employs a qualitative approach using grounded theory. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and open-ended questionnaires involving 100 respondents from Gorontalo City. The data were analyzed through open coding, axial coding, and selective coding to identify key categories and the relationships among cultural elements.The findings reveal that the image of Gorontalo City is shaped by three main clusters: Artistic Motifs, Traditional Architecture, and Islamic Symbols. Karawo, Pateda, Wulunga, and Manggis motifs emerge as the most recognizable aesthetic markers, while Pahangga, Makuta, and Tuwango represent the city’s architectural identity. Islamic symbols, including calligraphy, domes, and jalamba, further reinforce Gorontalo’s religious character as the “Veranda of Medina.” The study develops a Triadic Model of Gorontalo City Image, which explains the integration of aesthetic, structural, and spiritual values in shaping the city image and provides a conceptual framework for culturally based urban design and development.
Faktor Dominan yang Mempengaruhi Preferensi Pemilihan Posisi Ruang Tidur Orang Tua dan Anak di Rumah Tinggal Asta Juliarman Hatta; Hanson Endra Kusuma; Dara Fitriani
Jurnal Permukiman Vol 14 No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2019.14.73-81

Abstract

Ruang tidur merupakan salah satu ruang penting dalam rumah tinggal yang digunakan penghuni rumah untuk beristirahat dan tidur. Selain faktor skala ruang, faktor penempatan posisi ruang tidur juga merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan untuk perencanaan layout ruang tidur yang baik dalam rumah tinggal. Setiap penghuni rumah sebagai orang-tua ataupun sebagai anak memiliki preferensi ruang tidur dalam rumah tinggal yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor dominan yang mempengaruhi preferensi terhadap variasi posisi ruang tidur dalam rumah tinggal.  Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner online yang dibagikan secara non-random sampling. Temuan penelitian mengungkapkan 5 dimensi (variabel laten) yang mempengaruhi preferensi seseorang terhadap tiga posisi ruang tidur yaitu dimensi keamanan, kenyamanan dan privasi, interaksi, keinginan, dan tradisi. Dimensi keamanan dan tradisi merupakan dimensi yang yang mempengaruhi perbedaan preferensi tiga posisi ruang tidur secara signifikan.
Formation of Residential Space in a Multicultural Community: The Interaction of Customary Institutions and Community Leaders in Tri Rukun Village, Boalemo, Gorontalo Asta Juliarman Hatta; Dara Fitriani; Nurnaningsih Nico Abdul
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 15 No. 2 (2026): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v15i2.653

Abstract

Multicultural communities in rural areas face challenges in maintaining social harmony while preserving cultural identity within residential environments. Tri Rukun Village in Boalemo Regency, Gorontalo, represents a multicultural settlement inhabited by Gorontalo, Balinese, and Minahasan communities living together within the same environment. This study aims to analyze the roles of customary institutions and community leaders in shaping residential adaptation strategies in Tri Rukun Village. A qualitative method with an ethnographic approach was employed to understand social, cultural, and spatial dynamics within the community. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, while data analysis used thematic coding and the Miles and Huberman interactive analysis model. The findings indicate that customary institutions play important roles in land distribution, housing arrangements, and spatial conflict resolution through deliberative mechanisms based on local wisdom. Community leaders contribute to planning, design, and post-occupancy evaluation processes. Residential adaptation does not eliminate cultural identity but instead produces architectural hybridization through modifications in building materials, spatial organization, and housing elements adapted to social and environmental needs.
Penataan Lapangan Taruna Remaja di Kawasan Heritage Kota Gorontalo dengan Pendekatan Arsitektur Indis Nirmawaty Laha; Zuhriati A. Djailani; Dara Fitriani
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 10 No. 1 (2026): Oktober (INPRESS)
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v10i1.15959

Abstract

The Heritage Area of Gorontalo City features a prominent public space known as Lapangan Taruna Remaja. This public space serves as the city's central square, facilitating various social activities such as recreation, sports, relaxation, and culinary experiences. Lapangan Taruna Remaja holds significant potential due to its historical value and location within Gorontalo City's Heritage Area, offering opportunities to enhance its status as a tourist destination while contributing to the area's economic and social development. Despite its potential, the square faces several challenges, including the deterioration of its physical quality due to vandalism and the repurposing of its facilities by street vendors. Additionally, the square experiences water pooling during heavy rainfall, leading to flooding. These issues arise from inadequate utility infrastructure within the square. This study aims to redesign Lapangan Taruna Remaja as a public space in Gorontalo City's Heritage Area by incorporating the principles of Indis architecture as the primary design framework. The data collection employed a qualitative descriptive method, encompassing primary and secondary data. Primary data were gathered through observation, interview, and documentation, while secondary data were obtained from institutional and library resources, as well as media reviews from journals, scientific articles, and reliable news sources. The analysis and spatial programming include site analysis, spatial needs, space dimensions, and spatial relationships. The final design concept incorporates Indis architecture to shape the outdoor spaces and building structures of Lapangan Taruna Remaja. Architectural elements such as roof styles, windows, doors, and ventilation reflect the adaptation of Indis architectural styles present in the surrounding area.
Konsep Desain Pusat Kebudayaan Bugis di Gorontalo dengan Pendekatan Arsitektur Analogi Simbolik A. Alifah Nurul Amaliah; Lydia Surijani Tatura; Dara Fitriani
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 10 No. 1 (2026): Oktober (INPRESS)
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v10i1.16322

Abstract

Gorontalo is one of the areas with the largest population of Bugis people, starting from the habits and customs of the Bugis tribe that are inherent in Gorontalo, to being well received by the surrounding community, the diversity of the Bugis tribe in Gorontalo also has a positive impact on the people of Gorontalo. This is the main factor in designing the Bugis Cultural Center in Gorontalo. As time goes by, the development of contemporary society, culture begins to be forgotten, even the culture itself is not known in depth by people. Especially for teenagers who have forgotten their own culture. Therefore, the problems mentioned above can be resolved by providing a forum that introduces Bugis tribal culture in this modern era, with facilities that provide special arts areas, both educational and commercial, special museum areas for periodic art performances and performing arts, both music and dance. Perancangan Pusat Kebudayaan Bugis ini akan mengusung tema Analogi Simbolik, yang bangunannya akan menganalogikan simbol-simbol khusus dari adat suku Bugis. The design of the Bugis Cultural Center will carry the theme of Symbolic Analogy, where the building will analogize special symbols from the Bugis tribe's customs.