Penelitian ini menganalisis konstruksi makna perempuan dalam hadis-hadis terpilih di Ṣaḥīḥ al-Bukhārī melalui pendekatan semantik, sintaksis, dan pragmatik. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana pilihan leksikal, struktur sintaksis, presuposisi, dan implikatur berinteraksi membentuk pemaknaan yang sering dipersepsi problematis secara publik. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan, data berupa empat hadis tentang kesialan (al-syu'm), gangguan salat (qaṭa'a), kepemimpinan perempuan (lan yufliḥa), dan perempuan sebagai mayoritas penghuni neraka (akṣar) dianalisis melalui identifikasi unsur kebahasaan, telaah makna leksikal, analisis sintaksis, analisis pragmatik, dan sintesis lintas data. Temuan menunjukkan bahwa makna problematis terhadap perempuan tidak terbentuk semata oleh makna leksikal, melainkan oleh interaksi antara diksi, struktur tuturan, dan inferensi pragmatik pembaca. Pada tataran semantik, leksem al-syu'm, qaṭa'a, lan yufliḥa, dan akṣar memiliki muatan evaluatif kuat. Pada tataran sintaksis, pola koordinatif (tarkīb 'aṭfī) dan predikatif menempatkan perempuan dalam relasi kategoris yang berpotensi memunculkan kesan negatif. Pada tataran pragmatik, presuposisi dan implikatur memperluas makna literal menjadi generalisasi sosial ketika konteks historis-situasional diabaikan. Penelitian ini menegaskan bahwa hadis-hadis tentang perempuan perlu dibaca secara kontekstual dan melalui analisis linguistik terintegrasi agar tidak direduksi menjadi stereotip sosial yang ahistoris.