Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Smart Health Village: Edukasi Sanitasi Leptospirosis Berbasis Komunitas melalui Pembuatan Spray Anti-Tikus Berbahan Fermentasi Mengkudu Fitri Nadifah; Indah Saphira M. Mateley; Fransiska Yuniarti Ene; Adelia Siska Jinengsih; Nessa Octiria; Adinda Fajar Karunia; Meita Mahartika; Arum Nuryati; Hieronymus Rayi Prasetya; Sri Murtiningrum; Desto Arisandi; Yuliana Prasetyaningsih; Erik Risnawan; Julianti Almudin
Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI) Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/x7sz2n02

Abstract

Leptospirosis merupakan zoonosis yang berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan, keberadaan tikus, dan paparan air/tanah terkontaminasi. Di Kabupaten Sleman, kasus leptospirosis dilaporkan masih terjadi dan membutuhkan penguatan upaya pencegahan berbasis komunitas. Tujuan: Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang leptospirosis serta memperkenalkan inovasi sederhana berupa spray anti-tikus berbahan perasan mengkudu (Morinda citrifolia) yang difermentasi sebagai bagian dari edukasi pengendalian vektor. Kegiatan dilaksanakan pada Juli 2025 di Dusun Salam Krajan, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Intervensi meliputi penyuluhan, demonstrasi pembuatan spray anti-tikus (fermentasi perasan mengkudu), diskusi, serta survei pengetahuan menggunakan kuesioner 22 butir. Data dianalisis secara deskriptif. Sebanyak 50 responden berpartisipasi. Tingkat pengetahuan berada pada kategori cukup sebanyak 64% (32 orang) dan kategori baik 36% (18 orang). Butir dengan proporsi jawaban benar terendah adalah pengetahuan mengenai manifestasi ikterus (20%) dan kerusakan hati (16%). Mayoritas responden menyebut petugas kesehatan (100%) dan media (96%) sebagai sumber informasi. Edukasi berbasis komunitas melalui pendekatan Smart Health Village dan demonstrasi inovasi spray anti-tikus berpotensi meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Temuan kuesioner menunjukkan perlunya penekanan materi tentang penyebab leptospirosis (bakteri) dan tanda bahaya/komplikasi (ikterus, gangguan hati) serta penguatan pesan pencegahan berbasis sanitasi dan pengendalian tikus.
MASYARAKAT AKTIF CEGAH DBD: EDUKASI MELALUI PEMBUATAN SPRAY ANTI NYAMUK BERBASIS BAHAN ORGANIK Desto Arisandi; Fitri Nadifah; Ardina Nugrahani; Ivana Elga Yunia; Denisa Hamam; Simon Sanga Lamanepa; Lista Dwi Indriyani; Amelda Oktavianti Putri; Syahrul Junianto Lintin; Agustina Pangala; Ellen Engelina; Fransisca Jean Clarine Rettob
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 6 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i6.3820

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia dengan angka kejadian yang terus meningkat. Pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti sering bergantung pada sprai kimia sintesis yang berisiko terhadap kesehatan dan lingkungan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pencegahan DBD dan memberikan solusi praktis melalui pemberian edukasi terkait pembuatan sprai anti nyamuk berbahan organik di RT. 4 Dusun Sintokan, Cangkringan, Sleman. Metode pelaksanaan mencakup tahan persiapan, pelaksanaan (edukasi interaktif dan demonstrasi pembuatan sprai anti-nyamuk dari serai), serta evaluasi menggunakan kuesioner pretest dan posttest. Peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 32 orang. Proporsi peserta dengan tingkat pengetahuan kategori baik mengenai faktor risiko penularan dan pencegahan DBD mengalami peningkatan dari 40,62% menjadi 81,25% setelah penyuluhan. Edukasi disertai pelatihan keterampilan dalam memanfaatkan bahan organik sebagai bahan pengusir nyamuk yang lebih aman dan ramah lingkungan efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dalam upaya pencegahan DBD secara mandiri. Pemantauan secara berkelanjutan penerapan perilaku pencegahan di tingkat rumah tangga diharapkan dapat menurunkan angka kejadian DBD.