Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Legal Analysis Of Combating Bullying In Children As An Act Of Violence In The Analysis Of Law Number 35 Of 2014 Amending Law Number 23 Of 2002 Adi Herisasono; M. Suja’i; Didik Prihantoro; Meiko Hendra Setiawan
JURNAL HUKUM SEHASEN Vol 9 No 2 (2023): Oktober
Publisher : Fakultas Hukum Dehasen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jhs.v9i2.4920

Abstract

The purpose of this research is to analyze the prevention of bullying against children, which can be categorized as a criminal act under Law Number 35 of 2014 amending Law Number 23 of 2002 concerning child protection, as well as to analyze the punishment system used in criminal acts of bullying against children. This study employs a research approach based on primary legal materials by examining theories, concepts, legal principles, and regulations. The research results indicate that forms of bullying against children categorized as criminal acts are found in the Child Protection Law: Article 54 and Article 76C of the Child Protection Law, and in the Criminal Code: Defamation (Article 310 paragraph 1), Deprivation of Liberty (Article 333), Unpleasant Conduct (Article 335), and Assault (Article 351). The punishment system used for bullying perpetrators is divided into various types of punishment. Criminal punishments for children who are perpetrators of bullying take the form of warnings, religious guidance, non-institutional rehabilitation, community service or supervision, vocational training, institutional rehabilitation, and imprisonment.
Juridical Analysis of Requirements for Candidates for Village Apparatus Based on Bojonegoro Regency Regional Regulation Number 4 of 2019 concerning Village Apparatus Juncto Minister of Home Affairs Regulation Number 67 of 2017 concerning Appointment and D Adi Herisasono; Ferdiati Ferdiati; Mochammad Fadil; Romiyatul Fatlah
JURNAL HUKUM SEHASEN Vol 9 No 2 (2023): Oktober
Publisher : Fakultas Hukum Dehasen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jhs.v9i2.4921

Abstract

Completion of village officials is a routine agenda that is usually held in a democratic system in village governance. This is a form of local democracy, namely the implementation of democracy at the village level, the democratic appointment of village officials promises the establishment of a representative government. Law No. 6 of 2014 requires that the appointment of village officials in Article 50 letter (c) is domiciled in the local village or at least resides at least 1 (one) year before registration. Whereas in the Regional Regulation of Bojonegoro Regency Number 4 of 2019 the appointment of village officials does not require that they have to live in the local village. Based on the elaboration above, the authors take the following formulation of the problem: What are the arrangements for filling in village officials according to Law Number 6 of 2014 and Minister of Home Affairs Regulation Number 67 of 2017? The purpose of this study was to find out the filling arrangements for village officials according to Law Number 6 of 2014 and Minister of Home Affairs Regulation Number 67 of 2017. normative law in the form of literature review which is carried out by tracing primary and secondary legal materials, which is carried out through a study of statutory regulations and other legal materials. Law Number 6 of 2014 and Minister of Home Affairs Regulation Number 67 of 2017 have the same conditions for appointing village officials, namely they must be registered as villagers. As explained in Article 50 paragraph (1) letter c of Law Number 6 of 2014 and Article 2 paragraph (1) of the Minister of Home Affairs Regulation Number 67 of 2017. This requirement is intended to ensure that prospective village officials understand the character and culture of village communities. Article 2 Paragraph (1) Bojonegoro Regency Regional Regulation Number 4 of 2019 is not in line with the aforementioned Law and Permendagri. As a community that is given the right to govern, village government should not be equated with the logic of regional or national head government. In addition, there are concerns about the potential for exploitation of village resources for the personal interests of village elites if government positions or village officials are filled by people who do not come from or live in the village and do not know the ins and outs of the village.
Legal Liability of Health Care Facilities for Leakage of Patient Electronic Medical Records Adi Herisasono
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 24 No. 1 (2025): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v24i1.5880

Abstract

Electronic medical record (EMR) data breaches have become an increasingly significant issue in healthcare, as the use of digital technology for patient data management rises. EMRs provide healthcare professionals with faster and more efficient access to patient information. However, this convenience also introduces the risk of data breaches, which could harm patients. This article aims to explore the legal responsibilities of healthcare facilities in managing EMR data breaches and the consequences resulting from such breaches. The research employs a qualitative approach and literature review, analyzing various legal regulations, legislation, and case studies of data breaches. The findings indicate that while legal protections exist, there are still significant challenges in implementing effective data security systems in healthcare facilities. Therefore, enhancing oversight, security systems, and legal awareness among stakeholders is essential to prevent data breaches that could cause significant harm to multiple parties.
Implementasi Pembuktian Tindak Pidana Kekerasan Seksual Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Adi Herisasono; Anggraini Rosiana Efendi; Oscha Davan Kharisma
Jurnal Preferensi Hukum Vol. 4 No. 3 (2023): Jurnal Preferensi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sexual violence as a form of crime is often difficult to prove in the criminal justice system. Terlebih lagi, kekerasan seksual seringkali dilakukan secara tertutup dan hanya diketahui oleh korban dan pelaku. Hal ini mempersulit proses penyelidikan dan pengumpulan bukti oleh pihak kepolisian dan jaksa penuntut. Implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), diharapkan pembuktian tindak pidana kekerasan seksual dapat dilakukan dengan lebih mudah dan transparan. Penelitian ini menganalisis Implementasi pembuktian tindak pidana kekerasan seksual dalam perspektif Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022. Melalui penelitian normatif, diketahui bahwa pada UU TPKS memperluas alat bukti yang sudah diatur pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, sehingga lebih menyesuaikan dengan dinamika perkembangan zaman untuk meminimalisir multitafsir oleh para penegak hukum. Dengan diakuinya informasi, dokumen, dan perekaman elektronik, serta keterangan saksi testimonium de auditu yang terkait dengan tindak pidana tersebut, perkara tersebut dapat dilakukan proses hukum. Dalam konteks pembuktian tindak pidana kekerasan seksual, faktor-faktor pendukung dan penghambat menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan. Faktor-faktor pendukung mencakup kemungkinan pembuktian tanpa bukti fisik, perlindungan yang lebih jelas bagi korban, peran saksi ahli yang ditingkatkan, serta dukungan sosial dan budaya. Sementara itu, faktor-faktor penghambat meliputi perbedaan penafsiran tindak pidana kekerasan seksual, masih kurangnya struktur unit penegak hukum yang memadai, dan adanya kultur atau budaya hukum yang cenderung mendiskreditkan korban.
Nilai-Nilai Pendidikan dan Kebersamaan dalam Tradisi Perayaan Isra Mikraj di Kecamatan Krian Samsul Arifin; Tri Marfiyanto; Adi Herisasono; Muhammad Zakki; Wakid Efendi; Mujito Mujito; Muhammad Wihdatun Nafiin; Didit Darmawan
Jurnal Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 1 (2022): Jurnal Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (NALA)
Publisher : Jurnal Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perayaan Isra Mikraj merupakan tradisi keagamaan yang memiliki nilai-nilai pendidikan dan kebersamaan bagi umat Islam. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menggali dan memperkuat nilai-nilai tersebut melalui rangkaian acara, seperti pengajian, sholawatan, khataman Al-Qur’an, dan pembacaan doa. Dilaksanakan di Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, kegiatan ini melibatkan ratusan masyarakat dari berbagai kalangan. Pengajian dan tausiyah menekankan pentingnya keimanan, ketaatan, dan tanggung jawab, dengan merujuk pada perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Kegiatan sholawatan dan khataman Al-Qur’an memperkuat kebersamaan, sementara pembacaan doa menjadi refleksi spiritual untuk memperdalam hubungan dengan Allah SWT. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai pendidikan dalam Isra Mikraj, terutama pentingnya shalat sebagai pondasi akhlak mulia. Partisipasi aktif masyarakat, termasuk generasi muda, berhasil mempererat hubungan sosial dan spiritual. Kegiatan ini tidak hanya menjaga tradisi keagamaan tetapi juga memotivasi masyarakat untuk terus mengembangkan kualitas keimanan dan kebersamaan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk pelaksanaan perayaan keagamaan yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan, Fasilitas dan Lokasi Terhadap Kepuasan Pasien Puskesmas Lontar Surabaya Arif Rachman Putra; Rafadi Khan Khayru; Mochamad Irfan; Adi Herisasono; Rommy Hardyansah
Jurnal Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (NALA)
Publisher : Jurnal Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisasi pelayanan kesehatan yang salah satunya yaitu puskesmas diharapkan dapat mewujudkan kepuasan pasien. Kepuasan pasien merupakan kunci utama untuk memenangkan persaingan yang semakin kompetitif. Untuk itu penting melakukan pengkajian lebih mendalam terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis dampak kualitas pelayanan, fasilitas, lokasi terhadap kepuasan pasien di Puskesmas Lontar Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian asosiatif atau hubungan fungsional. Sebanyak 50 pasien akan menjadi sampel di penelitian ini. Pasien ini pernah berobat dan dirawat di puskesmas tersebut. Sumber data yang digunakan yaitu data primer yang langsung diperoleh dari sumber utamanya yaitu para pasien. disimpulkan bahwa kualitas pelayanan dapat memberikan pengaruhnya terhadap kepuasan pasien dengan hasil signifikan. Fasilitas dapat memberikan pengaruhnya terhadap kepuasan pasien dengan hasil signifikan. Lokasi dapat memberikan pengaruhnya terhadap kepuasan pasien dengan hasil signifikan. Kualitas pelayanan, fasilitas dan lokasi secara simultan dapat memberikan pengaruhnya terhadap kepuasan pasien dengan hasil signifikan
Penyuluhan Gaya Hidup Sehat Secara Personal di Kawasan Kota Tua Surabaya untuk Meningkatkan Kesadaran dan Kesehatan Anak Muda Didit Darmawan; Rio Saputra; Adi Herisasono; Novritsar Hasitongan Pakpahan; Sarwo Waskito; Agung Satryo Wibowo; Febrian Dirgantara
Jurnal Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (NALA)
Publisher : Jurnal Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku hidup sehat pada anak muda melalui penyuluhan secara personal di kawasan Kota Tua Surabaya. Permasalahan gaya hidup tidak sehat yang marak ditemukan di kalangan remaja dan dewasa muda mendorong perlunya pendekatan yang lebih langsung, terbuka, dan adaptif terhadap kebutuhan mereka. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan dialogis, dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi yang disesuaikan dengan karakteristik sasaran. Edukasi diberikan melalui interaksi personal, pembagian pamlet sembilan tips hidup sehat, serta pemberian produk air minum sebagai stimulan perilaku sehat. Hasil kegiatan menunjukan peningkatan pemahaman peserta terkait pentingnya gizi, aktivitas fisik, kesehatan mental, serta perilaku hidup sehat lainnya. Evaluasi melalui observasi dan wawancara menunjukkan model pengabdian masyarakat berbasis personal efektif membangun komunikasi dua arah, partisipatif, sekaligus aplikatif terhadap kebutuhan anak muda di ruang publik. Model ini diharapkan dapat diadaptasi dan direplikasi dalam program serupa di komunitas anak muda lainnya.  
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KEGIATAN PEMBERSIHAN SUNGAI OLEH MAHASISWA BERBASIS ASSET-BASED COMMUNITY DEVELOPMENT (ABCD) Adi Herisasono; Nana Mursyida Arifiana; Haniyah Haniyah; Pratolo Saktiawan; Elly Christanty Gautama
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka Vol 5 No 01 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/sabangka.v5i01.2175

Abstract

River cleanup activities by students are a form of community service aimed at improving environmental quality and building ecological awareness. This program is implemented through Asset-Based Community Development (ABCD), which utilizes local assets, such as a culture of mutual cooperation, leadership, and village facilities, to encourage participation. Activities include identifying river problems, joint cleanup actions with residents, and education on the impact of waste on the environment. The results show improvements in river conditions, increased awareness of the importance of protecting rivers, and the establishment of sustainable cooperation between students, the government, and residents. In addition, this activity serves as an educational tool that encourages long-term behavioral change, so that the community better understands that environmental preservation is a shared responsibility. This shows that the involvement of students as agents of change can be a major driver in empowering the community to protect the river ecosystem in a sustainable manner.