Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Personality Traits as Correlate of Adult Education Students’ Study Habits Habibat Bolanle Abdulkareem; Abdulhafis Adeyinka Hassan; Abdullahi Suleiman
Indonesian Journal of Multidiciplinary Research Vol 3, No 2 (2023): IJOMR: VOLUME 3, ISSUE 2, September 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijomr.v3i2.56215

Abstract

The objectives of the study were to examine the profile of agreeableness of adult education students, the conscientiousness of adult education students, neuroticism of adult education students, openness to experience adult education students, extraversion of adult education students and the level of study habits of adult education students at the University of Ilorin. A descriptive research design of a survey was used for this study. The population of the study consist of all 567 undergraduate students of the adult education department at the University of Ilorin. A total sample of two hundred (200) respondents was selected using random sampling techniques. The structured questionnaire was validated by three experts at the Department of Adult and Primary education, University of Ilorin, Nigeria. Reliability validation was obtained through the split-half method with 70 respondents. The hypotheses were tested using Chi-square at 0.05 alpha level. It was concluded that the agreeableness, conscientiousness, extroversion and openness to experience of adult education students are high while their neuroticism was low. As a result, the majority of adult education students performed averagely in the study habit test, though agreeableness, conscientiousness, extroversion and openness as well as neuroticism are positively related to the study habits of adult education students at the University of Ilorin. However, adult education students’ conscientiousness, extroversion, agreeableness and openness to experience significantly predicted their study habits at the University of Ilorin while neuroticism was insignificant.
Psychological factors and customized learning pathways in curriculum design Habibat Bolanle Abdulkareem; Kamoru Abidoye Tiamiyu; Aldulkareem Olalekan Abubakar; Rukayat Adetoun Abdulkareem; Fadilat Oluwakemi Adegbenro
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.69694

Abstract

This study explores the prevalence of mental health and learning pathways among undergraduate students in Kwara State, Nigeria. It examines the relationship between personality traits, learning pathways, and mental health behavior. Analyzing data from 1,502 respondents, the study categorizes mental health behavior into low, moderate, and high levels. Results indicate that most students (55.9 percent) exhibit low mental well-being, while 32.7 percent show moderate and 11.5 percent demonstrate high mental well-being. Regression analysis reveals that personality traits, including agreeableness, conscientiousness, neuroticism, openness to experience, and extraversion, collectively account for 51.2 percent of the variance in mental health scores. Among these traits, only conscientiousness significantly contributes, while other traits like neuroticism and agreeableness do not significantly impact mental health. These findings contrast with previous studies that reported higher levels of psychological distress and varying influences of personality traits on mental health. Recommendations include incorporating comprehensive mental health assessments into curricula, providing tailored mental health support, and integrating mental health resources within the educational framework. The study underscores the need for targeted interventions and support to address the high prevalence of low mental well-being among university undergraduates in the region. AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi prevalensi kesehatan mental dan jalur belajar di kalangan mahasiswa sarjana di Negara Bagian Kwara, Nigeria, dan meneliti hubungan antara sifat-sifat kepribadian, jalur belajar, dan perilaku kesehatan mental. Menganalisis data dari 1.502 responden, penelitian ini mengkategorikan perilaku kesehatan mental ke dalam tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (55,9 persen) menunjukkan kesehatan mental yang rendah, sementara 32,7 persen menunjukkan kesehatan mental yang sedang, dan 11,5 persen menunjukkan kesehatan mental yang tinggi. Analisis regresi mengungkapkan bahwa sifat-sifat kepribadian, termasuk kesetujuan, ketelitian, neurotisme, keterbukaan terhadap pengalaman, dan ekstraversi, secara kolektif menyumbang 51,2 persen dari varians dalam skor kesehatan mental. Di antara sifat-sifat ini, hanya conscientiousness yang menunjukkan kontribusi yang signifikan, sementara sifat-sifat lain seperti neuroticism dan agreeableness tidak secara signifikan mempengaruhi kesehatan mental. Temuan ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi dan berbagai pengaruh dari sifat-sifat kepribadian terhadap kesehatan mental. Rekomendasi yang diberikan termasuk memasukkan penilaian kesehatan mental yang komprehensif ke dalam kurikulum, menyediakan dukungan kesehatan mental yang disesuaikan, dan mengintegrasikan sumber daya kesehatan mental dalam kerangka kerja pendidikan. Studi ini menggarisbawahi perlunya intervensi dan dukungan yang ditargetkan untuk mengatasi tingginya prevalensi kesejahteraan mental yang rendah di kalangan mahasiswa di wilayah ini.Kata Kunci: desain kurikulum; kesehatan mental; penyesuaian pembelajaran; mahasiswa
Effects of Imago Relationship Therapy on Spousal’s emotional instability married teachers in Kwara State, Nigeria Habibat Bolanle Abdulkareem; Kamil Adekola Lasis
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69017

Abstract

The study delved into the impact of Imago Relationship Therapy on spousal emotional instability using Ancova for analysis. The study adopted a pretest-posttest, control group quasi-experimental design with a 2x2x3 factorial matrix. Two primary schools were randomly selected, and convenient sampling techniques were used to select 60 participants in the selected schools 30 participants were meant for the treatment group and 30 for the control group. Results indicated significant effects: The therapy showcased a substantial reduction in emotional instability (F = 594.276, p smaller than 0.001), with the overall model explaining 95.2 percent of the variance. Gender (F = 1.859, p = 0.001) and self-esteem (F = 3.755, p = 0.001). An interaction between gender and self-esteem, as well as the three-way interaction (GROUP Gender Self-esteem), were statistically significant, emphasizing the interconnectedness of these factors in understanding emotional instability. It was recommended that the school counselors should assist teachers in overcoming their mindfulness. AbstrakStudi ini menyelidiki dampak Terapi Hubungan Imago terhadap ketidakstabilan emosi pasangan menggunakan Ancova untuk analisis. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu kelompok kontrol pretest-posttest dengan matriks faktorial 2x2x3. Dua sekolah dasar dipilih secara acak dan teknik convenience sampling digunakan untuk memilih 60 peserta. Di sekolah yang dipilih, sampel penelitian dibagi menjadi 30 peserta untuk kelompok perlakuan dan 30 untuk kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan efek yang signifikan: terapi menunjukkan penurunan substansial dalam ketidakstabilan emosi (F = 594,276, p lebih kecil dari 0,001), dengan model keseluruhan menjelaskan 95,2 persen varians. Gender (F = 1.859, p = 0.001) dan harga diri (F = 3.755, p = 0.001). Interaksi antara gender dan harga diri, serta interaksi tiga arah (GROUP Gender Self-harga diri), adalah signifikan secara statistik, menekankan keterkaitan faktor-faktor ini dalam memahami ketidakstabilan emosi. Disarankan agar konselor sekolah membantu guru dalam mengatasi mindfulness mereka.Kata Kunci: ketidakstabilan emosional; gender; guru yang sudah menikah; harga diri