Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Threat of Sexual Abuse Among in-School Adolescents in Kwara State Abdulkareem; Olalekan Abubakar; Kamoru Abidoye Tiamiyu; Akeem Omowumi Raheem; Habibat Bolanle Abdulkareem; Garba Bilikis
Formosa Journal of Multidisciplinary Research Vol. 2 No. 11 (2023): November 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjmr.v2i11.6495

Abstract

This paper reviewed on sexual abuse among adolescents to uncover areas that would lead to further researches and proffer a lasting solution. Sexual abuse of minors is an offense that is widely denounced. There exist various elements or causes of child sexual violence that the general public is unaware of. In order to safeguard children in society, it is critical to comprehend these variables. Sexual abuse has highly serious aftereffects that have a reflective impact on the victims' physical and mental health. The abuse upsets the child's bodily and mental order, the aftereffects are excruciating. Victims experience lifelong physical health issues as well as severe stress. It is therefore suggested that parents and guardians should watch their wards closely.
Psychological factors and customized learning pathways in curriculum design JournalHabibat Bolanle Abdulkareem; Kamoru Abidoye Tiamiyu; Aldulkareem Olalekan Abubakar; Rukayat Adetoun Abdulkareem; Fadilat Oluwakemi Adegbenro
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.69694

Abstract

This study explores the prevalence of mental health and learning pathways among undergraduate students in Kwara State, Nigeria. It examines the relationship between personality traits, learning pathways, and mental health behavior. Analyzing data from 1,502 respondents, the study categorizes mental health behavior into low, moderate, and high levels. Results indicate that most students (55.9 percent) exhibit low mental well-being, while 32.7 percent show moderate and 11.5 percent demonstrate high mental well-being. Regression analysis reveals that personality traits, including agreeableness, conscientiousness, neuroticism, openness to experience, and extraversion, collectively account for 51.2 percent of the variance in mental health scores. Among these traits, only conscientiousness significantly contributes, while other traits like neuroticism and agreeableness do not significantly impact mental health. These findings contrast with previous studies that reported higher levels of psychological distress and varying influences of personality traits on mental health. Recommendations include incorporating comprehensive mental health assessments into curricula, providing tailored mental health support, and integrating mental health resources within the educational framework. The study underscores the need for targeted interventions and support to address the high prevalence of low mental well-being among university undergraduates in the region.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi prevalensi kesehatan mental dan jalur belajar di kalangan mahasiswa sarjana di Negara Bagian Kwara, Nigeria, dan meneliti hubungan antara sifat-sifat kepribadian, jalur belajar, dan perilaku kesehatan mental. Menganalisis data dari 1.502 responden, penelitian ini mengkategorikan perilaku kesehatan mental ke dalam tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (55,9 persen) menunjukkan kesehatan mental yang rendah, sementara 32,7 persen menunjukkan kesehatan mental yang sedang, dan 11,5 persen menunjukkan kesehatan mental yang tinggi. Analisis regresi mengungkapkan bahwa sifat-sifat kepribadian, termasuk kesetujuan, ketelitian, neurotisme, keterbukaan terhadap pengalaman, dan ekstraversi, secara kolektif menyumbang 51,2 persen dari varians dalam skor kesehatan mental. Di antara sifat-sifat ini, hanya conscientiousness yang menunjukkan kontribusi yang signifikan, sementara sifat-sifat lain seperti neuroticism dan agreeableness tidak secara signifikan mempengaruhi kesehatan mental. Temuan ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi dan berbagai pengaruh dari sifat-sifat kepribadian terhadap kesehatan mental. Rekomendasi yang diberikan termasuk memasukkan penilaian kesehatan mental yang komprehensif ke dalam kurikulum, menyediakan dukungan kesehatan mental yang disesuaikan, dan mengintegrasikan sumber daya kesehatan mental dalam kerangka kerja pendidikan. Studi ini menggarisbawahi perlunya intervensi dan dukungan yang ditargetkan untuk mengatasi tingginya prevalensi kesejahteraan mental yang rendah di kalangan mahasiswa di wilayah ini. Kata Kunci: desain kurikulum; kesehatan mental; penyesuaian pembelajaran; mahasiswa
Preserving cultural-roots: Indigenous parenting practices in shaping ethical foundations in children Habibat Bolanle Abdulkareem; Jamila Yusuf; Kamoru Abidoye Tiamiyu
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 2 (2025): Inovasi Kurikulum, May 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i2.80877

Abstract

In an increasingly globalised world, the preservation of cultural heritage is vital in nurturing the ethical and moral development of children. Indigenous parenting practices, deeply embedded in ancestral traditions and communal values, provide a distinct framework for shaping ethical behaviour and instilling virtues such as respect, responsibility, empathy, and community consciousness. This study aims to explore the role of indigenous parenting practices in fostering ethical development in children and to assess their impact on children’s ethical decision-making and the intergenerational transmission of cultural norms. Employing a qualitative research approach, the study conducted a comprehensive review of relevant literature and analyzed case studies from various indigenous communities. Key indigenous parenting methods identified include storytelling, communal living, rites of passage, and traditional mentoring systems all of which serve as tools for ethical education. The findings reveal that these practices effectively nurture ethical values by embedding children within a strong cultural identity, fostering a sense of communal responsibility, and reinforcing virtues such as honesty, respect, and empathy. The study underscores the importance of integrating these time-tested values into modern child-rearing practices to reinforce ethical foundations in children while preserving cultural heritage.   Abstrak Dalam dunia yang semakin mengglobal, pelestarian warisan budaya sangat penting dalam memelihara perkembangan etika dan moral anak-anak. Praktik pengasuhan adat, yang tertanam dalam tradisi leluhur dan nilai-nilai komunal, menyediakan kerangka kerja yang berbeda untuk membentuk perilaku etis dan menanamkan nilai-nilai seperti rasa hormat, tanggung jawab, empati, dan kesadaran komunitas. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran praktik pengasuhan adat dalam membina perkembangan etika pada anak-anak dan untuk menilai dampaknya terhadap pengambilan keputusan etis anak-anak dan transmisi norma-norma budaya antargenerasi. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, studi ini melakukan tinjauan komprehensif terhadap literatur yang relevan dan menganalisis studi kasus dari berbagai komunitas adat. Metode pengasuhan adat utama yang diidentifikasi meliputi mendongeng, kehidupan komunal, ritus peralihan, dan sistem bimbingan tradisional yang semuanya berfungsi sebagai alat untuk pendidikan etika. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa praktik-praktik ini secara efektif memelihara nilai-nilai etika dengan menanamkan anak-anak dalam identitas budaya yang kuat, menumbuhkan rasa tanggung jawab komunal, dan memperkuat nilai-nilai seperti kejujuran, rasa hormat, dan empati. Studi ini menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai yang telah teruji waktu ini ke dalam praktik pengasuhan anak modern untuk memperkuat landasan etika pada anak-anak sambil melestarikan warisan budaya. Kata kunci: adat, akar budaya, anak-anak, praktik pengasuhan