Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP TEKANAN DARAH SISTOLIK DAN DIASTOLIK PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI Ade Sucipto; Wahyudi Qorahman MM; Lia Agustin
Jurnal Kesehatan Borneo Cendekia Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v6i2, Septemb.301

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kardioveskuler yang sering terjadi di masyarakat. Pengobatan non farmakologis digunakan untuk pelengkap pengobatan farmakologis yaitu relaksasi autogenik yang berasal dari kesadaran diri dan tubuh untuk menurunkan tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh trauma atau stres. Relaksasi autogenik adalah pendekatan yang berasal dari kesadaran diri dan tubuh untuk menurunkan tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh trauma atau stres dengan mengendalikan otot dan tonus hati. Relaksasi spontan akan membantu tubuh menjalankan perintah melalui sugesti relaksasi diri. Relaksasi spontan akan membantu tubuh menjalankan perintah melalui sugesti relaksasi diri, sehingga mengontrol tekanan darah, detak jantung dan suhu tubuh. Tujuan penelitan ini adalah Menganalisis pengaruh relaksasi autogenik terhadap tekanan sistol dan diastol pada lansia dengan hipertensi.Jenis penelitian ini Quasi experimental pendekatan two group pre-posttest 30 responden, 15 kelompok intervensi 15 kelompok kontrol. Pengukuran tekanan darah relaksasi autogenik menggunkan lembar observasi pre-posttest. Hasil penelitian didapatkan ada perbedaan signifikan tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan intervensi relaksasi autogenik, pada kelompok intrevensi sebelum sistol 156,53 sesudah 135,20 dengan selisih 21,33 dan sebelum diastol 94,67 sesudah 84,00 dengann selisih 10,67 sedangkan pada kelompok kontrol sebelum sistol 153,87 sesudah 147,20 dengan selisih 6,67 dan sebelum diastol 95,47 sesudah 91,73 dengan selisih 3,74. Hasil uji Wilcoxon pada kelompok intervensi sistol dan diastol p value 0,001 sedangkan pada kelompok kontrol sistol p value 0,007 diastol 0,016. Hasil uji Mann Whitney tekanan darah sistol p value 0,002 sedangkan diastole p value 0,004. Kesimpulan ada pengaruh relaksasi autogenik terhadap tekanan sistol dan diastol pada lansia dengan hipertensi.
EFEKTIVITAS AKUPRESUR DAN TERAPI MUSIK TERHADAP KECEMASAN MAHASISWA TINGKAT AKHIR Sri Rahayu; Ade Sucipto; Marlinda Marlinda
Jurnal Kesehatan Borneo Cendekia Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v7i2.481

Abstract

Kecemasan yang di alami selama proses mengerjakan tugas akhir membuat kondisi tidak nyaman, gelisah, takut, panik bahkan tempramen sehingga berpengaruh dalam performa dan tingkat kelulusan. Akupresur dan terapi musik dapat membantu mengatasi kecemasan mahasiswa tingkat akhir dengan menekan titik-titik meridian akupresur Ex-HN dan P6 melalui rasa nyaman dan rileks disertai dan diiringi musik. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas akupresur dan terapi musik terhadap kecemasan mahasiswa tingkat akhir di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Cendekia Medika Pangkalan Bun. Penelitian quasy experimental, dengan rancangan one group pre test post test design, populasi 52 orang, sampel 30 responden, dengan teknik purposive sampling. Pengukuran kecemasan menggunakan kuesioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale), data berdistribusi normal menggunakan uji Paired t test pada kelompok berpasangan. Hasil penelitian didapatkan nilai kecemasan mahasiswa tingkat akhir sebelum diberikan akupresur dan terapi musik berada pada nilai mean 20,17 (kecemasan ringan). Kecemasan mahasiswa tingkat akhir setelah diberikan akupresur dan terapi musik berada pada nilai mean 16,77 (kecemasan ringan). Hasil uji paired t test didapatkan p value 0,000 sehingga ada efektivitas akupresur dan terapi musik terhadap kecemasan mahasiswa tingkat akhir di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Cendekia Medika Pangkalan Bun.
PENGARUH BEKAM TERHADAP TERHADAP PENURUNAN TANDA DAN GEJALA NYERI DAN KESEMUTAN Ade Sucipto; Sri Rahayu; Jemy Iskandar
Jurnal Kesehatan Borneo Cendekia Vol 7 No 1, (2023): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v7i1, Maret.408

Abstract

Kolesterol merupakan lemak yang terdapat dalam aliran darah atau sel tubuh yang sebenarnya dibutuhkan untuk pembentukan dinding sel dan sebagai bahan baku beberapa hormon. Kolesterol yang normal harus dibawah 200 mg/dl, apabila diatas 240 mg/dl maka berisiko tinggi terkena penyakit serangan jantung atau stroke Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa terapi bekam mampu menunjukkan penurunan kadar kolesterol pada penelitian kali ini peneliti ingin fokus pada tanda gejala yang umum pada pasien kolesterol. Manifestasi yang umum pada pasien kolesterol adalah sakit di tengkuk dan rasa sering kesemutan. Tujuan penelitan ini adalah Menganalisis Pengaruh Bekam Terhadap Penurunan Tanda Dan Gejala nyeri dan kesemutan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik, yaitu penelitian yang menjelaskan adanya pengaruh antara variabel melalui pengujian hipotesis. Metode penelitian ini adalah quasi eksperimen, dengan desain penelitian one group pre-test and post- test, dimana kegiatan penelitian yang memberikan tes awal (pretest) sebelum diberikan perlakuan, setelah diberikan perlakuan barulah memberikan tes akhir (posttest). Jumlah responden dalam penelitian adalah 30 responden penderita kolesterol. Bersarkan hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai ? = 0,000 < 0,05 menunjukkan ada pengaruh Bekam Terhadap Penurunan Tanda Dan Gejala Nyeri Dan Kesemutan. Bagi penelitian selanjutnya direkomendasi melakukan penelitian pada variabel yang sama terlebih dahulu dikarenakan sangat sedikit sekali referensi terkait bekam terhadap kesemutan. mengkaji alat ukur tingkat kesemutan dengan meningkatkan skala data ke skala rasio.
Efektifitas Terapi Komplementer Bekam dan Hipnoterapi Terhadap Tekanan Darah Dan Tanda Gejala Pada Penderita Hipertensi Ade Sucipto; Sri Rahayu; Jemy Iskandar
Bima Nursing Journal Vol 5, No 1 (2023): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/bnj.v5i1.1412

Abstract

Hipertensi  menyebabkan angka  morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga diperlukan penanganan serius, tekanan darah yang tidak terkontrol menyebabkan komplikasi seperti, stroke, penyakit jantung koroner, dan ginjal. Pencegahan komplikasi dapat dilakukan dengan pengobatan farmakologis maupun non-farmakologis yang bersifat komplementer, terapi yang dapat digunakan adalah terapi bekam dan hipnoterapi. Rancangan penelitian menggunakan pretest and posttest with control group design. Populasi penelitian adalah pasien hipertensi dengan teknik pengambilan sampel probability sampling dengan teknik Simple random. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis Univariat, Bivariat hingga Multivariat. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan terapi komplementer bekam dan hipnoterapi terhadap penurunan tekanan darah, penurunan skala nyeri dan peningkatan pola tidur pada penderita hipertensi. Berdasarkan hasil penelitian antara kelompok eksperimen (Kombinasi Bekam dan Hipnoterapi), kelompok kontrol (Bekam) dan kelompok kontrol (hipnoterapi) menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,000, nilai p<0,05 disimpulkan bahwa ada pengaruh terhadap penurunan tekanan darah sistol dan diastol, skala nyeri dan meningkatkan pola tidur penderita hipertensi.
HUBUNGAN KESEJAHTERAAN SPIRITUAL DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN HIV/AIDS DI RSUD SULTAN IMANUDDIN PANGKALAN BUN Martina Sindi Florika; Zuliya Indah Fatmawati; Eko Budi Laksono; Ade Sucipto
Journal Integrative and Holistic Health Studies Vol. 1 No. 1 (2025): Journal Integrative and Holistic Health Studies
Publisher : Punar Svasthya Krista

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66188/jihhs.v1i1.14

Abstract

HIV is a virus that attacks the human immune system and weakens the body's defenses against various diseases. This virus infects white blood cells and weakens the immune system, making infected individuals susceptible to various opportunistic infections. If left untreated, this infection can lead to AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), a series of symptoms resulting from the weakened immune system caused by the HIV virus. This study investigated the relationship between spiritual well-being and sleep quality in HIV/AIDS patients. This study used a descriptive analysis design with a sample of 58 respondents. Sampling was conducted using purposive sampling. Data were collected using the Functional Assessment of Chronic Illness Therapy-Spiritual Well-Being (FACIT-SP12) and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Univariate data analysis was performed using frequency distributions, and bivariate data analysis was performed using descriptive analysis. All respondents reported high levels of spiritual well-being. Most reported good sleep, while nearly half reported poor sleep. Descriptive analysis revealed a relationship between spiritual well-being and sleep quality. Descriptive analysis indicated that higher levels of spiritual well-being resulted in better sleep quality. This study demonstrates a relationship between high levels of spiritual well-being and sleep quality in HIV/AIDS patients.
PENGARUH REBUSAN TANAMAN CIPLUKAN (PHYSALIS ANGULATA) TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS MADUREJO KECAMATAN ARUT SELATAN KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PROVINSI KALIMATAN TENGAH Yulia Bangkul; Ade Sucipto; Rukmini Syahleman
Journal Integrative and Holistic Health Studies Vol. 1 No. 2 (2026): Journal Integrative and Holistic Health Studies
Publisher : Punar Svasthya Krista

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66188/jihhs.v1i2.17

Abstract

Hipertensi adalah kondisi meningkatnya tekanan darah melebihi batas normal (sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg). Penyakit ini dikenal sebagai “pembunuh diam-diam” karena sering tanpa gejala namun berisiko menimbulkan komplikasi kardiovaskular. Salah satu terapi alternatif yang mulai dimanfaatkan adalah rebusan tanaman ciplukan (Physalis angulata), yang dipercaya memiliki efek menurunkan tekanan darah. Tujuanya adalah untuk mengetahui pengaruh rebusan tanaman ciplukan terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Madurejo, Pangkalan Bun. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel sebanyak 30 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Data tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital dan lembar observasi, kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil pre test, tekanan darah responden sebagian besar berada pada kategori hipertensi ringan (56,7%), dan hasil post test setelah diberikan rebusan ciplukan, mayoritas responden mengalami penurunan tekanan darah hingga kategori optimal (56,7%). Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,008 (<0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan konsumsi rebusan ciplukan terhadap penurunan tekanan darah. Penelitian selanjnya tidak hanya berfokus pada efek rebusan tanaman ciplukan terhadap penurunan tekanan darah, tetapi juga mempertimbangkan untuk mengeksplorasi pengaruhnya terhadap kualitas tidur pada pasien dengan hipertensi.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEAMANAN DAN MANFAAT TERAPI KOMPLEMENTER PADA PASIEN STROKE Ade Sucipto; Yayat Supriyatna; Sri Rahayu
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/w74jmh28

Abstract

Stroke is one of the leading causes of disability that requires long-term treatment and rehabilitation. In addition to medical treatment, complementary therapy is increasingly used by the community as supportive therapy for stroke patients. However, public understanding regarding the safety and benefits of complementary therapy is still varied. This study aimed to determine public perceptions regarding the safety and benefits of complementary therapy in stroke patients. This study used a quantitative descriptive design with a purposive sampling technique involving 60 respondents. Data were collected using questionnaires on public perceptions regarding the safety and benefits of complementary therapy in stroke patients. The complementary therapies discussed in this study included cupping therapy, massage, herbal therapy, acupressure, and other traditional therapies. The results showed that perceptions regarding the safety of complementary therapy were mostly in the sufficient category with 28 respondents (46.7%), while 21 respondents (35.0%) had good perceptions and 11 respondents (18.3%) had poor perceptions. Perceptions regarding the benefits of complementary therapy were also mostly in the sufficient category with 27 respondents (45.0%), while 24 respondents (40.0%) had good perceptions and 9 respondents (15.0%) had poor perceptions. Respondents stated that complementary therapy could help reduce muscle stiffness, improve relaxation, and increase comfort in stroke patients. However, some respondents still doubted the safety and effectiveness of complementary therapy due to limited information and understanding. The study concludes that public perceptions regarding the safety and benefits of complementary therapy in stroke patients are still varied. Therefore, health education from health workers, especially nurses, is needed to improve public understanding regarding the safe and appropriate use of complementary therapy in stroke patients.
Evaluation of (Tinomiscium petiolare Hook.F. &Thomson) Extract Ointment on Inflammation and Angiogenesis During Incision Wound Healing Larantika Hidayati; Iqlila Romaidha; Anas Fadli Wijaya; Ade Sucipto; Eko Budi Laksono
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 2 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i2.5339

Abstract

Wound incidence remains high worldwide and includes surgical injuries, burns, ulcers and trauma. National reports also show that abrasions and contusions account for more than half of wound complaints. These data indicate a continuing need for effective therapeutic approaches. Wound healing depends on a regulated inflammatory phase and sufficient angiogenesis, and disturbances in these processes can delay tissue repair. Natural compounds with anti-inflammatory and pro-angiogenic activity offer potential support. Tinomiscium petiolare contains flavonoids and alkaloids with documented roles in modulating inflammation and promoting vascular growth. Evidence regarding its effects on incision wounds is limited and requires systematic evaluation. This study aimed to evaluate the wound-healing effects of Tinomiscium petiolare extract ointment by examining inflammatory and angiogenic responses in incision wounds with and without Staphylococcus aureus infection. Twenty-four male Rattus norvegicus were randomized into four groups consisting of non-infected controls, infected controls, extract-treated non-infected rats and extract-treated infected rats. Standardized incision wounds were created, infection was induced in designated groups and the extract ointment was applied to treatment groups. Tissue samples were collected on days 3 and 7 to measure TNF-α expression, macrophage infiltration and blood vessel formation. Statistical analysis included normality testing, variance homogeneity testing and comparative analyses with post-hoc procedures when required. TNF α levels showed no group differences on day 7. Temporal analysis demonstrated significant reductions from day 3 to day 7 in T3 and T4 (p < 0.05). Macrophage infiltration differed among groups (p = 0.044), and post-hoc analysis indicated significantly lower macrophage counts in T4 compared with T1 after Bonferroni correction. Blood vessel density also varied among groups (p = 0.019), and temporal evaluation showed a progressive increase in angiogenesis in T4 from day 3 to day 7, although pairwise comparisons did not reach statistical significance. The extract modulated inflammatory activity and supported angiogenic progression, with the strongest effects in infected wounds treated with the ointment.
Kontradiksi Pengobatan Tradisional Dan Medis: Studi Kualitatif Penggunaan Jagung (Zea Mays) Topikal Dalam Penanganan Cacar Air Santika Umi Kalsum; Nadina Wijaya; Elgia Ardia Septiansya; Ade Sucipto; Eko Budi Laksono; Sri Rahayu; Yayat Supriyatna
Jurnal Borneo Cendekia Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v9i2.686

Abstract

The use of natural ingredients in traditional medicine practices is still commonly found in various regions of Indonesia. One such practice is the topical application of corn (Zea mays) to treat chickenpox. This study aimed to explore the practice and public as well as health professionals’ perceptions toward this treatment. The research was conducted in Arut Selatan District, Kotawaringin Barat Regency, Central Kalimantan, using a qualitative descriptive case study approach. A total of 48 respondents participated in this study, consisting of 43 community members (users and family) and 5 health workers. Data were collected through face-to-face and online interviews and analyzed thematically. The findings indicate that the practice continues due to beliefs in its ability to accelerate healing, reduce itching and heat, and is rooted in generational experience. Symbolic beliefs, such as the notion that corn must be “stolen” to be effective, were also reported. Meanwhile, health workers expressed varying perspectives—from being unaware of the practice to expressing concern about infection risks if applied without medical supervision. This study highlights the need for culturally sensitive educational approaches that integrate local traditional values with modern medical safety principles, promoting holistic and contextual healthcare practices.