Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH FILTRAT DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP TITER IMUNOGLOBULIN G PADA KELINCI JANTAN (Oryctolagus cuniculus) Larantika Hidayati; Putri Dwi Lestari
Jurnal Kesehatan Borneo Cendekia Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v6i2 Desember.305

Abstract

Tumbuhan Moringa oleifera yang dikenal di Indonesia sebagai daun kelor diketahui memiliki nilai gizi tinggi dan senyawa aktif yang yang bermanfaat untuk menjaga sistem imun. Penelitian tedahulu menunjukkan bahwa daun kelor (Moringa oleifera) memiliki pengaruh terhadap aktivitas makrofag dan sel-sel imun lain sehingga dapat bermafaat sebagai imunomodulator. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas filtrat daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar Immunoglobulin G (IgG) pada kelinci jantan (Oryctolagus cuniculus). Penelitian bersifat true experiment dengan disain postest control group. Besar sampel pada penelitian ini adalah 16 ekor kelinci jantan, yang dibagi kedalam empat kelompok yaitu kelompok kontrol (K), Kelompok perlakuan 1 (P1) dengan pemberian filtrat daun kelor konsentrasi 25%, kelompok 2 (P2) dengan pemberian filtrat daun kelor konsentrasi 50% dan kelompok perlakuan 3 (P3) dengan pemberian filtrat konsentrasi 75%, kemudian titer immunoglobulin diukur menggunakan metode hemaglutinasi dan dikonversi dalam nilai desimal. Hasil penilitian didapatkan nilai mean±SD kelompok kontrol dan kelompok dengan perlakuan filtrat daun kelor konsentrasi 25% adalah 0, nilai mean±SD kelompok dengan perlakuan filtrat daun kelor 50% adalah 0,35±0,3 dan nilai mean±SD kelompok dengan perlakuan filtrat daun kelor konsentrasi 75% adalah0,1,25±0,3. Data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal dan tidak homogen sehingga analisis data yang digunakan adalah uji Kruskal wallis. Hasil penelitian menunjukkan nilai p<0,05 sehingga dapat disimpulkan filtrat daun kelor memiliki pengaruh terhadap titer kadar immunoglobulin G.
HUBUNGAN LAMA DAN FREKUENSI MEROKOK TERHADAP KADAR PROTEIN URINE LAKI-LAKI DI DESA KARANG ANYAR PANGKALAN BUN Eka Oktavia Kurnia Sari; Larantika Hidayati; Miftachul Sobirin
Jurnal Kesehatan Borneo Cendekia Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v6i2 Desember.315

Abstract

Indonesia menjadi negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India. Angka konsumsi rokok Indonesia pada tahun 2020 yaitu mencapai 33,21% dan meningkat pada tahun 2021 mencapai 65,07%. Rokok mengandung berbagai senyawa seperti nikotin, tar, gas karbonmonoksida, timah hitam dan kadmium yang dapat berbahaya bagi kesehatan bila di konsumsi dalam jangka waktu yang lama dan dengan frekuensi yang sering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama merokok dan frekuensi merokok terhadap kadar protein urine di Desa Karang Anyar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain survei analitik dengan pendekatan cross sectional untuk observasi atau pengumpulan datanya. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, dengan populasi 65 perokok yang masuk pada kriteria inklusi berjumlah 45 orang perokok. Metode pemeriksaan protein urine menggunakan metode Asam Asetat 6%. Hasil dari penelitian ini diperoleh rata-rata responden dengan kategori kadar protein urine negatif atau normal dengan lama merokok <10 dan >10 tahun dengan frekuensi merokok 8 batang perhari, sedangkan responden dengan kategori kadar protein urine positif dengan lama merokok <20 dan >20 tahun dengan frekuensi merokok >10 batang perhari. Data akan dianalisis dengan softwere SPSS versi 21, hasil uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk, dari 45 sampel didapatkan nilai signifikansi lama merokok yaitu sebesar 0.06 (>0.05) dan frekuensi merokok yaitu sebesar 0.32 (>0.05) yang berarti H0 diterima dan dapat diartikan data terdistribusi normal. Uji statistik dilanjutkan dengan uji korelasi pearson dan diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000 (<0.01) sehingga hasilnya adalah signifikan, yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi kuat antara lama dan frekuensi merokok terhadap kadar protein urine laki-laki dimana semakin lama konsumsi rokok dan banyak frekuensi merokok akan menyebabkan peningkatan kadar protein urine.
Evaluation of (Tinomiscium petiolare Hook.F. &Thomson) Extract Ointment on Inflammation and Angiogenesis During Incision Wound Healing Larantika Hidayati; Iqlila Romaidha; Anas Fadli Wijaya; Ade Sucipto; Eko Budi Laksono
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 2 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i2.5339

Abstract

Wound incidence remains high worldwide and includes surgical injuries, burns, ulcers and trauma. National reports also show that abrasions and contusions account for more than half of wound complaints. These data indicate a continuing need for effective therapeutic approaches. Wound healing depends on a regulated inflammatory phase and sufficient angiogenesis, and disturbances in these processes can delay tissue repair. Natural compounds with anti-inflammatory and pro-angiogenic activity offer potential support. Tinomiscium petiolare contains flavonoids and alkaloids with documented roles in modulating inflammation and promoting vascular growth. Evidence regarding its effects on incision wounds is limited and requires systematic evaluation. This study aimed to evaluate the wound-healing effects of Tinomiscium petiolare extract ointment by examining inflammatory and angiogenic responses in incision wounds with and without Staphylococcus aureus infection. Twenty-four male Rattus norvegicus were randomized into four groups consisting of non-infected controls, infected controls, extract-treated non-infected rats and extract-treated infected rats. Standardized incision wounds were created, infection was induced in designated groups and the extract ointment was applied to treatment groups. Tissue samples were collected on days 3 and 7 to measure TNF-α expression, macrophage infiltration and blood vessel formation. Statistical analysis included normality testing, variance homogeneity testing and comparative analyses with post-hoc procedures when required. TNF α levels showed no group differences on day 7. Temporal analysis demonstrated significant reductions from day 3 to day 7 in T3 and T4 (p < 0.05). Macrophage infiltration differed among groups (p = 0.044), and post-hoc analysis indicated significantly lower macrophage counts in T4 compared with T1 after Bonferroni correction. Blood vessel density also varied among groups (p = 0.019), and temporal evaluation showed a progressive increase in angiogenesis in T4 from day 3 to day 7, although pairwise comparisons did not reach statistical significance. The extract modulated inflammatory activity and supported angiogenic progression, with the strongest effects in infected wounds treated with the ointment.