Achmad Fuaddin
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KRITIK TERHADAP PENAFSIRAN COACH MENTOR POLIGAMI DAN REPRODUKSI KETIMPANGAN GENDER DI MEDIA SOSIAL Shofiatun Nikmah; Risma Hikmawati; Mokhammad Samsul Ikhsan; Achmad Fuaddin
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 10 No 2 (2024): Al ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/alitqan.v10i2.1119

Abstract

This research examines the critique of polygamy mentors to interpretations of the verse on polygamy in Islam that are rampant on social media, especially through polygamy mentoring programmes. Polygamy mentors such as Hafidhin and Riski Ramdhani interpret QS. Al-Nisa and 34 as legitimate to practice polygamy, without considering aspects of gender justice. The narrative they build leads to the glorification of polygamy as a sharia that is worthy of worship, with minimal attention to the social and psychological impacts on women. This study uses a critical approach and gender hermeneutics to analyse how polygamy mentor interpretations are used as ideological tools in reproducing gender inequality. Through analysis of their interviews and podcasts, it was found that their paradigm of thought positions women as objects that must be designed to accept polygamy, with a doctrine that limits women's rights and freedoms. The results show that polygamy mentor interpretations of polygamy have shifted from their original purpose in the Quran, as a solution to certain social problems, to an instrument of domination that ignores the principles of equality and justice. Criticism of this understanding asserts that the verse on polygamy does not mean an absolute recommendation, but as a form of regulation of existing practices in society at that time. Therefore, a more contextual and equitable reinterpretation is needed so that the interpretation of polygamy is not used as a tool to perpetuate gender inequality.
Keseimbangan Dzahir dan Batin dalam Menghadapi Covid-19 Perspektif Al-Qur`an: Pendekatan Tafsir Maqāsidi Achmad Fuaddin
Journal of Southeast Asian Islam and Society Vol. 2 No. 2 (2023): JSEAIS
Publisher : UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jseais.v2i2.1592

Abstract

Abstrak Terjadinya Covid-19 memberikan dampak positif dan negatif dalam kehidupan masyarakat. Mengatasi dampak negatif Covid-19 penting dilakukan secara dzahir dan batin. Namun sebagian orang terlihat mengabaikan usaha dzahir, seperti menolak memakai masker. Pentingnya usaha dzahir dan batin dalam mengadapi musibah telah diisyaratkan oleh al-Qur`an, seperti (QS. 13: 11), (QS. 2: 153). Namun demikian penelitian yang ada belum terlihat fokus menelaah perspekti al-Qur`an dalam menghadapi Covid-19 secara dzahir dan batin. Sejalan dengan itu penelitian ini bertujuan untuk melengkapi penelitian terdahulu terkait respon al-Qur`an dalam menghadapi Covid-19 secara dzohir dan batin dengan menggunakan pendekatan tafsir maqāṣid milik Abdul Mustaqim. Ternyata al-Qur`an menawarkan solusi keseimbangan antara usaha dzohir dan batin dalam menghadapi bencana, termasuk Covid-19. Usaha yang disarankan al-Qur`an setidaknya terbagi menjadi delapan, yaitu; hifdz aql dan hifdz al-nafs dengan menjaga ketenangan jiwa dan berpikir optimis. Ḥifdz al-dīn dengan mendekatkan diri kepada Allah. Ḥifdz al-nafs dengan cara saling membantu dan merencanakan perencanaan penangan bencana. Ḥifdz al-‘aql dengan cara mengikuti saran ahli. Sedangkan introfeksi sekaligus memperbaiki diri memiliki dua sisi, jika introfeksi sekaligus memperbaiki diri dari kesalahan kepada Allah termasuk dalam kategori hifdz al-dīn. Sedangkan introfeksi sekaligus memperbaiki diri diri hal yang berkaitan dengan alam atau lingkungan termasuk kategori hifdz al-bi’ah (merawat lingkungan).