Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Sosialisasi Hukum Waris Pada Masyarakat Kelurahan Wonoplumbon, Kecamatan Mijen, Kota Semarang: Socialization of Inheritance Law to the Community of Wonoplumbon Village, Mijen Subdistrict, Semarang City Yulies Tiena Masriani; Markus Suryoutomo; Tiara Eldawati
Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Maret : Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/perigel.v2i1.512

Abstract

Inheritance division is a law that regulates the division of property left by someone who has died. This law is to fight for justice for everyone who is entitled to receive inheritance. The law of inheritance division plays a role in regulating how to transfer inheritance from someone who has died to the living, both regarding the inheritance, the people who are entitled to receive, the part that is entitled to be received, and how to settle the division of property. This activity is very necessary for the community, especially for community groups who do not have much access to legal information. This activity is expected to create peace of life and a harmonious family atmosphere. Sharia is the highest source of law that must be obeyed. Sharia itself was revealed for the good of Muslims and provides a solution that best suits the character and character of each human being. Sharia is the highest law that must be obeyed and accepted sincerely.
Civil Lawsuits Against Business Entities in Judicial Practice Natasya Yunita Sugiastuti; Rafiqi; Andria Marchelia; Markus Suryoutomo; Rizki Wahyudi
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) January 2
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v8i1.10114

Abstract

Unlawful acts constitute one of the fundamental bases for civil litigation within the Indonesian civil law system, particularly when the defendant is a business entity. In judicial practice, business entities as legal persons are frequently involved in commercial activities that may result in losses to other parties, including consumers, business partners, and the broader public. Consequently, claims based on unlawful acts serve as an essential legal mechanism to seek accountability for conduct that violates legal norms and causes damage. This article aims to examine the procedural framework for filing unlawful act claims against business entities in civil courts, to analyze the legal elements that must be established, and to identify evidentiary challenges commonly encountered during litigation. The research adopts a normative juridical method, employing statutory analysis, legal doctrines, and a review of relevant court decisions. The findings indicate that unlawful act claims against business entities tend to be more complex than those directed at individual defendants, particularly in proving the element of fault and establishing a causal link between the conduct and the resulting harm. Moreover, divergent judicial interpretations of the elements of unlawful acts contribute to inconsistencies in court rulings. Judicial decisions in cases involving unlawful acts committed by business entities have significant implications for legal certainty, the protection of injured parties’ rights, and the development of standards of legal responsibility in the business sector. Therefore, a comprehensive understanding of the construction of unlawful act claims, along with a strengthened judicial role, is essential to ensure justice and legal certainty in civil law enforcement.
Digital Contract Disputes in the FinTech Era: Legal Analysis of Consumer Protection and the Obligations of the Parties Rusdi Sanmas; Markus Suryoutomo; Arliyanda Arliyanda; Johannes Triestanto; Iwan Rasiwan
International Journal Of Humanities Education and Social Sciences (IJHESS) Vol 5 No 5 (2026): IJHESS APRIL 2026
Publisher : CV. AFDIFAL MAJU BERKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55227/ijhess.v5i5.2153

Abstract

The rapid development of the Financial Technology (FinTech) industry has significantly transformed the delivery of financial services, including the execution of contracts in electronic form. Digital contracts offer greater efficiency, transparency, and accessibility for the public. However, these practices also present complex legal challenges, particularly regarding consumer protection and the obligations of the parties involved. Many digital contracts still rely on standardized, one-sided clauses that may disadvantage consumers, while FinTech providers often limit their legal liability. Existing regulations, such as Law No. 11 of 2008 on Electronic Information and Transactions (ITE Law) and Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection (UUPK), provide a normative legal framework to ensure the validity of digital contracts and safeguard consumer rights. Nevertheless, implementation in practice faces obstacles, including issues with verifying electronic signatures, clarity of contractual clauses, and the effectiveness of dispute resolution mechanisms. This study employs a normative juridical approach to analyze disputes in FinTech digital contracts in Indonesia, emphasizing the need for balance between the rights and obligations of all parties. The findings suggest a necessity for regulatory harmonization, improved legal and digital literacy among consumers, and the development of adaptive dispute resolution mechanisms, including faster and more efficient online dispute resolution alternatives. These efforts are expected to enhance legal certainty, foster consumer trust, and reduce the risk of disputes in the continually evolving FinTech landscape.
Tanggung Jawab Perdata Dalam Kegagalan Sistem Pembayaran Digital: Analisis Pasal 1365 KUHPerdata: Civil Liability in Digital Payment System Failures: An Analysis of Article 1365 of the Civil Code Anindya Bidasari; Natasya Yunita Sugiastuti; Markus Suryoutomo; Purwanto; Bambang Teguh Handoyo
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9669

Abstract

Perkembangan sistem pembayaran digital seperti e-wallet, mobile banking, dan platform QRIS telah meningkatkan efisiensi transaksi masyarakat. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat potensi kegagalan sistem seperti gangguan jaringan, error pada pemrosesan transaksi, keterlambatan settlement, hingga double transfer yang dapat menimbulkan kerugian finansial bagi konsumen maupun merchant. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai dasar tanggung jawab perdata yang dapat digunakan untuk menuntut pemulihan kerugian. Artikel ini menganalisis penerapan Pasal 1365 KUHPerdata dalam konteks kegagalan sistem pembayaran digital, dengan fokus pada unsur-unsur esensial perbuatan melawan hukum, yaitu adanya perbuatan melanggar hukum, kesalahan atau kelalaian, kerugian, dan hubungan kausal. Analisis juga meninjau bagaimana prinsip tanggung jawab konvensional berdasarkan kesalahan (fault liability) berinteraksi dengan rezim teknologi yang semakin kompleks, yang dalam beberapa literatur mendorong pemberlakuan tanggung jawab objektif pada penyelenggara sistem elektronik. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-normatif dengan mengkaji regulasi sektor pembayaran, doktrin hukum perdata, literatur ilmiah nasional, serta ketentuan penyelenggaraan sistem elektronik. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan Pasal 1365 tetap relevan, tetapi harus diperkuat dengan standar teknis yang diatur dalam regulasi sektoral sebagai parameter untuk menilai ada tidaknya kelalaian. Selain itu, diperlukan mekanisme pemulihan yang lebih responsif dan transparan guna memastikan perlindungan hukum yang optimal bagi konsumen.
Penyidikan Tindak Pidana Pencurian dengan Kekerasan: Perspektif Kebijakan Kepolisian: Investigation of Violent Theft Crimes: A Police Policy Perspective Hamzah Mardiansyah; Kastubi; Agus Wibowo; Aribandi; Markus Suryoutomo
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 2: Februari 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i2.7121

Abstract

Tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas) merupakan kejahatan yang sering menyebabkan dampak fisik dan psikologis yang berat bagi korban. Keberhasilan dalam penanganan kejahatan ini sangat bergantung pada efektivitas penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian. Penyidikan yang berkualitas dapat memastikan pelaku dibawa ke pengadilan dan memberikan perlindungan serta keadilan bagi korban. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan kepolisian dalam penyidikan tindak pidana pencurian dengan kekerasan di Indonesia, termasuk tantangan yang dihadapi dan solusi yang diterapkan oleh aparat penegak hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun upaya kepolisian dalam menangani kasus curas sudah cukup baik, namun berbagai hambatan teknis, sosial, dan kelembagaan masih menjadi tantangan yang signifikan dalam penyidikan kejahatan ini.
Tanggung Jawab Perdata dalam Kasus Wanprestasi dan Perbuatan Melawan Hukum : Civil Liability in Cases of Default and Unlawful Acts Markus Suryoutomo; Mohammad Solekhan; Sri Murni; Hamdani; Saryana
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 4: April 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i4.7261

Abstract

Tanggung jawab perdata adalah konsep yang sangat penting dalam hukum yang berhubungan dengan kewajiban seseorang untuk memberikan ganti rugi akibat perbuatannya yang merugikan pihak lain. Dalam sistem hukum Indonesia, wanprestasi dan perbuatan melawan hukum adalah dua sumber utama yang dapat menyebabkan timbulnya tanggung jawab perdata. Wanprestasi merujuk pada kegagalan dalam memenuhi kewajiban yang terdapat dalam suatu perjanjian, sedangkan perbuatan melawan hukum mencakup tindakan yang melanggar norma hukum yang berlaku dan menyebabkan kerugian bagi pihak lain. Artikel ini bertujuan untuk membahas berbagai aspek tanggung jawab perdata dalam konteks wanprestasi dan perbuatan melawan hukum, serta dampaknya dalam hukum perdata Indonesia. Dengan pendekatan yuridis normatif, artikel ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana kedua hal tersebut berkontribusi terhadap timbulnya tanggung jawab perdata dan bagaimana hukum memberikan perlindungan kepada pihak yang dirugikan dalam hal ini.
Analisis Yuridis Terhadap Tanggung Jawab Rumah Sakit Atas Kelalaian Tenaga Medis: Legal Analysis of Hospital Responsibility for Medical Personnel Negligence Desy Kartika Ningsih; Anna Veronica Pont; Markus Suryoutomo; Annisa Susinta; Arif Paria Musta
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i11.8427

Abstract

Kelalaian tenaga medis merupakan salah satu isu paling krusial dalam pelayanan kesehatan karena dapat menimbulkan dampak serius bagi keselamatan pasien serta menimbulkan konsekuensi hukum bagi rumah sakit sebagai institusi penyelenggara pelayanan. Dalam konteks hukum kesehatan di Indonesia, rumah sakit tidak hanya bertanggung jawab atas tindakan tenaga medis yang berada di bawah koordinasinya, tetapi juga wajib memastikan terselenggaranya pelayanan yang aman, bermutu, dan sesuai standar profesi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dasar hukum yang mengatur tanggung jawab rumah sakit, bentuk-bentuk kelalaian yang sering terjadi, serta model pertanggungjawaban yang diterapkan ketika kelalaian menyebabkan kerugian bagi pasien. Melalui pendekatan yuridis normatif, penelitian ini menelaah regulasi yang relevan, seperti Undang-Undang Rumah Sakit, Undang-Undang Praktik Kedokteran, serta doktrin perbuatan melawan hukum dalam hukum perdata. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanggung jawab rumah sakit dapat mencakup pertanggungjawaban langsung akibat kelemahan sistem manajemen maupun pertanggungjawaban tidak langsung atas tindakan tenaga medis. Selain itu, penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip kehati-hatian, peningkatan kualitas standar operasional, serta pengawasan internal untuk mencegah terjadinya kelalaian medis. Penguatan regulasi, mekanisme penegakan hukum, dan edukasi bagi tenaga medis juga menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang lebih akuntabel dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Legal Analysis of Copyright Dispute Resulution in the Creative Industries in the Digitalization Era Christina Bagenda; Markus Suryoutomo; Bambang Supriadi; Agnes Maria Janni Widyawati
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) - January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v7i1.6785

Abstract

Copyright protection faces additional difficulties as a result of the creative industry's rapid development and growing digitalization. Large-scale copyright infringement result from the open and accessible nature of the internet, which permits the unapproved reproduction and distribution of creative works. In the digital age, resolving copyright disputes has become essential to creating a system that safeguards authors' rights and promotes the expansion of the creative sector. The purpose of this essay is to examine the legal ramifications of settling copyright disputes in the digital age creative business, as well as to pinpoint the difficulties encountered and workable remedies. This study examines the current dispute settlement procedures under Indonesian law using an analytical legal methodology. The study is anticipated to shed more light on how the law handles copyright disputes and make suggestions for enhancing copyright protection online.
Customer Protection in Cases of Fintech Lending Default: The Perspective of Indonesian Economic Law Markus Suryoutomo; Hasibatul Isniar Sepbrina Pratiwi S; Mig Irianto Legowo; Amsari Damanik; Ade Ari Gumilar
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) October 2
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v7i4.8942

Abstract

The rapid development of financial technology (fintech) has fundamentally transformed national financial systems, particularly through the emergence of peer-to-peer (P2P) lending services that enable individuals to obtain funding quickly and easily without the involvement of traditional financial institutions. This business model not only promotes financial inclusion but also drives the growth of Indonesia’s digital economy. Nevertheless, behind its efficiency and convenience, fintech lending poses substantial legal and economic risks most notably the risk of default, which can cause significant losses for both lenders and borrowers. The occurrence of defaults in fintech lending illustrates an imbalance in the legal standing between platform providers, lenders, and borrowers. Within the framework of Indonesia’s economic law, consumer protection serves as a crucial element in maintaining fairness and trust in digital financial systems. This article aims to examine the forms and effectiveness of legal protection available to consumers in cases of fintech lending default, emphasizing the role and responsibility of the Financial Services Authority (Otoritas Jasa Keuangan OJK) as the supervisory body of the financial services sector. This study employs a normative legal research method using statutory and conceptual approaches to analyze the existing regulations and policies, including OJK Regulation No. 10/POJK.05/2022 on Information Technology-Based Joint Funding Services. The findings indicate that, although OJK regulations have established a strong legal foundation, the practical implementation of consumer protection remains challenging particularly in areas of supervision, dispute resolution, and public financial literacy regarding digital finance.