Wahyu Setyaji Ismaryanto
Maksi FEB UGM

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

EVALUASI INDIKATOR KINERJA UTAMA PADA KPP PRATAMA SEMARANG BARAT Wahyu Setyaji Ismaryanto
ABIS: Accounting and Business Information Systems Journal Vol 1, No 3 (2013): August
Publisher : Master in Accounting Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.85 KB) | DOI: 10.22146/abis.v1i3.59401

Abstract

Pengukuran kinerja pada sektor publik digunakan untuk menilai pen-capaian kinerja dan memberikan gambaran tentang keberhasilan atau kegagalan dalam rangka mewujudkan akuntabilitas instansi pemerintah. Indikator kinerja sebagai alat untuk mengidentifikasi dan mengukur capaian kinerjanya harus valid, dalam arti mampu menggambarkan kinerja yang sebenarnya. Indikator kinerja juga harus berorientasi pada hasil karena secara langsung dapat menggambarkan pencapaian tujuan.Penelitian ini bertujuan untuk menilai validitas dan orientasi Indikator Kinerja Utama (IKU) dengan menggunakan kriteria SMART dan four quadrant analysis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, wa-wancara, kuesioner, dan riset pustaka. Penelitian dilakukan di KPP Pratama Sema-rang Barat dengan fokus penelitian pada IKU eselon III dan unit kerja di bawahnya, yaitu unit eselon IV dan Kelompok Jabatan Fungsional. Penelitian ini tidak mencakup IKU pada level individu atau pegawai.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 96% IKU eselon III dan 98% IKU eselon IV dan Kelompok Jabatan Fungsional di KPP Pratama Semarang Barat dinyatakan valid. Hasil evaluasi menggunakan four quadrant analysis menunjuk-kan bahwa IKU yang digunakan oleh KPP Pratama Semarang Barat belum berori-entasi pada hasil. Penelitian juga menemukan bahwa kendala dalam penyusunan dan pengimplementasian IKU yaitu pemahaman yang kurang atas proses bisnis DJP, sistem informasi pengelolaan kinerja belum memadai, pemahaman pegawai terhadap pengelolaan kinerja belum merata, dan adanya keterbatasan SDM.