Penyakit Covid-19 mempengaruhi kesehatan orang secara berbeda, dari gejala ringan hingga kritis. Pasien sakit kritis harus dirawat di ruang perawatan intensif. Infeksi virus SARS COV-2 merusak sisem kekebalan tubuh dan menyebabkan komplikasi hingga syok septik yang memerlukan Continuous Renal Replacement Therapy (CRRT).Laporan telaah kasus ini menjelaskan tentang analisis asuhan keperawatan pasien Covid-19 dengan ARDS berat, syok septik, asidosis metabolik berat dengan Hypertension Heart Disease yang dilakukan CRRT.Analisis kasus pada satu pasien ICU Covid-19 yang menjalani CRRT. Ibu SW, 55 tahun, dirawat di ICU Covid karena ARDS berat. Pasien mengalami syok septik (dengan dukungan vasokontriksi, demam 39,1°C, CRP = 98,4, Prokalsitonin = 0,67 ng/mL) serta perfusi ginjal tidak adekuat ditunjukan oleh hemodinamik yang tidak stabil, fungsi ginjal yang menurun, laju filtrasi glomerulus yang rendah (Ur = 265, Cr= 6,21, eGFR= 42,3) dan edema ekstremitas. Diagnosa keperawatan: Perfusi Jaringan Ginjal Tidak Efektif berhubungan dengan malfungsi glomerulus dan Risiko syok. Pasien dilakukan CRRT pada hari ke enam rawat dengan total waktu selama 33 jam. Perawat ICU memantau hemodinamik, keseimbangan cairan, tingkat kesadaran, airway dan pola pernapasan, skala nyeri dan sedasi, ketidakseimbangan elektrolit dan kebutuhan pasien selama CRRT.Covid-19 dikaitkan dengan penyakit pernapasan, dan cedera ginjal akut (AKI) jarang terjadi; namun, ketika pasien mengalami AKI dengan tingkat keparahan tinggi, CRRT harus dipertimbangkan. Perawat ICU memiliki peran dalam pemantauan CRRT. Pasien dilakukan CRRT sebagai dampak dari gangguan ginjal karena syok septik yang disebabkan oleh infeksi virus SARS Cov-2.