Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS PEMIKIRAN IKHWAN AL-SHAFA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA Dini Pepilina; Lukman Surya; Tetra Jumif Januarius; Ujang Sutisna
Jurnal Ilmu Tarbiyah Vol 1 No 1 (2022): Jurnal Ilmu Tarbiyah
Publisher : STIT TANGGAMUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.589 KB)

Abstract

Islam memiliki khazanah pemikiran yang kaya sejak zaman dahulu. Beberapa nama Mulai dari Ibn Miskawaih, Ibn Sina Ibn Khaldun dan Al Ghazali merupakan mereka yang sampai saat ini dikenal dan terus dipelajari berbagai konsep pemikirannya di berbagai bidang termasuk pendidikan. Selain secara individual, terdapat satu kelompok filosof muslim yang menamakan diri sebagai Ikhwan al-Shaffa. Mereka malakukan berbagai pengkajian teologis, metafisik dan pendidikan. Mengkaji ulang pemikiran mereka saat ini merupakan salah satu upaya untuk menambah dan memperkaya konsep pendidikan yang dapat diterapkan dengan konteks keadaan saat ini. Artikel ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan dokumentasi konsep pemikiran Ikhwan al-Shaffa dari berbagai literature. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa secara haris besar penelitian Ikhwan al-Shaffa relevan dengan pendidikan Indonesia dilihat dari beberapa hal yaitu pemahaman terhdap pengetahuan, metode, dan kurikulum pendidikan.
Pendidikan Inklusif dalam Manajemen Pendidikan Islam di Kota Yogyakarta: Konsep dan Implementasi Dini Pepilina
Jurnal Ilmu Tarbiyah Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Tarbiyah
Publisher : STIT TANGGAMUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan inklusif merupakan suatu konsep pendidikan yang mengedepankan prinsip kesetaraan, keadilan, dan keberagaman dalam proses belajar-mengajar. Konsep ini dapat diimplementasikan dalam manajemen pendidikan Islam dengan menyediakan sarana dan prasarana yang cukup, memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa untuk mengembangkan potensi mereka, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi semua siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep pendidikan inklusif dalam manajemen pendidikan Islam, serta menganalisis implementasinya di beberapa sekolah menengah atas di kota Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan inklusif dalam manajemen pendidikan Islam di beberapa sekolah menengah atas di kota Yogyakarta masih terdapat beberapa hambatan dan tantangan, seperti kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, serta kurangnya pemahaman dan dukungan dari beberapa pihak terkait. Meskipun demikian, implementasi pendidikan inklusif di sekolah-sekolah tersebut juga menunjukkan adanya beberapa keberhasilan dan inovasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan responsif terhadap keberagaman dan perbedaan siswa.
Reconstructing the Concept of Khilāfah through Muhammad Abed al-Jabiri's Bayānī and Burhānī Epistemology: Insights for Contemporary Indonesia Muhammad Hafizh; Muhammad Rifqi Zam Zami; Dini Pepilina; Mohamad Fauzan
JENTRE Vol. 7 No. 1 (2026): JENTRE: Journal of Education, Administration, Training and Religion
Publisher : Balai Diklat Keagamaan Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38075/jen.v7i1.573

Abstract

The resurgence of khilāfah discourse in Indonesia has intensified debates over the legitimacy of political authority in Islam, with several movements advocating the establishment of a universal caliphate as a religious obligation. While existing studies have examined this discourse from political, ideological, and historical perspectives, limited attention has been devoted to the epistemological assumptions underlying scriptural interpretations of khilāfah. Addressing this gap, this study reinterprets the concept of khilāfah through Muhammad Abed al-Jabiri’s epistemological framework by integrating the Bayānī (textual) and Burhānī (rational) modes of reasoning. Using qualitative library research with a descriptive-analytical approach, the study examines Qur'anic verses, classical Arabic lexical sources, al-Jabiri’s epistemological writings, and relevant contemporary scholarship. The analysis combines textual interpretation with rational inquiry informed by the objectives of Islamic law (maqāṣid al-sharīʿah). The findings demonstrate that the Qur'anic verses commonly invoked to justify a universal caliphate do not prescribe a single normative model of political governance. From a Bayānī perspective, khilāfah primarily denotes succession, stewardship, and accountable leadership, whereas the Burhānī approach situates political authority within the principles of justice, public welfare, social harmony, and the protection of fundamental human interests. This study contributes to the literature by offering an epistemological reinterpretation that challenges literalist readings of khilāfah and argues that claims regarding the religious obligation of a universal caliphate require contextual, linguistic, historical, and maqāṣid-oriented reasoning. The proposed framework provides a more inclusive and contextually relevant understanding of Islamic governance in contemporary Indonesia.
Reconstructing the Concept of Khilāfah through Muhammad Abed al-Jabiri's Bayānī and Burhānī Epistemology: Insights for Contemporary Indonesia Muhammad Hafizh; Muhammad Rifqi Zam Zami; Dini Pepilina; Mohamad Fauzan
JENTRE Vol. 7 No. 1 (2026): JENTRE: Journal of Education, Administration, Training and Religion
Publisher : Balai Diklat Keagamaan Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38075/jen.v7i1.573

Abstract

The resurgence of khilāfah discourse in Indonesia has intensified debates over the legitimacy of political authority in Islam, with several movements advocating the establishment of a universal caliphate as a religious obligation. While existing studies have examined this discourse from political, ideological, and historical perspectives, limited attention has been devoted to the epistemological assumptions underlying scriptural interpretations of khilāfah. Addressing this gap, this study reinterprets the concept of khilāfah through Muhammad Abed al-Jabiri’s epistemological framework by integrating the Bayānī (textual) and Burhānī (rational) modes of reasoning. Using qualitative library research with a descriptive-analytical approach, the study examines Qur'anic verses, classical Arabic lexical sources, al-Jabiri’s epistemological writings, and relevant contemporary scholarship. The analysis combines textual interpretation with rational inquiry informed by the objectives of Islamic law (maqāṣid al-sharīʿah). The findings demonstrate that the Qur'anic verses commonly invoked to justify a universal caliphate do not prescribe a single normative model of political governance. From a Bayānī perspective, khilāfah primarily denotes succession, stewardship, and accountable leadership, whereas the Burhānī approach situates political authority within the principles of justice, public welfare, social harmony, and the protection of fundamental human interests. This study contributes to the literature by offering an epistemological reinterpretation that challenges literalist readings of khilāfah and argues that claims regarding the religious obligation of a universal caliphate require contextual, linguistic, historical, and maqāṣid-oriented reasoning. The proposed framework provides a more inclusive and contextually relevant understanding of Islamic governance in contemporary Indonesia.