Norina Wasriyani
UIN Antasari Banjarmasin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLA KEPEMIMPINAN DAN TANGGUNG JAWAB ORANGTUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM Suraijiah Suraijiah; Mushlihati Mushlihati; Norina Wasriyani
Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol 23, No 1 (2023): Published in March of 2023
Publisher : STAI AL FALAH Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/alfalahjikk.v23i1.226

Abstract

Abstract The purpose of this study is to reveal the meaning and types of parental leadership patterns in the family, as well as patterns of education and parental responsibilities towards children in Muslim families. This study uses qualitative methods with the type of library research (library research), while the results of research reports use content analysis and descriptive analysis. The research data was extracted from the Al-Qur'an, Hadith, various books, scientific journals, textbooks, etc. this research study resulted in the finding that the pattern of education given by parents to children must be seen from the perspective of the child's development and adjusted to things that are easy for him to accept, both material and spiritual aspects in Islamic rules. there are five phases of development and responsibility for children in Muslim families, the first is the prenatal phase (the period from conception to birth around 9 months) such as always praying for him, praying, keeping his words, always reading the Qur'an, maintaining morals and faith. second, the thufullah phase (0-7 years) calling the call to prayer when born, giving a good name, aqiqah, giving faith and monotheism that is easy to understand, and getting used to good things. third, the tamyiz stage (7-14 years) is ordered to pray, supervise the association of children, and give trust or a mandate. The four baligh phases (approximately 15 years) form a family mentality and provide sex education. the fifth phase of Ar-Rusyd (15 years and over) does not put pressure by making relationships like friends and includes setting rules that are mutually agreed upon in the family environment.  Keywords: Leadership, Muslim Families, Responsibilities.  AbstrakTujuan penelitian ini yaitu untuk mengungkapkan makna dan macam-macam dari pola kepemimpinan orang tua dalam keluarga, serta pola pendidikan dan tanggung jawab orang tua terhadap anak di lingkungan keluarga muslim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research), sedangkan laporan hasil penelitian menggunakan analisis isi dan analisis deskriptif. Data penelitian ini digali dari Al-Qur’an, Hadis, berbagai kitab, jurnal ilmiah, buku teks dll. Kajian penelitian ini menghasilkan temuan bahwa pola pendidikan yang diberikan orangtua terhadap anak harus melihat dari segi perkembangan anak itu sendiri dan disesuaikan dengan hal-hal yang mudah untuk diterimanya, baik aspek material maupun aspek spiritual dalam kaidah Islam. Ada lima fase perkembangan dan tanggung jawabnya terhadap anak dalam keluarga muslim, pertama fase pranatal (masa pembuahan hingga lahir sekitar 9 bulan) seperti selalu mendoakannya, shalat, menjaga perkataan, senantiasa membaca Al-Qur’an, menjaga moral dan aqidah. Kedua, fase thufulah (0-7 tahun) mengumandangkan adzan ketika lahir, memberi nama yang baik, aqiqah, memberikan iman dan ketauhidan yang mudah dimengerti, membiasakan hal yang baik. Ketiga, tahap tamyiz (7-14 tahun) diperintahkan untuk shalat, mengawasi pergaulan anak, dan memberikan kepercayaan atau sebuah amanah. Keempat fase baligh (kurang lebih 15 tahun) membentuk mentalitas keluarga serta memberikan pendidikan seks. Kelima fase Ar-Rusyd (15 tahun ke atas) tidak memberikan tekanan dengan membuat hubungan selayaknya teman serta mengikutsertakan dalam menetapkan aturan yang disepakati bersama dalam lingkungan keluarga. Kata Kunci: Keluarga Muslim, Kepemimpinan,Tanggung Jawab.
PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER SOPAN SANTUN MELALUI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MADRASAH IBTIDAIYAH INAYATUSHSHIBYAN 2 KOTA BANJARMASIN Norina Wasriyani
Jurnal Tunas Bangsa Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/tunasbangsa.v10i2.2061

Abstract

Proses pendidikan diperlukan adanya bimbingan, pembiasaan, keteladanan dari lingkungan sekitar sehingga diperlukan adanya penanaman karakter sopan santun sejak dini. Pengintegrasian pendidikan karakter pada mata pelajaran Akidah Akhlak perlunya untuk memasukkan nilai-nilai karakter pada proses kegiatan belajar mengajar dengan mengaplikasikan pembiasaan, penanaman nilai, dan keteladanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana penanaman karakter sopan santun yang dilakukan guru MI Inayatushshibyan 2 kota Banjarmasin terhadap peserta didik kelas 1. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Peneliti dalam penelitian kualitatif berperan sebagai instrument utama untuk pengumpulan data dan menghasilkan data dengan pedoman wawancara dan observasi. Wawancara yang dilakukan secara mendalam dapat memahami nilai-nilai yang tergambar, perilaku, dan ucapan yang dilakukan subjek penelitian melalui interaksi social Hasil penelitian ini melalui observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa: (1) Penanaman karakter sopan santun di MI Inayatushshibyan 2 kota Banjarmasin pada kelas 1 melalui model role playing, dan metode keteladanan dan pembiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (2) Kegiatan keseharian di sekolah guru telah menanamkan karakter sopan santun melalui indikator mengormati yang lebih tua, berkata sopan, dan 3 S (salam sopan santun). (3) Hambatan dihadapi guru dalam penanaman karakter sopan santun yaitu minimnya komunikasi guru dengan wali murid untuk mengehui perkembangan karakter siswa di rumah maupun di lingkungan masyarakat.AbstractThe education process requires guidance, habituation, and example from the surrounding environment so that it is necessary to instill good manners from an early age. Integrating character education in the Aqidah Morals subject requires including character values ​​in the process of teaching and learning activities by applying habituation, instilling values, and example. The aim of this research is to find out how the character of good manners is cultivated by teachers at MI Inayatushshibyan 2 Banjarmasin city towards class 1 students. This research method uses descriptive qualitative with data collection using observation, interview and documentation techniques. Researchers in qualitative research act as the main instrument for collecting data and producing data using interview and observation guidelines. Interviews conducted in depth can understand the values ​​depicted, behavior and speech made by research subjects through social interactions. The results of this research through observations and interviews can be seen that: (1) The cultivation of polite character at MI Inayatushshibyan 2 Banjarmasin city in the classroom 1 through role playing models, and exemplary and habituation methods that are applied in everyday life. (2) Teachers' daily activities at school have instilled the character of good manners through the indicators of respecting elders, speaking politely, and the 3 S (greeting, polite, smile). (3) The obstacle faced by teachers in cultivating polite character is the lack of communication between teachers and student parents to understand the development of students' character at home and in the community.