Seiring dengan perkembangan teknologi, berbagai media sosial muncul dan dapat digunakan untuk mencari informasi dan hiburan. Media sosial memberi kemudahan bagi para penggunanya untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara virtual. Kehadiran media sosial juga dapat memunculkan berbagai bentuk kejahatan di dunia maya. The Tinder Swindler merupakan salah satu film dokumenter yang menampilkan cerita tentang kejahatan dunia maya pada media sosial yang berbentuk aplikasi kencan atau dating apps, yaitu Tinder. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerimaan pengguna media sosial terhadap kejahatan dunia maya seperti yang ditampilkan pada film dokumenter The Tinder Swindler. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi dari Stuart Hall. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap informan yang merupakan pengguna media sosial memiliki respon yang beragam karena dipengaruhi oleh field of experience dan frame of reference. Para pengguna media sosial pada posisi dominant-hegemonic menerima bahwa aplikasi kencan Tinder berpotensi memunculkan tindakan penipuan hingga memunculkan ketakutan dan trust issue terhadap orang baru yang ditemui di media sosial. Para pengguna media sosial yang masuk dalam kategori negotiated menjadikan menerima adanya peluang kejahatan dunia maya pada aplikasi Tinder namun hal tersebut tidak secara langsung akan mempengaruhi penggunaan media sosial. Pada penelitian ini, tidak ditemukan adanya informan yang masuk dalam kategori oppositional karena seluruh informan sudah mengetahui bahaya kejahatan dunia maya.