Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Interpretasi Nilai Kearifan Lokal Minangkabau dalam Lirik Lagu “Pasan Buruang” sebagai Upaya Penanaman Mitigasi Bencana dalam Pembelajaran Sosiologi Dendy Marta Putra; Nurlizawati Nurlizawati
Naradidik: Journal of Education and Pedagogy Vol. 1 No. 2 (2022): Naradidik: Journal of Education & Pedagogy (June 2022)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.955 KB) | DOI: 10.24036/nara.v1i2.37

Abstract

This paper describes sociology learning that is integrated with the value of local wisdom in facing the challenges of living in a disaster area. One of the disasters that often occur and have a major impact on people's lives is flooding and banjir bandang (galodo). One way to deal with natural disasters is to understand how to deal with disasters, therefore it is necessary to understand disaster mitigation. Disaster mitigation education is an effort to overcome and minimize the impact if a disaster occurs, so it is important for teachers to teach disaster mitigation education, which will later be beneficial for students in interacting with the environment. One of the appropriate materials to teach disaster mitigation education is local wisdom material. The form of local wisdom that exists in Minangkabau is a song, one of the songs that contains the value of local wisdom in dealing with disasters is "pasan buruang". Few students know this song, so the teacher needs to teach the value of local wisdom contained in this song. This research is a descriptive qualitative research, using interview, observation and documentation methods. The theory used in analyzing the results of this study is the theory of cognitivism proposed by Jean Piaget. The results of this study indicate that the method of group discussion and choir is a way for students to appreciate the meaning of the pasan buruang song and with this chorus method students feel interested in collaborating with other friends to find the meaning of this song. Teaching the local wisdom of the pasanburuang song with the chorus method increased the enthusiasm of the eleventh graders.
Pendampingan Penyusunan Modul P5 Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen pada Kurikulum Mardeka mewujudkan Quality Educations (SDGS) di SMA Negeri 1 Basa Ampek Balai Nurlizawati Nurlizawati; Junaidi Junaidi; Dendy Marta Putra
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 2 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i2.1093

Abstract

Pada tahun ajaran 2023/2024, Kurikulum Merdeka ditetapkan sebagai kurikulum nasional untuk mengatasi learning loss selama pandemi Covid-19 dan memberikan kebebasan belajar yang lebih luas bagi peserta didik. SMA Negeri 1 Basa Ampek Balai Kabupaten Pesisir Selatan, meskipun berakreditasi B, telah menerapkan Kurikulum Merdeka sejak tahun ajaran 2022/2023. Sekolah ini belum menjadi sekolah penggerak, meski memiliki potensi dengan adanya dua guru penggerak dan dua pengajar praktik. Guru penggerak berperan dalam mengarahkan siswa untuk mengembangkan pemikiran kritis, kreativitas, dan mewujudkan profil pelajar Pancasila. Penguatan profil Pancasila diintegrasikan dalam kegiatan intrakurikuler dan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). Studi dokumen dan wawancara menunjukkan bahwa pelaksanaan P5 di SMA Negeri 1 Basa Ampek Balai masih menghadapi kendala, terutama dalam penilaian dan pelaksanaan. Penilaian hanya dilakukan di akhir proyek, mengabaikan penilaian proses. Seharusnya, penilaian melihat kemajuan setiap pertemuan. Modul P5 belum memberikan petunjuk yang jelas dalam materi, metode, dan penilaian, serta instrumen penilaian belum kontekstual dengan tema yang dilaksanakan. Kendala ini timbul karena beberapa guru belum memahami tujuan penerapan P5 dan belum mampu merancang modul proyek serta instrumen penilaian yang tepat. Pentingnya modul P5 yang berdiferensiasi dan instrumen penilaian yang tepat sangat perlu dipahami oleh guru, sehingga penilaian tidak hanya dilakukan di akhir proyek tanpa instrumen yang tepat. Maka dari itu, perlu peningkatan kompetensi guru dalam merancang instrumen penilaian P5 yang berdiferensiasi.