Asmyta Surbakti
University of Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SEMIOTIKA BUSANA TRADISIONAL PERKAWINAN ADAT KARO Reja Aprilla Brahmana; Mulyadi Mulyadi; Asmyta Surbakti
LINGUA : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 20 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Center of Language and Cultural Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30957/lingua.v20i1.807

Abstract

Penelitian ini menganalisis semiotika busana pada busana tradisional perkawinan adat Karo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Barthes. Busana sebagai sarana komunikasi dalam sebuah budaya untuk memperkenalkan busana tradisional dan pakaian sebagai salah satu cara menyampaikan identitas sebagaian kelompok. Pakaian juga menampilkan berbagai fungsi dan makna yang ada di dalamnya. Analisis semiotik pada pakaian atau busana tradisional perkawinan adat Karo ditemukan beberapa warna, yakni hitam/mbiring bermakna duka, kelam, teduh (megenggeng), biru/biru bermakna damai, tentram (perkeleng), kuning/megersing bermakna agung, mahal (mehaga), merah/megara bermakna berani berbuat demi kepentingan umum (mbisa), putih/mbentar/mbulan bermakna suci dan bersih (sabar), hijau/meratah bermakna sejuk dan subur (mehumur). Kemudian beberapa uis/kain yang dipakai oleh pengantin adat Karo pada saat upacara adat yaitu, uis gatip atau gonje, uis beka buluh, emas sertali (sertali layang-layang, sertali rumah-rumah, rudang emas, gelang sarong, sarung/selendang sarung (kadangen). Sedangkan wanita memakai tudung mbiring/teger limpek, uis julu, kampil/tempat sirih, emas sertali (sertali layang-layang atau bura), sertali layang- layang kitik, kodang-kodang, uis nipes.
Travelling through Text: Representation of Toba Batak Cultures in Suhunan’s Sordam in Promoting Toba Tourist Destinations in North Sumatra, Indonesia Bertova Simanihuruk; Asmyta Surbakti; I Nyoman Darma Putra; Eddy Setia
English Language and Literature International Conference (ELLiC) Proceedings Vol 6 (2023): Transforming Paradigm, Diversity, and Challenges in English Language Learning, Linguis
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Literature and tourism are intertwined in a reciprocal relationship, where many literary works draw inspiration from the world of tourism, and many tourist attractions are promoted in literary works. This article investigates the representation of Toba Batak cultures depicted in Sordam (2010), a novel by Suhunan Situmorang, and its relationship with promoting Toba tourist destinations. By employing qualitative approach, this study collects data from the novel and analyses them using the literary tourism approach and intertextuality theory. The results show that Sordam frames its narration through three main Toba Batak cultures: saur matua death ceremony, mangongkal holi tradition, and spirit summoning ritual. It is done so by inserting some intermingled stories to support its narrations, such as the story of Lake Toba occurrence from two perspectives, cultural materials, historical notes, myths, and magical realism. By creatively providing natural and cultural attractions of Toba Batak, Sordam persuades readers to travel through text and intertextuality. In this viewpoint, Sordam presents itself directly or indirectly as a medium for promoting Toba tourist destinations. Hence, by exploring readers' experiences traveling through text, this article strengthens the reciprocal relationship between literary works and the tourism world.