Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Hubungan Parameter Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-A Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Teri (Stelophorus sp) Pada Bagan Perahu Melalui Citra Satelit VIIRS di Perairan Demak Irfan Firmansyah; Kukuh Eko Prihantoko; Imam Triarso
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 22, No 1 (2023): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v22i1.2440

Abstract

Bagan Perahu merupakan salah satu alat penangkapan ikan yang dioperasikan oleh nelayan di perairan Demak dengan fish target ikan teri (Stolephorus sp). Alat tangkap ini dioperasikan secara pasif di perairan menggunakan lampu sebagai alat bantu pengumpul ikan. Mayoritas nelayan mengoperasikan Bagan Perahu pada fishing ground yang ditentukan berdasarkan perkiraan dari pengalaman-pengalaman operasi penangkapan ikan yang lalu. Hal ini memiliki resiko pada perolehan ikan hasil tangkapan dan tingginya operational cost yang dikeluarkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan parameter Suhu Permukaan Laut (SPL) dan klorofil-a terhadap hasil tangkapan ikan teri pada Bagan Perahu, sehingga dapat memberikan informasi mengenai potensi lokasi fishing ground secara presisi dan nelayan dapat menghindari kehilangan operational cost. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengoperasian Bagan Perahu pada 7 (tujuh) titik lokasi dan melakukan pengambilan data yang terdiri dari bobot ikan tangkapan, dan SPL. Selain itu, digunakan data SPL dan klorofil-a level 3 periode 2017-2019 dari citra satelit NPP VIIRS untuk analisis spasial dan selanjutnya dilakukan analisis korelasi untuk menjawab tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan teri secara maksimal pada SPL 29-30ᵒC dan konsentrasi klorofil-a 0,46-0,50 mg/m3. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara SPL dan klorofil-a terhadap hasil tangkapan ikan teri dengan nilai p ≥ 8,20. Berdasarkan analisis spasial diperoleh 2 titik lokasi fishing ground potensial untuk penangkapan ikan teri yaitu pada koordinat 6º 51' 30" LS - 110º 24' 0" BT dan 6º 40' 0" LS - 110º 24' 0" BT.
Fishermen empowerment and marine conservation based on TURING in tackling ghost fishing Sholichin Adji Saputro; Kukuh Eko Prihantoko; Rafi Zulmy Saputra; Revinda Aradea Adat; Nasheila Mutia Zanjabila
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 1 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i1.82368

Abstract

The natural resources potential of Samas Beach has led to the use of fishing gear. Fishing nets made of nylon take a very long time to decompose. Ghost fishing is a phenomenon where fish are caught by nets that have been lost or abandoned at sea. Ghost fishing has a profound impact on the marine environment. This impact is not only ecological, economic, and social, but also particularly affects small-scale fishermen who experience a decline in income due to reduced fish stocks. The abandoned fishing gear at Samas Beach is a result of the gear's deterioration. Based on the issues and events occurring at the location, the TURING Team from the University of Diponegoro PKM-PM initiated an innovation in the form of a net collection device called TURING. The methods used include interviews and data analysis. The implementation of TURING is expected to benefit coastal communities due to its ease of implementation, readily available raw materials, and cost-effective efficiency. The objective of the PKM-PM initiative is to provide guidance, training, and empowerment to the coastal communities of Samas Beach in addressing ghost fishing and sea turtle conservation through the development of TURING.   Abstrak Potensi sumber daya alam di Pantai Samas menimbulkan aktivitas penggunaan alat tangkap. Jaring ikan yang terbuat dari bahan nilon sangat lama untuk menguraikannnya. Ghost fishing merupakan suatu keadaan ikan tertangkap oleh jaring yang sudah hilang di perairan laut. Ghost fishing memiliki dampak yang serius pada lingkungan laut. Dampak ini tidak hanya bersifat ekologis, ekonomis dan sosial, terutama bagi nelayan kecil yang mengalami penurunan pendapatan akibat berkurangnya stok ikan. Alat tangkap yang terbengkalai di Pantai Samas disebabkan oleh faktor rusaknya alat tangkap. Berdasarkan permasalahan dan peristiwa yang terjadi di lokasi, Tim TURING Universitas Diponegoro PKM-PM berinisiatif melalui sebuah inovasi alat penampung jaring dengan sebutan TURING. Metode yang diguanakan yaitu menggunakan metode wawacara dan analisis data. Penerapan TURING diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat pesisir dikarenakan konsep yang sangat mudah diimplementasi oleh masyarakat, bahan baku yang mudah ditemukan serta efisiensi biaya yang lebih terjangkau. Tujuan dari gagasan PKM-PM adalah melakukan pendampingan, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir Pantai Samas dalam upaya mengatasi ghost fishing dan konservasi penyu dengan membuat TURING. Kata Kunci: alat memancing; ghost fishing; pemberdayaan nelayan; TURING