Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

VARIASI KETEBALAN MEDIA BIO CERAMIC BALL FILTER UNTUK MENURUNKAN TOTAL COLIFORM PADA AIR MINUM Devira Nuradzila Wahyudiniar; Pujiono Pujiono
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v15i1.2219

Abstract

Air minum sebagai salah satu kebutuhan penting untuk manusia, sehingga harus sesuai dengan regulasi yang ditetapkan. Air minum yang ada di Kantin PT. X melakukan pengolahan hanya dengan memasak air hingga mendidih, hasil pemeriksaan kualitas bakteriologis tidak memenuhi syarat untuk parameter Coliform sebesar 119 APM/100 ml menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Sumber air berasal dari sumur bor, jarak sumur bor < 10 meter sumber pencemar. Perlu adanya pengolahan tambahan dengan metode filtrasi menggunakan filter Bio Ceramic Ball untuk menurunkan nilai total Bakteri Coliform. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas variasi ketebalan filter Bio Ceramic Ball terhadap penurunan total Coliform, dengan variasi ketebalan 25 cm, 30 cm, dan 35 cm. Jenis penelitian ini yaitu penelitian eksperimen dengan desain pretest postest whitout control. Besar sampel sebanyak 36 sampel dengan kebutuhan air minum untuk pemeriksaan sebanyak 3,6 liter. uji yang dilakukan menggunakan uji one way anova karena data penelitian berdistribusi normal. Rata-rata penurunan nilai total Coliform pada variasi ketebalan 25 cm sebesar 104 APM/100 ml, variasi ketebalan 30 cm sebesar 112 APM/100 ml dan variasi ketebalan 35 cm sebesar 116 APM/100 ml. Ini menunjukkan hasil penelitian  yang paling efektif  penurunan total Bakteri Coliform adalah ketebalan filter Bio Ceramic Ball 35 cm yang mencapai 99,02%. Ketebalan dapat ditingkatkan sehingga hasilnya lebih baik.
Pelatihan dan Pendampingan Diversifikasi Produk Penanganan Sampah Rumah Tangga Bagi Santri Sri Slamet Mulyati; Irmawartini Irmawartini; Pujiono Pujiono
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 3 No 2 (2023): JPMI - April 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.956

Abstract

Pondok pesantren merupakan salah satu fasilitas umum di bidang pendidikan. Setiap fasilitas umum termasuk pondok pesantren wajib melakukan pengawasan kesehatan lingkungannya. Penyehatan tanah dan pengelolaan sampah padat merupakan upaya meningkatkan kualitas lingkungan. Apabila mengacu pada idealisme regulasi, sampah tidak boleh dibuang melainkan dikelola. Upaya minimal pengelolaan sampah minimal 3 R yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle. Komposting merupakan salah satu contoh pengolahan sampah sederhana yang bisa diterapkan di lingkungan pondok pesantren. Para santri pondok pesantren Al-Musyahadah yang terbagi ke dalam 4 Pokja ( Kelompok Kerja) mampu melakukan komposting dengan metode Takakura setelah sebelumnya diberikan contoh oleh tim pengabdian masyarakat. Secara umum pengetahuan pengelolaan sampah para santri sudah sangat baik dengan nilai rerata 84,66%. Partisipasi santri laki-laki dan perempuan juga sangat baik yang ditunjukkan dengan keikutsertaan saat pengisian kuesioner, penyuluhan, demo alat, dan praktik komposting sampai menghasilkan kompos jadi. Perlu dilengkapi pelatihan sederhana lainnya seperti manajemen pemasaran produk kompos jadi dan cara packagingnya yang menarik sehingga menjadi “value” bagi pondok pesantren.
PENANGANAN LIMBAH MEDIS PADAT DAN LIMBAH MEDIS CAIR Rida Almira Septiani; Ati Nurhayati; Pujiono Pujiono
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v15i1.2215

Abstract

Rumah duka X merupakan salah satu tempat yang digunakan untuk kegiatan kedukaan di Kota Bandung. Kegiatan yang berlangsung di rumah duka X melibatkan banyak orang sehingga pengendalian kesehatan harus diperhatikan guna mencegah terjadinya penularan penyakit dari limbah medis padat dan cair yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini mengetahui penanganan limbah medis padat dan limbah medis cair di rumah duka X. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan metode observasi kondisi rumah duka, serta dilakukan metode survey dengan adanya suatu riset yang dilengkapi dengan nilai atau angka hasil observasi. Hasil penelitian di rumah duka terdapat kegiatan pemandian jenazah yang menghasilkan limbah medis padat dengan rata-rata besar timbulan sebesar 1,41 kg/hari dan limbah medis cair dengan besar volume 200 liter/pemandian jenazah. Rumah duka X belum sepenuhnya menjalankan penanganan yang sesuai dengan ketentuan, dimana terdapat hasil 75% tidak memenuhi syarat pada tahap penanganan limbah medis padat, dan 50% tidak memenuhi syarat pada tahap penanganan limbah medis cair. Rumah duka X disarankan dapat menjalankan penanganan limbah medis padat dan limbah medis cair sesuai dengan peraturan yang berlaku, yaitu menyediakan kantong plastik warnanya disesuaikan dengan karakteristik limbah untuk pewadahan, memasang label peringatan limbah B3, memisahkan TPS dan bak penampung sementara antara limbah medis dengan limbah domestik, serta segera menyelesaikan perizinan penanganan limbah B3 agar dapat menjalankan penanganan dengan baik.
FAKTOR KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KELELAHAN PEKERJA Ati Nurhayati; Nurul Hidayah; Pujiono Pujiono
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 35 No. 2 (2025): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v35i2.2731

Abstract

PT. X is a manufacturing industry located in Cimahi City. The working environment at PT. X has a fairly hot air temperature caused by the production process. Hot temperatures are one of the work environment factors that pose a risk to workers' health. Hot temperatures are one of the work environment factors that have a risk to the health of workers such as workers experiencing fatigue. The study aimed to determine the relation of individual characteristics and environmental factors on worker fatigue at PT.X. This research was analytical with cross-sectional design. While environmental factor variables consist of noise levels and lighting levels in the environment around workers during work. The sample wass PT.X workers in the production department as many as 32 people. Sampling was done by purposive sampling. Research data were obtained through interviews and measurements. Interviews were conducted to obtain individual characteristic data. Measurements were conducted to obtain data on the level of disturbance, level of disturbance, heat stress and worker fatigue variables.The results showed that out of 32 respondents, 17 people (53.1%) experienced fatigue. The results of the Chi-square test obtained a p-value of 0.014 on the heat stress variable indicating the influence of heat stress on worker fatigue at PT.X. Workers exposed to heat stress and experiencing fatigue were 14 people (73.3%). Worker fatigue affects productivity and if not immediately addressed can cause work accidents so that the company must pay more attention to the safety and health of its workers from exposure to environmental factors.
The effect of various types of personal protective equipment materials (work clothing) on fatigue in workers exposed to heat Ati Nurhayati; Pujiono Pujiono
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 36 No. 2 (2026): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v36i2.4546

Abstract

Background: Tofu production workers are exposed to hot working environments, placing them at increased risk of physiological strain and work-related fatigue. One strategy to minimize these adverse effects is the use of appropriate personal protective equipment (PPE), particularly work clothing made from suitable fabric materials. Objective: This study aimed to analyze the effect of different work clothing materials on the fatigue levels of tofu production workers exposed to hot working environments. Methods: This study employed a quasi-experimental design with a comparative approach and was conducted in 2025 at Tofu Industry X. All six production workers were recruited as respondents using a total sampling technique. The intervention consisted of three types of work clothing made from polyester, cotton, and Chief Value Cotton (CVC), with each type worn for one hour while performing the same work activities. Fatigue levels were assessed using the Fatigue Assessment Scale (FAS). The data were analyzed using one-way analysis of variance (One-Way ANOVA) with a significance level of 0.05. Results: The production room temperature reached 28.9°C, exceeding the recommended workplace temperature standard (24–27°C). The analysis revealed a statistically significant difference in workers' fatigue levels according to the type of work clothing material (p < 0.001). Cotton work clothing resulted in the lowest fatigue scores compared with polyester and CVC. Conclusion: The type of work clothing material significantly affected workers' fatigue levels in hot working environments. Cotton work clothing was the most effective material for reducing fatigue among tofu production workers.