Krystiadi Krystiadi
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perjodohan Antasena dengan Manuwati dalam Lakon Antasena Rabi Ki Anom Suroto, Kajian Mitologi Ritual Krystiadi Krystiadi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 5, No 1 (2021): Maret 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v5i1.5821

Abstract

AbstractThis paper discusses the meaning of Antasena having a match with Manuwati in the lakon Antasena Rabi presented by Ki Anom Suroto. Research data in the form of cassette tape recordings. This study uses a ritual mythology approach and asma kinarya japa. The method used in this study is analytical description. The recorded data of the audio wayang performance is listened to and then summarized according to the conventional structure of the wayang performance. The results showed that Antasena, who at first did not want to get married, actually had an arranged marriage with Manuwati. Lesmana, Samba, Wisatha, Purwaganti who also wants to marry Manuwati, is not in a relationship with Manuwati. Antasena and Manuwati are matched because they both have the same mythical aspect, namely the mythical aspects of Kamajaya and Shiva. The thing that determines the match between the two is the ritual aspect in the form of a war competition. The contest in the form of war is a tantric ritual level as a hallmark of the Shiva myth. Manuwati’s tantric level only fits the mythical aspect of Antasena. Antareja’s marriage with Manuwati means that shrimp can only live in water.AbstrakTulisan ini membahas makna Antasena berjodoh dengan Manuwati dalam lakon Antasena Rabi sajian Ki Anom Suroto. Data kajian berupa rekaman pita kaset. Penelitian ini menggunakan pendekatan mitologi ritual dan asma kinarya japa. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskripsi analitis. Pertama-tama data rekaman pertunjukan wayang kulit yang berupa audio disimak kemudian diringkas sesuai struktur lakon wayang konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Antasena yang pada awalnya tidak ingin menikah justru berjodoh dengan Manuwati. Pelamar lain seperti Lesmana, Samba, Wisatha, Purwaganti yang ingin menikah justru tidak berjodoh dengan Manuwati. Hal yang paling menentukan perjodohan keduanya adalah tataran ritual yang berupa sayembara perang. Sayembara perang sebagai aspek ritual menunjukkan bahwa mite Kamajaya dan kapasitas air dengan tataran ritual wedik sangat kuat dalam sayembara ini. Sehingga dari sekian pelamar tersebut hanya Antasena yang berhak menjadi jodoh Manuwati karena Antasena memiliki aspek mite air, Indra, dan Kamajaya yang sama. Lakon ini    menunjukkan bahwa perjodohan antara Antasena dan Manuwati merupakan penyatuan antara Mangkara (udang) dengan air. Antasena dengan kapasitas udangnya bisa “hidup” apabila menyatu dengan Manuwati dengan kapasitasnya sebagai air.
Struktur Naratif Lakon Bratayuda Jombor Krystiadi, Krystiadi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i1.12419

Abstract

AbstractThe Jombor version of the Bratayuda Puppet Performance (PWLB) has developed since the end of the 19th century. Since 2005, the Jombor version of PWLB has never been performed anymore. In fact, the Jombor version of PWLB has unique pattern and structure of performance. Given these things, preservation and documentation of the Jombor version of PWLB are urgently needed. Therefore, the transcription and discovery of the Jombor version of PWLB structure pattern by Ki Kristiaji is important. This study has used Becker’s narrative structure simplified by Kasidi to find the pattern of PWLB structure. This study has also used analytical description method. The results of the analysis show that there are several scenes and war scenes of traditional patterns that are not found in the Jombor version of PWLB. These scenes include scenes of gapuran, kondur kedhaton, kapalan, pandhita, sintrèn, gambyongan, and all kinds of wars. The performance structure that is strictly followed is the division of the performance into three timelines, but the internal structure of the timeline such as the main scene is not always followed and ended by war. There is main scene followed by particular scene but is ended by war and there is main scene that is immediately ended by war. There is even one timeline in one scene followed by scene and war inside another main scene. Also, the internal structure of the main scene is not always composed by descriptions, dialogues, and actions. Some scenes of the Jombor version of PWLB do not have any descriptive elements. Meanwhile, the supporting elements in the form of sulukan (mood son), gending (instrumentalia), dhodhogan-keprakan are used by puppet masters by adjusting to the needs of the stage. Based on the results of the analysis, the arrangement of the scenes according to the traditional pattern and Becker’s narrative structure simplified by Kasidi is not rigid and coercive. These patterns are flexible according to the needs of the performanes.AbstrakPertunjukan Wayang Lakon Bratayuda (PWLB) versi Jombor tercatat telah berkembang sejak akhir abad 19. Sejak tahun 2005, PWLB versi Jombor tidak pernah dipentaskan lagi. Setelah ditelisik, PWLB versi Jombor memiliki keunikan dalam pola dan struktur lakonnya. Mengingat dua hal tersebut, usaha pelestarian dan pendokumentasian PWLB versi Jombor mendesak untuk dilakukan. Transkripsi dan penemuan pola struktur PWLB versi Jombor dengan dalang Ki Kristiaji dimaksudkan untuk menjawab hal itu. Dalam penelitian ini digunakan konsep struktur naratif Becker seperti direduksi oleh Kasidi untuk menemukan pola struktur PWLB. Adapun strategi analisis kajian ini menggunakan metode deskripsi analitik. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada beberapa adegan dan perang menurut pola tradisi yang tidak ditemukan dalam PWLB versi Jombor. Adegan tersebut antara lain adegan gapuran, kondur kedhaton, kapalan, pandhita, sintrèn, gambyongan, dan semua jenis perang. Struktur lakon yang diikuti secara ketat adalah pembagian lakon menjadi tiga pathet, tetapi struktur internal pathet seperti jejer tidak selalu diikuti adegan dan diakhiri perang. Terdapat jejer yang diikuti adegan tetapi tidak diakhiri perang dan ada jejer yang langsung diakhiri perang. Bahkan ada satu jejer dalam suatu pathet diikuti adegan dan perang dalam kerangka pathet yang lain. Struktur internal pathet juga tidak selalu disusun oleh deskripsi, ginem, dan tindakan. Beberapa adegan PWLB versi Jombor tidak memiliki unsur deskripsi. Sedangkan unsur penyangga berupa sulukan, gending, dhodhogan-keprakan digunakan dalang dengan menyesuaikan kebutuhan pentas. Berdasarkan hasil analisis, susunan adegan menurut pola tradisi dan konsep struktur naratif Becker yang direduksi Kasidi tidak bersifat kaku dan memaksa. Pola-pola tersebut bersifat luwes disesuaikan kebutuhan lakon.