Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : REKA RACANA

Perencanaan Kolom Komposit Silinder pada Terminal Bandara Mirara Khanza
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 9, No 1: Maret 2023
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v9i1.67

Abstract

ABSTRAKSemakin berkembangnya moda transportasi udara, kebutuhan akan infrastruktur bandara pun meningkat. Terminal bandara merupakan bagian penting dari bandara untuk kedatangan dan keberangkatan penumpang. Untuk akses yang baik, terminal membutuhkan ruang terbuka yang luas sehingga penggunaan kolom dibatasi. Dengan berkurangnya kolom, jarak antar bentang pun menjadi panjang dan gaya yang bekerja pada kolom menjadi lebih besar. Kolom harus tetap mampu menahan gaya-gaya yang bekerja walaupun dimensi kolom tidak diperbesar. Pada penelitian ini dilakukan analisis kolom komposit antara beton bertulang dan profil baja untuk mengatasi permasalahan kebutuhan bentang panjang. Kolom komposit yang direncanakan berbentuk silinder karena dinilai lebih efektif dan lebih indah dalam segi estetika. Pada penelitian ini pun juga dipaparkan analisis dari kolom beton bertulang persegi dengan lebar yang sama dengan diameter kolom silinder. Perhitungan analisis mengacu pada SNI beton dan AISC, dan dari hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa dengan diameter yang sama dengan lebar kolom beton bertulang persegi, kolom komposit silinder memiliki kapasitas aksial 17.500 kN dan kapasitas momen 200 kNm lebih besar. Sementara dari segi estetika, kolom silinder juga memiliki bentuk yang lebih indah dan volume elemen 21% lebih kecil.Kata kunci: kolom komposit silinder, bentang panjang, beton bertulang, profil baja ABSTRACTWith the development of air transportation modes, the need for airport infrastructure is also increasing. The airport terminal is an important part of the airport for the arrival and departure of passengers. For good access, the terminal needs a large open space so that the use of columns is limited. With reduced columns, the distance between spans becomes longer and the force acting on the columns becomes greater. The column must still be able to withstand the forces acting even though the column dimensions are not enlarged. In this research, the analysis of composite columns between reinforced concrete and steel profiles was carried out to overcome the problem of long span requirements. The planned composite column is cylindrical because it is considered more effective and more beautiful in terms of aesthetics. In this study also presented an analysis of a square reinforced concrete column with the same width as the diameter of a cylindrical column. Analysis calculations refer to SNI concrete and AISC, and the results of the analysis show that with the same diameter as the width of a rectangular reinforced concrete column, a cylindrical composite column has an axial capacity of 17,500 kN and a moment capacity of 200 kNm greater. Meanwhile, in terms of aesthetics, the cylindrical column also has a more beautiful shape and 21% smaller element volume.Keywords: cylindrical composite column, long span, reinforced concrete, steel profile
Pengaruh Subtitusi Parsial Variasi Tepung Kaca Terhadap Kuat Tekan Beton Geopolimer Sirait Kristin Angelika; Erma Desimaliana; Mirara Khanza
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 9, No 2: Juli 2023
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v9i2.70

Abstract

ABSTRAKSalah satu masalah utama yang dihadapi adalah tingginya emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan semen selama proses pembangunan dan penggunaan gedung. Penelitian ini dilakukan dengan membuat perbandingan agregat dan binder-nya sebesar 70%:30%, sebagai pengganti material pengikat yang digunakan yaitu fly ash dan tepung kaca, yang direaksikan dengan alkali aktivator untuk menghasilkan binder pada beton geopolimer. Alkali aktivator yang digunakan yaitu larutan NaOH konsentrasi 10M dan Na2SiO3 dengan perbandingan 1:3. Pada penelitian ini dilakukan 4 variasi benda uji berbentuk silinder ukuran 10 cm x 20 cm sebanyak 48 buah dengan perbandingan tepung kaca dan fly ash yaitu 0%:100% (variasi A), 10%:90% (variasi B), 15%:85% (variasi C), dan 25%:75% (variasi D). Metode membran diaplikasikan untuk perawatan benda uji, selanjutnya dilakukan pengujian kuat tekan beton pada umur 7, 14, dan 28 hari. Berdasarkan hasil pengujian kuat tekan beton geopolimer tertinggi yaitu pada variasi B halmana 10% tepung kaca dengan 90% fly ash, dengan nilai masing-masing sebesar 21,12 MPa; 26,80 MPa; dan 28,65 MPa pada pengujian umur beton geopolimer 7 hari, 14 hari, dan 28 hari.Kata kunci: beton geopolimer, tepung kaca, fly ash, alkali kktivator, kuat tekan beton ABSTRACTOne of the main problems faced is the high emission of carbon dioxide (CO2) produced by cement during the process of building and using the building. This research was conducted by making a ratio of aggregate and binder of 70%:30%, as a substitute for the binding material used, namely fly ash and glass powder, which were reacted with an alkaline activator to produce binder in geopolymer concrete. The alkaline activator used was a 10M concentration of NaOH and Na2SiO3 with a ratio of 1:3. In this study, 4 variations of cylindrical specimens measuring 10 cm x 20 cm were carried out with 48 pieces with a ratio of glass powder and fly ash, namely 0%:100% (variation A), 10%:90% (variation B), 15%: 85% (variation C), and 25%:75% (variation D). The membrane method was applied for the treatment of the specimens, then the compressive strength of the concrete was tested at the age of 7, 14 and 28 days. Based on the results of the geopolymer concrete compressive strength test, the highest was variation B, which was 10% glass flour and 90% fly ash, with each value of 21.12 MPa; 26.80 MPa; and 28.65 MPa on the geopolymer concrete age test of 7 days, 14 days and 28 days.Keywords: geopolymer concrete, Glass powder, fly ash, alkaline activator, concrete compressive strength 
Analisis Perilaku Struktur dan Penyebaran Gaya pada Gedung Frame-Tube Khanza, Mirara
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 10, No 3: November 2024
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v10i3.228

Abstract

ABSTRAKPerancangan gedung bertingkat tinggi pada daerah rawan gempa seperti Indonesia tergolong sulit. Gedung bertingkat tinggi cenderung memiliki fleksibilitas tinggi, sehingga perlu diperhatikan bagaimana perilaku struktur dan penyebaran gayanya. Meskipun telah banyak tipe bangunan dengan berbagai bentuk gedung bertingkat tinggi yang telah terbangun, perilaku setiap bangunan dapat berbeda, bergantung pada bentuk denah, tipe gedung, maupun tinggi gedung. Bangunan bertingkat yang dianalisis merupakan sistem framed-tube, karena sistem ini masih terbilang jarang untuk bangunan gedung di Indonesia. Model akan didesain menggunakan software ETABS, dengan pengecekan kriteria desain gempa mengacu pada SNI 1726:2019. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana perilaku struktur dan penyebaran gaya pada gedung bertingkat frame-tube. Dimana dengan tipe bangunan ini, diketahui bahwa elemen eksterior akan berpengaruh pada elemen interior, pun sebaliknya. Pada akhir penelitian, diketahui bahwa semakin tinggi gedung, semakin besar periode struktur dan simpangan strukturnya. Diketahui pula bahwa pada bangunan frame-tube, elemen eksternal menerima gaya lateral, sedangkan elemen internal menerima gaya gravitasi. Sehingga struktur dengan sistem framed-tube ini dinilai efektif dalam menahan gaya gempa.Kata kunci: perilaku struktur, framed-tube, penyebaran gaya, elemen eksternal, elemen interior ABSTRACTDesigning high-rise buildings in earthquake-prone areas such as Indonesia is difficult. High-rise buildings tend to have high flexibility, so it is necessary to pay attention to how the structure behaves and the distribution of forces. Although many types of buildings with various forms of high-rise buildings have been built, the behavior of each building can be different, depending on the plan form, building type, and building height. The high-rise building analyzed is a framed-tube system, as this system is still relatively rare for buildings in Indonesia. The model will be designed using ETABS software, with earthquake design criteria checking referring to SNI 1726:2019. The main objective of this research is to find out how the structural behavior and force distribution in a frame-tube high-rise building. Where with this type of building, it is known that exterior elements will affect interior elements, and vice versa. At the end of the study, it was found that the higher the building, the greater the structural period and structural deviation. It is also known that in frame-tube buildings, external elements receive lateral forces, while internal elements receive gravitational forces. So, the structure with the framed-tube system is considered effective in resisting earthquake forces.Keywords: structural behaviour, framed-tube, force distribution, external elements, interior elements