Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

IMPLEMENTATION OF PUBLIC SERVICE POLICIES IN THE OFFICE BIMA CITY WEIGHBRIDGE RETRIBUTION OFFICE Muhammad Iptidayah; Taufik Irfadat
Majalah Ilmiah Dinamika Administrasi (MIDA) Vol 20, No 1 (2023): Majalah Ilmiah Dinamika Administrasi (MIDA)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56681/da.v20i1.86

Abstract

The purpose of this stuy is to determine the principle of public service in the office of the Bima City weighbridge retribution, the population of this study is 39 respondents consisting of leaders and, drivers, and traders / entrepreneurs, given the relatively small population and easy to reach population distribution, the sample of the population using random sampling so that the sample amounted to 30 respondents. Quantitative descriptive research is research that is used to analyze data by describing it. Quantitative descriptive is meant in this study, describes and describes and analyzes the answers from the sample that provides options for the answers provided in the form of a questionnaire. The results of this study are the responses of respondents, who said that 20 people or 51.28% answered accordingly, 12 people or 30.77% answered accordingly, 7 people or 17.95% who answered did not fit. or 0% For the simplicity of public service variables, which means that services are carried out in an easy, fast, precise, straightforward, straightforward manner, easily understood by the people who carry out services Keywords; Implementation, Retribution, Public Service
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM AMBULANCE DESA POJA KECAMATAN SAPE KABUPATEN BIMA Nirwana Nirwana; Taufik Irfadat
Jurnal Ilmu Administrasi Negara Vol. 19 No. 2 (2022): Desember: Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Publisher : Universitas Mbojo Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.203 KB) | DOI: 10.59050/jian.v19i2.150

Abstract

The purpose of this study was to explain "the implementation of the poja village ambulance program policy in sape sub-district, bima district. This research uses a qualitative approach method. data sources are obtained through interviews, observation, and documentation. the village ambulance program policy is one of the public service programs found in poja village, sape sub-district, bima district. Lack of socialization to the community is also one of the factors that cause policies that have been made to be less well implemented. factors like this are less considered by those who only provide what has become a village government program. based on the results of research that has been done, it can be seen that the operational implementation of the village ambulance is still not optimal. The commitment of the implementor in this case, namely the village government, has commitment and honesty and democratic siftat where the implementor is very upholding the commitment not to accept payments for people who use ambulances, and (3) the bureaucratic structure in this program is still said to be not good because it is related to the SOP.
Peran Collaborative Governance dalam Pembangunan Desa di Desa Panda Kamaluddin Kamaluddin; Taufik Irfadat; Sajratul Aditia Kamrila
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4778

Abstract

The purpose of this study was to determine the form of collaboration between village institutions and the village government in carrying out the development of panda village, palibelo sub-district, bima district. With the research method, namely qualitative, the results of the research are that the development of panda village also collaborates and involves BPD, youth organizations, village youth, religious / community leaders. plays a very important and strategic role in national and regional development because it contains elements of equitable development and its effects directly touch the interests of rural communities and in the form of improving welfare. In Village Development, the village government as a subsystem of the Indonesian government system allows the village to have the power, duties and obligations to regulate and manage the interests of its own community, the fulfillment of the authority of duties and obligations in the administration of village government and development requires a village-level source of income. The role of the Panda Village Government in the implementation of village development includes the supply of funds. This means distributing funds from the APBDes (Village Revenue and Expenditure Budget), district government sharing funds, and social assistance program funds such as PNPM to be handed over to the community through the development implementation committee
Implementasi Strategi Komunikasi Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Kota Bima Melalui Layanan Bukti Lulus Uji Elektronik Irham Irham; Taufik Irfadat; Purnama Ramadhoan Putri
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4780

Abstract

Pelayanan bukti lulus uji elektronik unit pelaksana teknis daerah pengujian kendaraan bermotor dinas perhubungan Kota Bima telah melakukan transformasi dari layanan tradisional ke layanan digital. Keberadaanya mempermudah proses komunikasi antara penyedia layanan da n konsumen khususnya masyarat Kota Bima. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui implementasi strategi komunikasi Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Kota Bima layanan pelayanan bukti lulus uji elektronik. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati setiap proses layanan uji elektronik dan mengumpulkan berbagai bahan, catatan lapangan dan melakukan wawancara pada narasumber yang terpercaya. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang bercorak naturalistik dengan memulai pendekatan induktif secara alamiah.. Hasil temuan menunjukkan bahwa Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Kota Bima telah mengimplementasikan strategi komunikasi melalui beberapa cara yaitu mengenal masyarakat melalui identitas diri, merancang metode, melalui sosialisasi dan kerja sama dan penggunaan media online dan offline sehingga Implementasi ini dikaitkan dengan hubungan transformasi penggunaan perangkat dari tradisional ke dalam digital demi mempercepat layanan publik bagi pemilik kendaraan bermotor di kota Bima
Efektivitas Penerapan Standar Operasional Terhadap Pelayanan Publik Di Kelurahan Penanae Kota Bima Muhamad Iptidaiyah; Taufik Irfadat
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6152

Abstract

To improve the ability of the kelurahan government, both the ability to take initiatives, initiatives, planning, implementation and supervision, so as to obtain good government performance, then the kelurahan is the working area of the lurah as a district / city regional apparatus under the sub-district which is responsible to the camat. Kelurahan has the task and function of carrying out government authority delegated by the camat and carrying out other government tasks in accordance with applicable laws and regulations. The working relationship between sub-districts and urban villages is hierarchical. The establishment of the kelurahan is intended to improve the ability to implement the kelurahan government in an efficient and successful manner in providing services to the community in accordance with the level of development and progress of development. Based on the results of the researcher's observations that at the Penanae Urban Village office the Population Administration Standard Operating Procedures have been implemented and carried out, but the implementation of the SOP has not been fully effective in KK and Birth Certificate services even though a 15-minute completion time has been set but there are still delays in completion and not in accordance with the SOP in Penanae Village. The delay occurs within 1 day and even more than 1 day. Even though the SOP provision should be 15 minutes in making it.
Collaborative Governance Dalam Pembangunan Infrastruktur Di Desa Parangina Kecamatan Sape Kamaluddin; Taufik Irfadat
Jurnal Ilmu Administrasi Negara Vol. 22 No. 1 (2025): Juni: Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Publisher : Universitas Mbojo Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59050/jian.v22i1.288

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk kolaborasi antara lembaga desa dan pemerintah desa dalam proses pelaksanaan pembangunan di Desa Parangina , Kecamatan Sape, Kabupaten Bima. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan hasil temuan bahwa pembangunan desa di Desa Parangina dilakukan secara kolaboratif, melibatkan berbagai unsur seperti Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Karang Taruna, pemuda desa, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat. Semua pihak ini memegang peran penting dan strategis dalam mendukung pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah, karena pembangunan desa berkaitan erat dengan pemerataan hasil pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat perdesaan serta bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Dalam konteks pembangunan desa, pemerintah desa berperan sebagai subsistem dalam sistem pemerintahan nasional, yang memiliki kewenangan, tugas, dan tanggung jawab untuk mengatur dan mengelola kepentingan masyarakatnya secara mandiri. Pelaksanaan wewenang dan tugas tersebut, khususnya dalam pembangunan desa, tentu memerlukan dukungan sumber pendapatan desa. Salah satu peran penting Pemerintah Desa Parangina dalam pembangunan adalah sebagai penyalur dana, baik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), dana sharing dari Pemerintah Kabupaten, maupun program-program bantuan sosial seperti PNPM. Dana-dana tersebut disalurkan kepada masyarakat melalui panitia pelaksana pembangunan, dengan terlebih dahulu melalui mekanisme pengajuan proposal, musyawarah perencanaan pembangunan, dan penentuan skala prioritas secara bersama. Selain itu, dalam tahap pengawasan dan evaluasi pembangunan, Pemerintah Desa Parangina memiliki porsi peran yang lebih dominan dibandingkan masyarakat, di antaranya sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan di desa.
Menggerakkan Partisipasi Masyarakat Pada Kegiatan Gotong Royong di Desa Jia Kecamatan Sape Muhammad Iptidaiyah; Taufik Irfadat
Jurnal Ilmu Administrasi Negara Vol. 22 No. 1 (2025): Juni: Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Publisher : Universitas Mbojo Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59050/jian.v22i1.300

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap berbagai peran yang dijalankan oleh kepala desa dalam mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan gotong royong di lingkungan desa. Secara rinci, tujuan penelitian ini meliputi: a) Mengidentifikasi peran kepala desa dalam menyusun rencana partisipasi masyarakat pada kegiatan gotong royong; b) Menggambarkan peran kepala desa dalam memotivasi serta menggerakkan masyarakat agar berperan aktif dalam kegiatan tersebut; c) Menjelaskan peran kepala desa dalam melakukan pengawasan terhadap jalannya kegiatan gotong royong; dan d) Menjelaskan bagaimana kepala desa berupaya meningkatkan tingkat partisipasi warga melalui berbagai pendekatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk memperoleh gambaran yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: a) Dalam tahap perencanaan, kepala desa mempertimbangkan kondisi sosial dan kesibukan warga agar pelaksanaan gotong royong dapat diterima dan diikuti secara sukarela oleh masyarakat; b) Kepala desa berfungsi sebagai penggerak partisipasi masyarakat dengan memberikan keteladanan, motivasi, dan dorongan moral, sehingga masyarakat terdorong untuk ikut serta dalam kegiatan bersama tersebut; c) Dalam pelaksanaan kegiatan, kepala desa melakukan pengawasan, baik secara langsung maupun melalui perangkat desa, guna memastikan jalannya kegiatan sesuai dengan rencana yang telah disepakati. Meski tidak selalu hadir secara langsung, kepala desa tetap mengkoordinasikan proses pengawasan agar kegiatan gotong royong berjalan efektif dan partisipasi warga tetap terjaga.
Kebijakan Kepala Desa Dan Penguatan Partisipasi Masyarakat Dalam Tata Kelola Desa Rato Muhammad Iptidaiyah; Taufik Irfadat
Jurnal Ilmu Administrasi Negara Vol. 22 No. 2 (2025): Desember: Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Publisher : Universitas Mbojo Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59050/jian.v22i2.404

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kebijakan kepala desa dalam memperkuat partisipasi masyarakat dalam tata kelola desa, khususnya melalui kegiatan gotong royong. Tujuan penelitian ini meliputi: (a) mengkaji peran kepala desa dalam merumuskan kebijakan yang mengakomodasi keterlibatan masyarakat; (b) mendeskripsikan upaya berbasis kebijakan yang dilakukan kepala desa dalam menggerakkan dan memotivasi partisipasi warga; (c) menjelaskan fungsi pengawasan kepala desa selama pelaksanaan kegiatan kolektif; serta (d) menilai berbagai pendekatan kebijakan yang diterapkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai peran-peran tata kelola tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan, kepala desa mempertimbangkan kondisi sosial dan rutinitas harian masyarakat guna memastikan penjadwalan kegiatan yang tepat. Dalam mendorong partisipasi, kepala desa menunjukkan kepemimpinan melalui keteladanan serta memberikan motivasi untuk menumbuhkan keterlibatan kolektif. Dalam aspek pengawasan, kepala desa melakukan pengawasan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memastikan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan, meskipun tidak selalu hadir secara fisik. Peran kebijakan tersebut sangat penting dalam menjaga keberlanjutan dan efektivitas partisipasi masyarakat dalam praktik tata kelola desa.