Lawrence J.L. Lumingas
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

In Vitro Culture of Seaweed Kappaphycus alvarezii under Different Formulation of Growth Stimulating Substances and Culture Media Mega D. Dalero; Grevo S. Gerung; Edwin L.A. Ngangi; Lawrence J.L. Lumingas; Markus T. Lasut
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.23375

Abstract

This study aims at obtaining a sustainably superior seed stock following the characteristics of the parent plant, determining the best formulation of the growth stimulating substance. In general, cytokinin and auxin combination was used, but this study also added with the combination of cytokinin and giberelin and cytokinin and abscisic acid (AA).Parameters measured were bud length, number of buds, and survival rate. Bacterial Vibrio sp test was also done as a cause of the explant mortality. Results showed that the longest bud was recorded in treatment C (S+A 1:2.5) cultured in a jar, 1.343 mm long, 38% of survival, while the highest number of buds was found in treatment B (S+A 1 : 2) 8.86. The shortest bud was recorded in treatment J (S + AA 1:2.5) cultured in a jar, 0.093 mm long, 2.64 buds, 10% of survival, while the explant cultured in the bottle had a length of 0.051 mm long, 1.50 buds, 4% of survival. As conclusion, the best growth stimulating substance was found in the treatment C for the bud length and the survival rate, while the best number of bud was recorded in the treatment B. The best culture tank was topless bottle (aerated). In vitro culture could also use S + G formulation. The explant mortality was caused by Vibrio charchariae. The use of S + AA formulation had lower growth than that of control treatment.Keywords :in vitro, growth stimulating substance, culture media, Kappaphycus alvarezii, Vibrio charchariae ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh benih unggul secara berkelanjutan yang mengikuti karakteristik dari tanaman induk, menentukan formulasi terbaik dari substansi pertumbuhan merangsang. Secara umum, kombinasi sitokinin dan auksin digunakan, tetapi penelitian ini juga menambahkankombinasi sitokinin, giberelin, sitokinin dan asam absisat (AA). Parameter yang diukur adalah panjang tunas, jumlah tunas, dan tingkat kelangsungan hidup. Bakteri Vibrio Uji sp juga dilakukan sebagai penyebab kematian eksplan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas terpanjang terdapat pada perlakuan C (S + A 1: 2,5)  kultur dalam toples, 1,343 mm, 38% hidup, sementara jumlah tertinggi tunas ditemukan pada perlakuan B (S + A 1: 2) 8.86 . Jumlah tunas paling sedikit terdapat pada perlakuan J (S + AA 1: 2,5) yang dikultur dalam toples, 0,093 mm, 2,64 tunas, 10% hidup, sedangkan eksplan yang dikultur dalam botol memiliki panjang 0.051 mm, 1. 50 tunas , 4% bertahan hidup. Sebagai kesimpulan, pertumbuhan terbaik merangsang zat ditemukan dalam perlakuan C untuk panjang tunas dan tingkat kelangsungan hidup, sementara jumlah tunas terbanyak ditemukan pada perlakuan B. Penggunaan wadah budaya terbaik adalah topless yang diaerasi. Kultur in vitro juga dapat menggunakan formulasi S + G. Kematian eksplan disebabkan oleh Vibrio charchariae . Penggunaan formulasi S + AA memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dari pada pengobatan kontrol .Kata kunci : in vitro, zat perangsang tumbuh, media kultur, Kappaphycus alvarezii, Vibrio charchariae
STRUKTUR KOMUNITAS TERIPANG (HOLOTHUROIDEA) DI KAWASAN PANTAI DESA ONDONG KECAMATAN SIAU BARAT KABUPATEN SIAU TAGULANDANG BIARO1 Syafludin Lagio; Lawrence J.L. Lumingas; Gaspar D. Manu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 2 No. 3 (2014): EDISI SEPTEMBER-DESEMBER 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.3.2014.9122

Abstract

Sea cucumbers is a group of marine invertebrates belonging to class  holothuroidea. At this time, the hunting for sea cucumber is not just targetted on the expensive species, but also the cheap one. The exploitation pressure has caused population decline which  can cause changes in their community structure. This research was aimed to understand the types of sea cucumber, analyze the structure of the community sea cucumber which includes the density of individuals, diversity index, the dominance index, interspecific  and the dispersion pattern. Sample collection was done at night at the lowest tide in December, 2013. Based on the research activities in the coastal areas of Ondong, west Siau district, Siau-Tagulandang-Biaro regency, 7 species of holothuroidea were found : Holothuria atra, Holothuria leucospilota, Actinopyga echinites, Actinopyga lecanora, Bohadschia argus, Bohadschia marmorata and bohadschia vitiensis, respectively with mean individual density of 0.797 ind/m2, diversity index (H’ = 1.718), equity index or harmony (e = 0. 883), dominance index (C = 0.218), interspecific association between 7 species forming 5 pairs of positive associations and 16 pairs of negative association andrandomdistribution. Keywords : Structure communities, sea cucumber, Ondong, Sitaro   ABSTRAK Teripangadalah sekelompokinvertebrata lautyang termasuk dalam kelasHolothuroidea. Pada saat ini, perburuanuntukteripangtidak hanyaditargetkanpada spesiesmahal, tetapi jugayang murah. Tekananeksploitasitelah menyebabkanpenurunan populasiyang dapat menyebabkanperubahan pada strukturkomunitasnya. Penelitian inibertujuan untukmemahami jenisteripang, menganalisisstrukturteripangyang meliputikepadatanindividu, indeks keanekaragaman, indeksdominasi, asosiasi antar spesies danpola penyebaran. Pengambilan sampeldilakukanpada malam harisaat surut terendahpada bulan Desember2013.Berdasarkankegiatan penelitiandiwilayah pesisirOndong, kecamatan SiaubaratKabupatenSiau-Tagulandang-Biaro, ditemukan 7spesiesteripang : Holothuriaatra, Holothurialeucospilota, Actinopygaechinites, Actinopygalecanora, Bohadschiaargus, Bohadschiamarmoratadanbohadschiavitiensis,masing-masing dengankepadatan individurata-rata0.797ind/m, indeks keanekaragaman(H' = 1.718), indekskemerataan atau keserasian(e = 0.883), indeksdominansi(C = 0.218), asosiasiantar 7spesiesmembentuk5pasangasosiasipositif dan16pasangasosiasinegatif danpenyebaran acak.   Kata kunci : Struktur komunitas, teripang, Ondong, Sitaro   1Bagian dari skripsi 2Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK-UNSRAT 3Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
The use of fish silage in different composition for the growth of carp Cyprinus carpio L. Julio David; Sartje Lantu; Henneke Pangkey; Lawrence J.L. Lumingas; Jeffrie F. Mokolensang; Juliaan Ch. Watung
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.23725

Abstract

This study aims to examine the fish silage for total gain weight, growth rate, and the specific growth rate of common carp (Cyprinus carpio L.), which is cultivated in 12 nets (1x0,5x1m), with the density of 10 fish (3-5 cm) on each net. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications; treatment A with 10% fish silage, treatment B with fish silage 20%, treatment C with 30% fish silage and treatment D were commercial pellet. The ANOVA test showed that the treatment effect among feed A, B, C, and D tested did not give a significant difference to total gain weight, growth rate and the specific growth of carp fry.Keyword: common carp, fish silage, fish feed, growth ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menelaah pemberian silase ikan bagi pertumbuhan mutlak, pertumbuhan nisbi, dan pertumbuhan harian ikan mas (Cyprinus carpio L.), yang dipelihara dalam petak-petak jaring berukuran 1x 0,5 x 1 m, dengan padat penebaran 10 ekor ikan berukuran  3-5 cm. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan; perlakuan A pelet berkomposisi silase ikan 10%, perlakuan B pelet berkomposisi silase ikan 20 %, perlakuan C pelet berkomposisi silase ikan 30 % dan perlakuan D adalah pelet komersil. Uji ANOVA menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan di antara pakan A, B, C, dan D yang diujicobakan tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan mutlak, pertumbuhan nisbi dan pertumbuhan harian benih ikan mas.Kata kunci : ikan mas, silase ikan, pakan ikan, pertumbuhan