Moh. Fathurrahman
Universitas Negeri Semarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada Kurikulum Merdeka di SD Nasima Kota Semarang Tri Sulistiyaningrum; Moh. Fathurrahman
widiyanto Vol 9, No 2 (2023): JPK, Jurnal Profesi Keguruan
Publisher : LP3 Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jpk.v9i2.42318

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SD Nasima Semarang dan dampaknya kepada peserta didik. Metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif merupakan metode yang digunakan. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 2 orang guru pengajar kelas IV dan V yang telah menerapkan kurikulum merdeka dalam pembelajaran dan 5 peserta didik kelas IV dan V sebagai peserta kegiatan P5. Dalam penerapan kurikulum merdeka, peserta didik membuat atau mengimplementasikan projek. Pelaksanaan kegiatan P5 merupakan salah satu kegiatan projek kurikulum merdeka. Kegiatan yang dilaksanakan di SD Nasima bertema Kearifan Lokal “Melestarikan Budaya Wayang Orang” menghasilkan projek kegiatan P5 berupa 1) pembuatan mind mapping dan diskusi tentang wayang dengan pengembangan sendiri berdasarkan materi yang disajikan wali kelas; 2) presentasi mind mapping di aula sekolah dan dilombakan; 3) pementasan wayang orang oleh peserta didik di aula sekolah dengan lakon "Gatotkaca lahir".This study aimed to find out the implementation of the Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) in Nasima Elementary School Semarang and its impacts on the students. Qualitative method with descriptive approach is the method used. The data collecting method used an interview with two interviewees teachers in fourth and fifth grades by applying Kurikulum Merdeka and five fourth and fifth-grade students as P5 participants. During this activity, the students had to make or implement the project. One of the Kurikulum Merdeka Project activities was the implementation of the P5 activity. The activity themed on Local wisdom “Melestarikan Budaya Wayang Orang” showed that in the form of 1) making mind mapping and discussing Wayang with self-development based on the materials that the home teacher gave; 2) competition of presenting mind mapping in the school; 3) wayang orang performance by the students with the title “The Born of Gatotkaca.” 
Integrating Character Education and Technology in Elementary Schools: A Qualitative Study of Curriculum Implementation Danun Reyhan Ardiansyah; Moh. Fathurrahman
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 4 (2025): DECEMBER 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i4.7187

Abstract

Character education is a key component of Indonesia’s Merdeka Curriculum, which emphasizes the integration of Pancasila values into daily learning. However, effectively connecting character habituation with digital technology in elementary education remains a challenge.This qualitative case study was conducted at SD Negeri Sekaran 01 in Semarang, involving 26 participants: one principal, a curriculum coordinator, four subject teachers, and 20 fourth-grade students. Data were gathered through observations, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model.The study identified three main strategies for integrating character education with technology. First, routine habituation activities—including the 5S program (smile, greet, courtesy), morning prayers, literacy sessions, and singing national songs—reinforce discipline and nationalism. Second, project-based learning via the Pancasila Student Profile Projects cultivates collaboration, responsibility, and critical thinking. Third, ICT integration, starting in grade four, supports digital literacy, autonomy, and ethical technology use. Students responded positively to digital learning environments, finding them engaging and conducive to developing personal responsibility and curiosity.The integration of character education and ICT effectively supports the development of adaptive, religious, and disciplined learners aligned with 21st-century competencies. To sustain this hybrid model, teachers must design structured digital routines, curriculum developers should formally incorporate technology use, and policymakers need to ensure ongoing teacher training and ICT infrastructure.
Pengembangan Media Interaktif Peta Magnetik Berbasis Model Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Kemampuan Bernalar Kritis Peserta Didik Pada Pembelajaran IPAS Karina Damayanti; Moh. Fathurrahman
Journal of Classroom Action Research Vol. 8 No. Special Issue (2026): Special Issue (March)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan IPA, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jcar.v8iSpecial Issue.14396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan, menguji kelayakan, dan menganalisis keefektifan media pembelajaran interaktif peta magnetik berbasis Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan bernalar kritis peserta didik pada pembelajaran IPAS materi keanekaragaman hayati. Media peta magnetik terdiri atas peta dasar dan komponen magnetik yang dapat dipindahkan secara fleksibel sehingga memungkinkan peserta didik berinteraksi langsung dalam proses pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang meliputi tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas V SD Negeri Gabus 01, Pati, Jawa Tengah. Kelayakan media dinilai melalui validasi ahli materi dan ahli media, sedangkan efektivitas media dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dan uji N-Gain. Kemampuan bernalar kritis yang diukur meliputi kemampuan mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, dan menarik kesimpulan secara logis. Hasil validasi menunjukkan bahwa media peta magnetik berbasis PBL berada pada kategori sangat layak dengan persentase kelayakan ahli materi sebesar 88,33% dan ahli media sebesar 95,31%. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara nilai pretest dan posttest (p < 0,05). Selain itu, uji N-Gain menunjukkan peningkatan kemampuan bernalar kritis pada kategori sedang pada skala kecil dan kategori tinggi pada skala besar. Dengan demikian, media peta magnetik berbasis PBL efektif meningkatkan kemampuan bernalar kritis peserta didik pada pembelajaran IPAS.