Meinita Istantiani
Universitas Negeri Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Resiliensi dalam Novel Ngrangsang Lintange Luku Karya Narko "Sodrun" Budiman dan Novel Menjadi Manusia Dewasa Karya Anggita Rahmadini (Kajian Sastra Bandingan) Meinita Istantiani; Darni Darni
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 18 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.512 KB) | DOI: 10.26740/job.v18n1.p58-77

Abstract

Novel Ngrangsang Lintange Luku karya Narko “Sodrun” Budiman dan novel Menjadi Manusia Dewasa karya Anggita Rahmadini memiliki kemiripan dari segi tema yaitu tentang resiliensi. Kedua novel ini memiliki perbedaan dari sudut pandang budaya, yaitu budaya Jawa dan Sunda. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut, kedua novel ini cocok untuk dibandingkan. Permasalahan yang dibahas dalam artikel terbagi menjadi dua yaitu (1) bagaimana bentuk resiliensi yang dilakukan oleh tokoh utama dan (2) bagaimana sikap masyarakat terhadap resilien. Teori yang digunakan adalah teori afinitas. Hasil bandingan antara novel Ngrangsang Lintange Luku dan Menjadi Manusia Dewasa yakni terdapat tiga sikap resilien yang dimiliki oleh tokoh utama yaitu rasa optimis, mengatur emosi, serta efikasi diri. Resiliensi tersebut memunculkan tanggapan dari masyarakat di sekitarnya. Bentuk tanggapan tersebut berupa dukungan maupun penghinaan. Masyarakat yang mendukung akan memberikan pertolongan dan wejangan kepada resilien, sedangkan masyarakat yang menghina cenderung meremehkan resilien. Perbedaan dari bandingan ini adalah novel Ngrangsang Lintange Luku menganut budaya Jawa, seperti petungan manten dan menggelar kesenian Jawa di acara pernikahan. Sedangkan novel Menjadi Manusia Dewasa menganut budaya Sunda, ditunjukkan dari cara menghormati wanita dengan menambah panggilan “Neng” dan mengutamakan tata krama saat bertemu orang lain. Kata kunci: resilien, bangkit, sastra bandingan
The Personality of the Main Characters in Wacan Bocah by S. Wahyuni Adi: A Sigmund Freud Psychoanalytic Study Fanya Fairus Azaria; Amanda Ningtiyas; Latif Nur Hasan; Meinita Istantiani
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol. 14 No. 1 (2026): Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa
Publisher : Program Studi Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sjsj.v14i1.41454

Abstract

Studies examining the personality structure of main characters in Javanese children's literature remain limited, particularly in revealing the psychological values embedded in children's stories. The study aims to analyze the main character’s personality in the wacan bocah Penulis Cilik and Nggawe Kebun Sayur by S. Wahyuni Adi, using Sigmund Freud’s psychoanalytic approach, which encompasses three elements of personality: the id, the ego, and the superego. The method used is a qualitative descriptive approach, employing data collection techniques such as literature reviews and documentation. The data were analyzed using content analysis. The data used included dialogue, narration, and character actions. The study's findings indicate that the id element is evident in the characters’ desires, such as their aspirations and their need to achieve self-satisfaction. The ego element reflects the characters’ ability to adapt to social situations. The superego element is evident through the influence of values related to discipline, ethics, and social responsibility. These findings indicate that S. Wahyuni Adi’s work not only offers stories for entertainment but also explores complex psychological dynamics relevant to children’s literature research. This study contributes to the development of literary psychology studies, particularly regarding the formation of children’s characters in Javanese-language literature.