Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tradisi Ngitung Batih Suranan di Desa Dongko Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek Nadila Ratnasari; Yohan Susilo
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 18 No 3 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.3 KB) | DOI: 10.26740/job.v18n3.p933-954

Abstract

Tradhisi Ngitung Batih Suronan yang berada di Desa Dongko Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek ini merupakan salah satu acara rutin yang setiap taun diadakan pada malam 1 Suro. Acara tersebut diselenggarakan untuk menyambut datangnya tahun baru dan salah satu acara yang dianggap penting dan sakral untuk masyarakat Dongko. Ngitung berarti Ngitung, dan batih artinya jumlah anggota keluarga, termasuk keluarga sendiri dalam satu rumah. Tradhisi Ngitung Batih Suranan ini merupakan salah satu warisan budaya dari leluhur yang sudah dilakukan secara turun temurun hingga sekarang, mempunyai tujuan supaya mendapat kemakmuran dan ketentetraman lahir dan batin, diberi kesehatan lan keselamatan. Penelitian ini mempunyai tujuan mendiskripsikan tradisi Ngitung Batih Suranan dengan menggunakan konsep folklor, bermula dari sejarahnya, perlengkapan serta maknanya, proses jalanya acara, fungsinya dan perubahan budaya didalam tradisi ini. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian folklor setengah lisan yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian menggunakan sumber primer dan sekunder. Teknik analisis data menggunakan teori perubahan budaya. Perubahan budaya dalam tradisi Ngitung Batih zaman sekarang sudah mengadakan acara berskala besar dengan berbagai kegiatan yang dikelola oleh Pemerintahan Desa Dongko dan Pemerintahan Kabupaten Trenggalek. Faktor yang menyebakan perubahan budaya tradhisi Ngitung Batih dibagi menjadi dua, internal dan eksternal. Kata Kunci : Ngitung Batih, Suronan, Folklor, Sakral
Pelatihan Pembuatan Geguritan sebagai Tindakan Preventif Pelestarian Alam dan Cinta Lingkungan bagi Siswa Kelas IX SMPN 40 Surabaya Tahun Ajaran 2023/2024 Nadila Ratnasari; Muhammad Teguh Wicaksono; Octo Dendy Andriyanto
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 2 No. 1 (2024): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/abisatya.v2i1.31265

Abstract

Abstrak Pelatihan pembuatan geguritan di SMPN 40 Surabaya merupakan upaya untuk mengembangkan kreativitas siswa dalam bidang karya sastra dan wujud tindak preventif pelestarian alam. SMPN 40 Surabaya dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah Adiwiyata berwawasan Lingkungan Hidup di Surabaya. Hal tersebut juga sejalan dengan visi & misi Universitas Negeri Surabaya mengenai lingkungan hidup yang berkelanjutan, hal tersebut tentunya membuka peluang lebar bagi mahasiswa PPG Prajabatan yang nantinya akan menjadi guru profesional, dengan kepelatihan penulisan ini, guru, siswa dan para pembaca dapat desiminasi atau mengimbaskan hal yang dapat melestarikan lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah partisipatif, mengajak siswa aktif dalam proses kegiatan. Pertemuan dengan siswa dilakukan sebanyak 2 kali. Pertemuan pertama adalah pemberian materi mengenai teori dan tata cara penulisan geguritan serta pengarahan terkait tenggat waktu linimasa proses kegiatan berlangsung. Pada pertemuan pertama guru mata pelajaran Bahasa Jawa serta wali kelas kelas IX berperan aktif dalam mengkondisikan ruang kelas. Pertemuan kedua dilakukan bimbingan intensif kepada penulis dengan karya terpilih agar dapat dilakukan penyuntingan karya dengan harapan karya dapat menjadi lebih baik. Diberikannya umpan balik kepada siswa  membantu siswa untuk dapat menyadari kekurangan sekaligus potensi yang siswa miliki sehingga mengembangkan kemampuan menulis geguritan dengan lebih baik lagi. Pentingnya pelatihan penulisan ini sangatlah besar karena menargetkan generasi muda yang sedang dalam masa pembentukan karakter. Harapannya, melalui pelatihan ini, siswa-siswi SMPN 40 Surabaya dapat menjadi agen pelestarian budaya Jawa. SMPN 40 Surabaya turut aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung, dengan menyediakan semua fasilitas yang diperlukan seperti ruang kelas, dan perpustakaan. Dukungan ini menjadi pijakan penting untuk kesuksesan pelatihan penulisan geguritan, yang merupakan bagian dari upaya pelestarian karya sastra Bahasa Jawa, dan bentuk tindak preventif pelestarian alam.
Pelatihan Kepenulisan Geguritan sebagai Tindakan Preventif Pelestarian Alam Siswa Kelas IX SMPN 40 Surabaya Nadila Ratnasari; Muh. Teguh Wicaksono; Octo Dendy Andriyanto
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 2 No. 2 (2024): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/abisatya.v2i2.32605

Abstract

Pelatihan pembuatan geguritan di SMPN 40 Surabaya merupakan upaya untuk mengembangkan kreatifitas siswa dalam bidang karya sastra dan wujud tindak preventif pelestarian alam. SMPN 40 Surabaya dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah Adiwiyata berwawasan Lingkungan Hidup di Surabaya. Hal tersebut juga sejalan dengan visi & misi Universitas Negeri Surabaya mengenai lingkungan hidup yang berkelanjutan, hal tersebut tentunya membuka peluang lebar bagi mahasiswa PPG Prajabatan yang nantinya akan menjadi guru profesional, dengan kepelatihan penulisan ini, guru, siswa dan para pembaca dapat desiminasi atau mengimbaskan hal yang dapat melestarikan lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah partisipatif, mengajak siswa aktif dalam proses kegiatan. Pertemuan dengan siswa dilakukan sebanyak 2 kali. Pertemuan pertama adalah pemberian materi mengenai teori dan tata cara penulisan geguritan serta pengarahan terkait tenggat waktu linimasa proses kegiatan berlangsung. Pada pertemuan pertama guru mata pelajaran Bahasa Jawa serta wali kelas kelas IX berperan aktif dalam mengkodisikan ruang kelas. Pertemuan kedua dilakukan bimbingan intensif kepada penulis dengan karya terpilih agar dapat dilakukan penyuntingan karya dengan harapan karya dapat menjadi lebih baik. Diberikannya umpan balik kepada siswa membantu siswa untuk dapat menyadari kekurangan sekaligus potensi yang siswa miliki sehingga mengembangkan kemampuan menulis geguritan dengan lebih baik lagi. Pentingnya pelatihan penulisan ini sangatlah besar karena menargetkan generasi muda yang sedang dalam masa pembentukan karakter. Harapannya, melalui pelatihan ini, siswa-siswi SMPN 40 Surabaya dapat menjadi agen pelestarian budaya Jawa. SMPN 40 Surabaya turut aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung, dengan menyediakan semua fasilitas yang diperlukan seperti ruang kelas, dan perpustakaan. Dukungan ini menjadi pijakan penting untuk kesuksesan pelatihan penulisan geguritan, yang merupakan bagian dari upaya pelestarian karya sastra Bahasa Jawa, dan bentuk tindak preventif pelestarian alam.