Sindrom metabolic (SM) dan penyakit kardiovaskuler (PKV) masih menjadi permasalahan kesehatan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Prevalensi SM adalah antara 20 sampai 25 persen di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia adalah 23,34%, dengan lebih banyak laki-laki (26,2%) dibandingkan perempuan (21,4%) yang terkena. SM diharapkan dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2 sebanyak lima kali lipat dan risiko penyakit jantung sebanyak dua kali lipat. Sementara itu, According to the World Health Organization, 17.9 million people would die from diseases brought on by CVD in 2019, accounting for 32% of all fatalities. Usia, keturunan, jenis kelamin, dan faktor risiko yang dapat diubah seperti dislipidemia, merokok, hipertensi, diabetes, dan stres adalah sebagian dari banyak faktor risiko CVD yang tidak dapat diubah. Gaya hidup yang tidak banyak bergerak, peningkatan angka obesitas, dan perubahan kebiasaan makan adalah hasil dari perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan serta efek yang ditimbulkannya. Peningkatan risiko diabetes melitus (DM) tipe 2 lima kali lipat dan peningkatan penyakit kardiovaskular dua kali lipat diprediksi dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Jawa Barat memiliki prevalensi hipertensi terbesar, yaitu 44,1%, menurut pengukuran di antara penduduk yang berusia 18 tahub. Salah satu contoh kondisi masyarakat urban di wilayah Cangkuang Kulon Kampung Sayuran. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat dan kader diperoleh informasi bahwa warga meskipun memiliki penyakit kardiovaskuler ataupun diabetes berperilaku abai terhadap kondisi kesehatannya, sehingga merupakan hal biasa jika warga mengidap stroke atau meninggal secara tibatiba. Kader Kesehatan berupaya untuk menyampaikan informasi terkait kesehatan namun merasa kurang percaya diri. Saat ini Posbindu yang ada belum dimanfaatkan secara optimal.