Jeanny Maria Fatimah
Universitas Hasanuddin Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Komunikasi Antarbudaya dalam Proses Adaptasi Masyarakat Etnik Bugis dan Etnik Papua di Kota Jayapura Ismiunia Hasmar; Jeanny Maria Fatimah; Muhammad Farid
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 17, No 3 : Al Qalam (Mei 2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v17i3.2133

Abstract

Multikultural adalah mempersiapkan agar mampu bertahan hidup dan berinteraksi dalam dunia dengan diversitas yang tinggi. Tidak hanya itu, multikultural juga bertujuan meningkatkan kapasitas komunikasi individu dalam berkomunikasi dengan orang lain melalui partisipasi secara aktif dalam proses berinteraksi dan dengan mengunakan segala pengalaman mereka dalam sebuah suku yang kondusif. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi pustaka (Library Reseach). Studi pustaka ialah penelitian yang teknik pengumpulan datanya dilakukan di lapangan (perpustakaan) dengan didasarkan atas pembacaan- pembacaan terhadap beberapa literatur yang memiliki informasi serta memiliki relevansi dengan topik penelitian. Kepercayaan lain kelompok agaman ini adalah sinkretisme animisme dengan Hindu-Buddha dan Islam. Orang-orang berkembangan yang mendominasi wilayah pedesaan menurut masih mempercayai hal- hal magis ataupun mistis yang ada di sekitarnya. masih percaya adanya tuyul, memedi, lelembut, demit, dan lain-lain yang berbau magis. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa ruh-ruh orang yang telah mati masih berkeliaran (gentayangan) di sekitar manusia. Untuk mencegah gangguan ruh-ruh, kalangan abangan menyelenggarakan slametan (selamatan) agar slamet (selamat). Etnis Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Telah melahirkan ungkapan-ungkapan (yang sering kali masih terdengar hingga sekarang) yang dianggap menyiratkan inferioritas wanita Jawa . Ungkapan-ungkapan seperti kanca wingking, swarga nunut neraka katut, wanita hanya mengurus dapur, wanita hanya bergantung pada suarni, menegaskan bahwa wanita Jawa tampak menduduki struktur bawah. Kuatnya konsepsi tersebut dalam budaya Jawa, menimbulkan perĀ· lakuan-per1akuan yang dianggap membatasi ruang gerak wanita, seperti halnya konsep pingitan, yaitu melarang wanita untuk bebas beraktivitas.
Adaptasi Antarbudaya Etnik Bugis, Etnik Tionghoa Dan Etnik Sikka Krowe Dalam Aspek Sosial Dan Budaya Stefanus Ricy Sarianto; Jeanny Maria Fatimah; Muhamad Farid
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3350

Abstract

Adaptasi antar budaya menjadi penting dalam konteks kehidupan multietnis seperti di Kabupaten Sikka. Terdapat pertemuan tiga kelompok etnik yang menonjol yakni etnik Sikka Krowe sebagai penduduk asli, serta etnik Bugis dan etnik Tionghoa sebagai pendatang yang telah lama bermukim dan menjadi bagian dari tatanan sosial lokal. Ketiga kelompok etnik ini hidup berdampingan dalam ruang sosial yang sama, namun membawa latar belakang budaya yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, adaptasi antar budaya menjadi kunci utama untuk menciptakan kohesi sosial dan mencegah konflik horizontal. Dalam penelitian ini berupaya untuk mengetahui proses adaptasi yang dilakukan oleh etnik Bugis dan Tionghoa dan etnik Sikka Krowe di Kabupaten Sikka dengan tujuan penelitian yakni menganalisis bagaimana efektivitas adaptasi etnik Bugis, etnik Tionghoa dan etnik Sikka Krowe dan menganalisis faktor yang menghambat proses adaptasi antara etnik Bugis, etnik Tionghoa dan etnik Sikka Krowe di kabupaten Sikka. Penelitian ini menggunakan metode metode penelitian kualitatif dimana informan berasal dari etnik Bugis dan etnik Tionghoa. Hasil penelitian ini menunjukan adanya efektivitas adaptasi antarbudaya oleh etnik Bugis dan etnik Tionghoa yakni seikap saling menghormati budaya dan bahasa, penggunaan bahasa secara jelas dan sederhana, mempelajari dan memahami budaya serta membangun hubungan kerja sama dan toleransi sedangkan faktor hambatan oleh kedua etnik tersebut yakni gangguan pada nada bahasa, nilai budaya dan norma sosial yang berbeda dan kurangnya ruang pertemuan budaya