Ade Mulyani
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH KINERJA KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU TERHADAP MUTU PEMBELAJARAN PADA SMK SEKABUPATEN PURWAKARTA Ade Mulyani
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol 9, No 1 (2012): APRIL 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.243 KB) | DOI: 10.17509/jap.v14i1.6710

Abstract

Mutu pembelajaran merupakan cerminan prestasi sekolah dalam mempersiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan global dunia pendidikan. Untuk itu diperlukan suatu kondisi yang mampu membawa perubahan dan pemberian motivasi kepada seluruh personil yang ada di sekolah untuk melakukan upaya ekstra dalam mencapai efektivitas kerja sesuai dengan tujuan pendidikan. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran empirik  tentang pengaruh kinerja kepala sekolah dan kinerja guru terhadap mutu pembelajaran pada SMK sekabupaten Purwakarta. Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kinerja kepala sekolah dan kinerja guru terhadap mutu pembelajaran pada SMK  Sekabupaten Purwakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey penjelasan dengan pendekatan kuantitatif. Sampel diambil secara random 123 guru dari populasi sejumlah 226 guru. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMK Purwakarta. Objek penelitiannya adalah guru.Hasil penelitian ditemukan bahwa (1) Pengaruh kinerja kepala sekolah terhadap mutu pembelajaran termasuk kategori sangat baik (2) Pengauh kinerja guru terhadap mutu pembelajaran termasuk sangat baik (3) Pengaruh kinerja kepala sekolah dan kinerja guru terhadap mutu pembelajaran adalah sangat baik sebesar 47,6% dan sisanya 52,4% ditentukan oleh faktor lain. Rekomendasi: Untuk kepala sekolah pada SMK Sekabupaten Purwakarta; (a) perlu peningkatan/pengembangan kegiatan yang dapat memotivasi pada peningkatan kinerja guru baik yang langsung terkait dengan pembelajaran maupun dengan yang lain yang dapat menunjang pada peningkatan mutu pembelajaran sebagai bagian dari pengembangan profesional guru; (b) perlu menciptakan lingkungan sekolah yang terbuka terhadap  berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Quality of learning is a reflection of school achievement in preparing human resources in the face of global competition in education. For that required a condition that is able to bring changes and motivation to all personnel in school to make extra efforts in achieving work effectiveness in accordance with educational goals. The problem in this study is how the empirical picture of the influence of principal performance and teacher performance on the quality of learning in SMK sekabupaten Purwakarta. The purpose is to know and analyze the influence of principal performance and teacher performance on the quality of learning at SMK Sekabupaten Purwakarta. The research method used is explanatory survey method with quantitative approach. The sample was taken by random 123 teachers from a population of 226 teachers. The location of this research was conducted at SMK Purwakarta. The object of the research is the teacher. The result of the research is found that (1) The influence of the principal's performance on the quality of learning is very good category (2) Pengauh teacher performance on the quality of learning is very good (3) The influence of principal performance and teacher performance on the quality of learning is very Both by 47.6% and the remaining 52.4% determined by other factors. Recommendation: For the principal at SMK Sekabupaten Purwakarta; (A) it is necessary to improve / develop activities that can motivate teachers to improve both directly related to learning and others that can support the improvement of the quality of learning as part of teacher professional development; (B) it is necessary to create a school environment that is open to changes in society.
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang pra sekolah Ade Mulyani; Usep Repelianto
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.117

Abstract

Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan kepribadian manusia. Sebagai suatu proses, pendidikan tidak hanya berlangsung pada suatu saat saja, akan tetapi harus berlangsung secara berkelanjutan. Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak mulia baik dilihat dari aspek jasmani maupun ruhani. Manusia yang berakhlak mulia, yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau dibangun. Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Sementara itu peran lembaga pendidikan atau sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter mencakup (1) mengumpulkan guru, orangtua dan siswa bersama-sama mengidentifikasi dan mendefinisikan unsur-unsur karakter yang mereka ingin tekankan, (2) memberikan pelatihan bagi guru tentang bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kehidupan dan budaya sekolah, (3) menjalin kerjasama dengan orangtua dan masyarakat agar siswa dapat mendengar bahwa perilaku karakter itu penting untuk keberhasilan di sekolah dan di kehidupannya, dan (4) memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat untuk menjadi model perilaku sosial dan moral (U.S. Department of Education). Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Anak pra sekolah belajar cara berinteraksi dengan orang lain dengan mencontoh, berbagi, dan menjadi teman baik. Mereka juga mempelajari sikap, nilai, preferensi pribadi dan beberapa kebiasaan dengan mengikuti contoh, termasuk cara mengenali dan menangani emosi mereka. Anak pra sekolah belajar banyak dari perilaku mereka dengan mengamati dan meniru perilaku orang-orang di sekitar mereka. Fase kanak-kanak disebut sebagai masa estetika, masa indera, dan masa menentang orang tua. Masa bayi ini dibagi dua fase, yaitu fase anal dan pra sekolah. Fase anal (1-3 tahun), pada masa ini kecerdasan anak ditingkatkan dengan cara memberikan makanan yang baik, dan anak selalu diajak berkomunikasi dengan macam-macam permainan yang cocok dengan usianya. Fase pra sekolah (3-6 tahun), karakteristik anak pada masa ini adalah: (1) Dapat mengontrol tindakan. (2) Selalu ingin bergerak. (3) Berusaha mengenal lingkungan. (4) Perkembangan yang cepat dalam berbicara. (5) Senantiasa ingin memiliki sesuatu. (6) Mulai membedakan yang benar dan yang salah.