Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Belajar dari Kearifan Lokal Masyarakat Perdesaan di Jawa dalam Membangun Permukiman pada Kawasan Lereng Gunung Rejeki, VG Sri; Indrajati, Yovita; Krisprantono
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.118

Abstract

Masyarakat Indonesia khususnya pada permukiman perdesaan memiliki kearifan lokal yang masih dapat ditemui hingga saat ini. Kearifan lokal tersebut tercermin antara lain dalam teknologi membangun dan menata permukiman. Penelitian ini telah dilaksanakan pada kawasan permukiman yang berada pada lereng gunung pada Kabupaten Temanggung di Provinsi Jawa Tengah. Pada Kabupaten Temanggung lokasi penelitian dilaksanakan pada kawasan Desa Ngemplak, tepatnya di Dusun Gedongan, Dusun Ngemplak, dan Dusun Banjarsari yang berada pada kawasan lereng gunung akan tetapi relatif datar pada Kabupaten Wonosobo. Kearifan lokal tersebut tercermin dalam tata spatial desa dan norma lokal oleh masyarakat berdasarkan pada penelitian pada lokasi desa Kandangan di wilayah Kabupaten Temanggung tersebut terlihat adanya kearifan lokal yang memiliki karakteristik yang spesifik, berupa sikap masyarakat terhadap alam lereng gunung. Masyarakat pada lereng gunung Sindoro masih memegang teguh nilai-nilai tradisi dalam penempuh kehidupan di lereng gunung.
MENCARI JEJAK BENTENG 'DE VIJFHOEK' DI KOTA LAMA SEMARANG MELALUI PENDEKATAN SEJARAH Krisprantono
AMERTA Vol. 27 No. 1 (2009)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retracing The 'Vijfboek' Fort in The Old Town of Semarang using Historical Approach. At the beginning of the Dutch East Indies Company (VOC) establishment trade activity increased. The trade facilities road, river, harbour as well as fort have to be provided 'in order to maintain trade monopoly along the north coast of Java. Road and river were transportation facilities to transport agricultural products from inland to the harbour, which was the facility of export and import goods while fort was functioned as military defence and security system. Beginning with fort, VO(hun the trade monopoly policy and gradually set up new town as a settlement and offices to acomodate the business. VOC took advantage in conflict between Trunojoyo and Mataram, the biggest kingdom in Java. Military support from VOC gave Mataram victory over Trunojoyo. As a consequence Mataram bad to give Semarang as a trading post ofVOC under the treaty between VOC and Mataram in 1678. As the first step in establishing Semarang, VOC built a fortress as a military defence. This fortress had been renovated and developed overtime up to the end of 18th century.