Antonius Ardiyanto
Universitas Katolik Soegijapranata

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kajian Fitur Arsitektur Kolonial Belanda Pada Benteng Willem I Christiana Peni Sekundiana; Antonius Ardiyanto; Krisprantono Krisprantono
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur (LingKAr) Vol 2 No 1 (2023): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Architecture Program, Faculty of Engineering, Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1427.824 KB) | DOI: 10.37477/lkr.v2i1.346

Abstract

Benteng Willem I Ambarawa ibarat “Mutiara yang Terpendam”, hal ini seakan sesuai dengan sebutannya yakni “Benteng Pendem”. Dirunut dari kesejarahannya bangunan tersebut menyimpan banyak misteri dan penuh kenangan. Kondisi Benteng Willem saat ini memprihatinkan, tidak terawat, dinding bangunan sudah mulai rusak, papan lantai tidak lagi cukup kuat untuk menyangga beban sehingga pengunjung dilarang masuk kedalam, yang terawat adalah bangunan yang saat ini menjadi lapas. Sedangkan pengunjung semakin banyak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengeluarkan kembali mutiara yang terpendam sekian lama dengan mengkaji kembali karakteristik arsitektural pada bangunan bangunan di dalam Benteng Willem dengan melihat fitur fitur yang masih melekat pada bangunan. Metode yang akan digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan historis serta kajian literatur. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini akan menjadi kajian dalam merevitalisasi Benteng Willem 1.
Evaluasi Kenyamanan Termal Gereja Kristen Jawa Salatiga Eka Kurniawan Adi Prabawa; L.M.F Purwanto; Antonius Ardiyanto
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur (LingKAr) Vol 2 No 1 (2023): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Architecture Program, Faculty of Engineering, Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.344 KB) | DOI: 10.37477/lkr.v2i1.347

Abstract

Kota Salatiga terletak pada kondisi geografis daerah perbukitan yang berhawa sejuk, dengan suhu berkisar antara 19,45oC-30oC dan kelembaban rata-rata 78%. Meskipun terletak di daerah beriklim sejuk, namun terdapat beberapa bangunan gereja yang tidak memenuhi standar kenyaman termal, salah satunya GKJ Salatiga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kondisi termal lingkungan mempengaruhi kenyamanan ruang di bangunan ibadah khususnya GKJ Salatiga. Pengukuran temperatur, kelembaban, dan kecepatan udara dilaksanakan pada 3 waktu ibadah yang berbeda di 4 titik ukur. Metode untuk mendapatkan kenyamanan termal menggunakan prinsip PMV yang dihitung menggunakan software CBE (Center for the Build Environtment). Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa nilai PMV mencapai standar -0,5 < PMV < +0,5 hanya pada ibadah pagi di ruang ibadah 1, 2 dan 4 dengan sensasi neutral, sedangkan di ruang 3 mencapai slightly warm. Namun pada ibadah siang, ruang ibadah 4 mencapai skala sensasi warm, sedangkan di ruang 1, 2, dan 3 mencapai slightly warm. Pada ibadah sore, ruang ibadah 3 mencapai skala sensasi warm, sedangkan di ruang 1, 2, dan 4 mencapai slightly warm.
Evaluasi Kenyamanan Termal Gereja Kristen Jawa Salatiga Eka Kurniawan Adi Prabawa; L.M.F. Purwanto; Antonius Ardiyanto
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur (LingKAr) Vol 2 No 2 (2023): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Architecture Program, Faculty of Engineering, Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v2i2.348

Abstract

Abstrak Kota Salatiga terletak pada kondisi geografis daerah perbukitan yang berhawa sejuk, dengan suhu berkisar antara 19,45oC-30oC dan kelembaban rata-rata 78%. Meskipun terletak di daerah beriklim sejuk, namun terdapat beberapa bangunan gereja yang tidak memenuhi standar kenyaman termal, salah satunya GKJ Salatiga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kondisi termal lingkungan mempengaruhi kenyamanan ruang di bangunan ibadah khususnya GKJ Salatiga. Pengukuran temperatur, kelembaban, dan kecepatan udara dilaksanakan pada 3 waktu ibadah yang berbeda di 4 titik ukur. Metode untuk mendapatkan kenyamanan termal menggunakan prinsip PMV yang dihitung menggunakan software CBE (Center for the Build Environtment). Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa nilai PMV mencapai standar -0,5 < PMV < +0,5 hanya pada ibadah pagi di ruang ibadah 1, 2 dan 4 dengan sensasi neutral, sedangkan di ruang 3 mencapai slightly warm. Namun pada ibadah siang, ruang ibadah 4 mencapai skala sensasi warm, sedangkan di ruang 1, 2, dan 3 mencapai slightly warm. Pada ibadah sore, ruang ibadah 3 mencapai skala sensasi warm, sedangkan di ruang 1, 2, dan 4 mencapai slightly warm. Kata Kunci: kenyamanan termal, gereja, Salatiga, PMV
KAJIAN KONSERVASI CAGAR BUDAYA GEDUNG DPRD KOTA TEGAL (The Conservation of Cultural Heritage in The Regional Respresentative Council Building of Tegal City) Gianka Kharisma Putri; Antonius Ardiyanto
Tesa Arsitektur Vol 21, No 2: Desember 2023
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v21i2.11506

Abstract

Gedung DPRD Kota Tegal merupakan Bangunan Cagar Budaya yang telah diresmikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal dan ditetapkan oleh Walikota Tegal pada tahun 2019. Pentingnya DPRD Kota Tegal sebagai fasilitas kegiatan pemerintahan, maka dilakukan konservasi pada gedung DPRD Kota Tegal pada tahun 2014 dengan rehabilitasi khususnya pada bagian kusen, jendela, dan pintu yang berfungsi untuk merawat gedung DPRD Kota Tegal agar kondisi gedung tetap prima. Studi ini bertujuan untuk menelusuri konservasi dan pemeliharaan gedung DPRD Kota Tegal sesuai dengan peraturan konservasi bangunan cagar budaya. Studi ini menerapkan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi dan dokumentasi, serta wawancara yang selanjutnya dianalisis lebih lanjut. Studi menunjukkan bahwa gedung DPRD Kota Tegal sebagai gedung cagar budaya tetap berfungsi sejak dibangun hingga sekarang yang bersanding dengan kebutuhan kenyamanan pengguna gedung sehingga membuat kondisi gedung harus dijaga dan dilestarikan keasliannya. Pelestarian dilakukan dengan tindakan konservasi dengan melakukan penggantian material lama dengan material baru seperti kondisi orisinal, juga perawatan khususnya pada bagian pintu, jendela, dinding, dan elemen struktur pada gedung.