Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Fatima’s Mimicry in Aliya Husain’s Neither This Nor That Nur Asiyah
Muslim English Literature Vol 1, No 2 (2022): Muslim English Literature
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/mel.v1i2.27444

Abstract

This study aims to reveal Fatima’s mimicry as the prominent figure in Aliya Husain’s Neither This Nor That. The presence of minorities often brings the assumption that they are foreign people, so they are treated discriminatively. Immigrants who live a new life in a country whose ideology, beliefs, and lifestyle of the original population are opposite to those of their home country will experience identity problems. Muslim women or Muslimah who are diaspora from India to America also share the same thing. They have to negotiate their identity, so they can live comfortably. The form of negotiation can be done by mimicry. This research is qualitative descriptive research. This research examines mimicry narratives from a diaspora novel, Neither This Nor That (2010). In addition, other sources such as books, journals, and the web are supporting sources. This paper uses Homi Bhabha's postcolonialism theory, especially mimicry, ambivalence, and hybrid. Ting Tomey's Identity Negotiation Theory is also used to strengthen the analysis. This study reveals that the characters imitate the majority's behavior subconsciously to maintain and save their identity. In doing so, they wait for the right time and momentum to negotiate their identity so that, in the end, a hybrid identity will emerge that accommodates the old and new identities. 
Patriarchal Sexual Politics in Fatimah Abd al-Hamid’s Ta’ al-Niswah: A Kate Millett Feminist Reading: Al Siyasah Al Jinsiyyah Al Abawiyyah fi Riwayat Ta Al Niswah li Fatimah Abd Al Hamid Qiraah Nisawiyyah Inda Kate Millett Nafila Azzahra; Nur Asiyah; Hermawati Putri Dian Insani; Muhammad Danial Fahmi; Khoiriyah
An-Nahdah Al-'Arabiyah Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : An-Nahdah Al-'Arabiyah is published by Department of Arabic Language and Literature in cooperation with The Center for Research and Community Service (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/nahdah.v6i2.10507

Abstract

Although contemporary Saudi urban spaces are often associated with modernization and women’s increased visibility, literary representations suggest that patriarchal power persists in reconfigured forms. The mechanisms through which this power operates across domestic relations and urban consumer spaces therefore require closer textual examination. This study examines how patriarchal sexual politics is represented in Fatimah Abd Al-Hamid’s Ta’ al-Niswah and how its female characters internalize, negotiate, or resist domination in private and public spaces. Using a descriptive qualitative design within feminist literary criticism, the study applies close reading, systematic note-taking, and textual coding to the novel’s first Arabic edition, published in 2014. Guided by Kate Millett’s concepts of status, role, temperament, interior colonization, and patriarchy as a political institution, the analysis identifies five interrelated categories: coercive sexual subordination, unequal domestic labour, control over women’s bodies and mobility, objectification and stereotypical representation, and women’s internalization, negotiation, and resistance. These dynamics emerge in domestic, marital, occupational, and urban commercial spaces. The study shows that urban modernity does not eliminate patriarchal authority but reconfigures it through consumer culture, bodily regulation, social surveillance, and gendered expectations. However, its conclusions are limited to the novel’s literary representation and should not be generalized to all Saudi women.   غالبًا ما ترتبط الفضاءات الحضرية السعودية المعاصرة بالتحديث وتزايد حضور المرأة، إلا أن التمثيلات الأدبية تشير إلى استمرار السلطة الأبوية في صور معاد تشكيلها. ولذلك، تتطلب الآليات التي تعمل من خلالها هذه السلطة داخل العلاقات الأسرية وفضاءات الاستهلاك الحضرية فحصًا نصيًا أكثر عمقًا. تبحث هذه الدراسة في كيفية تمثيل السياسة الجنسية الأبوية في رواية تاء النسوة لفاطمة عبد الحميد، وكيف تستبطن شخصياتها النسائية الهيمنة الأبوية أو تتفاوض معها أو تقاومها في الفضاءين الخاص والعام. اعتمدت الدراسة تصميمًا وصفيًا نوعيًا ضمن النقد الأدبي النسوي، وطبّقت القراءة المتعمقة والتدوين المنهجي للملاحظات والترميز النصي على الطبعة العربية الأولى من الرواية الصادرة عام 2014. واستنادًا إلى مفاهيم كيت ميليت المتعلقة بالمكانة والدور والطبع والاستعمار الداخلي والنظام الأبوي بوصفه مؤسسة سياسية، حدّد التحليل خمس فئات مترابطة: الإخضاع الجنسي القسري، وعدم التكافؤ في العمل المنزلي، والتحكم في أجساد النساء وحركتهن، وتشييء المرأة وتمثيلها بصورة نمطية، واستبطان النساء للهيمنة والتفاوض معها ومقاومتها. وتظهر هذه الديناميات في الفضاءات المنزلية والزواجية والمهنية والتجارية الحضرية. وتبين الدراسة أن الحداثة الحضرية لا تلغي السلطة الأبوية، بل تعيد تشكيلها من خلال الثقافة الاستهلاكية وضبط الجسد والمراقبة الاجتماعية والتوقعات الجندرية. ومع ذلك، تظل نتائج الدراسة محصورة في التمثيل الأدبي داخل الرواية، ولا ينبغي تعميمها على جميع النساء السعوديات.   Meskipun ruang urban Saudi kontemporer sering dikaitkan dengan modernisasi dan meningkatnya visibilitas Perempuan, representasi sastra menunjukkan bahwa kekuasaan patriarki tetap bertahan dalam bentuk yang telah dikonfigurasi ulang. Oleh karenanya, mekanisme bekerjanya kekuasaan dalam relasi domestik dan ruang konsumsi urban memerlukan telaah tekstual yang lebih mendalam. Penelitian ini mengkaji representasi politik seksual patriarkal dalam novel Ta’ al-Niswah karya Fatimah Abd Al-Hamid serta cara tokoh-tokoh perempuannya menginternalisasi, menegosiasikan, atau melawan dominasi patriarki di ruang privat dan publik. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dalam kerangka kritik sastra feminis melalui pembacaan, pencatatan sistematis, dan pengodean tekstual terhadap edisi pertama novel berbahasa Arab yang terbit pada 2014. Dengan berpedoman pada konsep Kate Millett mengenai status, peran, temperamen, kolonisasi internal, dan patriarki sebagai institusi politik, analisis menemukan lima kategori yang saling berkaitan: subordinasi seksual koersif, ketimpangan kerja domestik, kontrol atas tubuh dan mobilitas perempuan, objektifikasi dan representasi stereotip, serta internalisasi, negosiasi, dan perlawanan perempuan. Dinamika tersebut muncul dalam ruang domestik, perkawinan, pekerjaan, dan ruang komersial urban. Penelitian ini menunjukkan bahwa modernitas urban tidak menghapus kekuasaan patriarki, tetapi membentuknya kembali melalui budaya konsumsi, regulasi tubuh, pengawasan sosial, dan ekspektasi gender. Meskipun demikian, kesimpulannya terbatas pada representasi sastra dalam novel dan tidak dapat digeneralisasi terhadap seluruh perempuan Saudi.
REVITALISASI PERMAINAN TRADISIONAL SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BUDAYA PADA ANAK DI DESA SAWAHAN, KLATEN Lunaya Elfa Sobri Qolbina Imran; Luthfi Acintya Kurniadewi; Sola Gracia Christovani Sabrina; Intan Nur A'ini; Galang Fauzan Baihaqi; Nur Asiyah
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permainan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga mengandung nilai sosial dan budaya yang penting bagi perkembangan anak. Namun, perkembangan teknologi digital dan semakin populernya permainan daring menyebabkan permainan tradisional semakin jarang dimainkan oleh anak-anak. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional di kalangan anak-anak Desa Sawahan, Klaten melalui kegiatan pengenalan, praktik bermain, dan pendampingan sebagai bagian dari kegiatan KKN 251. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan melibatkan 17 anak dengan rentang pendidikan kelas 2 SD hingga kelas 9 atau 3 SMP. Pelaksanaan kegiatan meliputi identifikasi permainan yang masih dikenal masyarakat, pengenalan aturan permainan, praktik bermain, pendampingan, serta evaluasi melalui observasi, diskusi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak memberikan respons positif terhadap pengenalan permainan tradisional dan menunjukkan ketertarikan untuk memainkan kembali permainan yang diperkenalkan. Permainan seperti engklek, gobak sodor, congklak, lompat tali, dan kelereng juga menjadi ruang bagi anak untuk berinteraksi, bekerja sama, mengikuti aturan, serta mengenal nilai sportivitas dan tanggung jawab. Keterlibatan orang tua dan tokoh masyarakat turut mendukung proses pengenalan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa revitalisasi permainan tradisional melalui pendekatan partisipatif dapat menjadi salah satu bentuk pengabdian yang mendukung pelestarian budaya sekaligus memberikan pengalaman sosial dan pembelajaran yang bermakna bagi anak-anak.
ESTETIKA VISUAL WISATA PAYUNG LUKIS SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BUDAYA DI DESA TANJUNG, KLATEN Shifa Fauziyah; Rahma Faizatinnisa; Luthfi Maimunah; Putri Permadani; Hanif Arif Setyawan; Ridlo Syamiluddin Nur Kholiq; Nur Asiyah
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 6, No 4 (2026): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v6i4.3230

Abstract

ABSTRACTThe Ngudi Rahayu Painted Umbrellas of Tanjung Village, Juwiring Subdistrict, Klaten Regency, are a traditional craft that possesses aesthetic value and represents local cultural identity. This study aims to describe the visual aesthetics of the Painted Umbrellas and their connection to culture-based tourism appeal. The study employed a descriptive qualitative approach through observation, interviews, and documentation, focusing on form, color, motifs, ornamentation, composition, and cultural value. The results show that the combination of flora, fauna, batik, and lurik motifs with diverse colors creates a distinctive visual character and reinforces local cultural identity. This aesthetic enhances the artistic value, tourist appeal, and image of Tanjung Village as the center of painted umbrellas in Klaten Regency. ABSTRAKPayung Lukis Ngudi Rahayu di Desa Tanjung, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten merupakan kerajinan tradisional yang memiliki nilai estetika dan merepresentasikan identitas budaya lokal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan estetika visual Payung Lukis serta keterkaitannya dengan daya tarik pariwisata berbasis budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan fokus pada bentuk, warna, motif, ornamen, komposisi, dan nilai budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan motif flora, fauna, batik, dan lurik dengan warna yang beragam membentuk karakter visual yang khas dan memperkuat identitas budaya lokal. Estetika tersebut memperkuat nilai artistik, daya tarik wisata, dan citra Desa Tanjung sebagai sentra Payung Lukis di Kabupaten Klaten.