I Gede Wahyu Suwela Antara
Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Ethnomathematics-Collaborative Augmented Reality: An Innovative Framework to Enhance Problem-Solving Skills in Elementary Geometry I Nyoman Jampel; I Gede Wahyu Suwela Antara
Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar Vol 8 No 3 (2024): August
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jisd.v8i3.85666

Abstract

This study addresses the urgent need to develop problem-solving skills among elementary school students as a fundamental basis for effective learning processes. The research aims to analyze the effectiveness of a geometry framework based on ethnomathematics-collaborative augmented reality in enhancing students' problem-solving abilities. This experimental research employs a quantitative approach with a one-group pre-test post-test design. The study involved 30 fourth-grade elementary school students as subjects. The effectiveness of the framework was measured using pre-test and post-test methods. Data analysis was conducted using descriptive and inferential statistics, with the Paired Sample T-Test applied to test the hypothesis, utilizing IBM SPSS Statistics for Windows version 21.0. The results indicated a significant difference in students' problem-solving abilities before and after the implementation of the geometry framework. The post-test results showed a notable improvement in students' problem-solving skills compared to the pre-test. The application of the ethnomathematics-collaborative augmented reality framework proved effective in providing contextual, collaborative, and technology-based learning experiences, which significantly enhanced students' problem-solving capabilities. Therefore, this framework offers a relevant innovation in geometry learning for elementary education, promoting the integration of local cultural values into the learning process and supporting students’ cognitive development through problem-solving tasks.
Peran Adat dan Persepsi Gender Menentukan Keterlibatan Perempuan Bali dalam Aktivitas Sosial Adat I Nyoman Tri Esaputra; I Gusti Agung Ayu Wulandari; She Fira Azka Arifin; I Gede Wahyu Suwela Antara
Indonesian Gender and Society Journal Vol. 6 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/igsj.v6i1.104800

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan antara idealitas kesetaraan gender dan kenyataan keterlibatan perempuan dalam aktivitas sosial adat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh peran adat dan persepsi gender terhadap keterlibatan perempuan dalam aktivitas sosial adat. Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional kuantitatif, dengan subjek penelitian berupa perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial adat. Sampel ditentukan melalui proportional stratified random sampling, dan data dikumpulkan menggunakan angket berbasis skala Likert yang telah divalidasi melalui ahli dan uji reliabilitas. Analisis data dilakukan dengan regresi linier berganda, setelah memenuhi prasyarat analisis termasuk normalitas, multikolinearitas, dan homoskedastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran adat dan persepsi gender berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan perempuan, baik secara parsial maupun simultan. Perempuan yang memperoleh ruang peran dalam struktur adat dan didukung oleh persepsi masyarakat yang setara cenderung memiliki partisipasi lebih tinggi dalam aktivitas sosial adat. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa interaksi antara struktur budaya tradisional dan konstruksi sosial gender menjadi faktor utama dalam membentuk partisipasi perempuan. Implikasi penelitian menunjukkan perlunya strategi pemberdayaan perempuan yang mempertimbangkan kedua aspek tersebut secara seimbang, sehingga perempuan dapat berkontribusi secara aktif dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat tanpa mengurangi nilai-nilai adat. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan teori partisipasi sosial dan kesetaraan gender berbasis budaya.
Pelatihan Model Conflict Social Learning Berbasis Social Imagination dan Regulasi Emosi untuk Meningkatkan Keterampilan Mengajar dan Mereduksi Kasus Bunuh Diri Ida Bagus Putra Manik Aryana; I Wayan Sujana; I Gede Wahyu Suwela Antara; Putu Lanny Kristina Putri
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 14 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v14i2.103572

Abstract

Permasalahan yang dihadapi guru sekolah dasar adalah rendahnya keterampilan dalam mengelola konflik sosial-emosional siswa dan kurangnya pemahaman tentang regulasi emosi. Kondisi ini berdampak pada rendahnya resiliensi sosial siswa yang seharusnya menjadi fondasi penting dalam proses pembelajaran. Pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan model Conflict Social Learning berbasis social imagination dan regulasi emosi dalam meningkatkan keterampilan guru serta resiliensi sosial siswa. Kegiatan ini menggunakan desain pengabdian berbasis pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Subjek uji coba dalam pengabdian ini adalah guru SMP dengan jumlah total 75 orang. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pre-test, post-test, jurnal reflektif, dan survei kepuasan dengan instrumen berupa lembar observasi, angket, serta rubrik penilaian keterampilan guru. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil Pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman dan keterampilan guru, dengan rata-rata peningkatan pengetahuan mencapai 80% setelah pelatihan. Hal ini membuktikan bahwa penerapan Conflict Social Learning berbasis regulasi emosi dan media digital sederhana efektif dalam mencapai tujuan Pengabdian. Simpulan Pengabdian menegaskan bahwa strategi pembelajaran ini mampu menjawab permasalahan rendahnya keterampilan guru dalam manajemen konflik sekaligus meningkatkan resiliensi sosial siswa. Implikasi Pengabdian ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas guru berbasis pendekatan sosial-emosional dan teknologi sederhana dapat menjadi solusi inovatif untuk menciptakan iklim kelas yang sehat dan kondusif.