supian supian
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ARGUMEN TELEOLOGIS DALAM FILSAFAT ISLAM supian supian
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2014): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v13i1.7

Abstract

Alam semesta dipandang sebagai eksistensi yang hidup dan aktif serta memiliki tujuan tertentu. Dalam perenungan, tafakkur, pemikiran dan kajian yang religius dan spiritualis, para filosof memperlihatkan dan meyakini bahwa alam semesta ini tidak hadir dengan sendirinya, tidak bergerak dengan semaunya dan tidak berkembang semata dengan dirinya sendiri, tetapi ada kekuatan dan kekuasaan besar di balik terciptanya, bergeraknya dan berkembangnya alam semesta ini, yakni Tuhan, Sang Designer Agung. Artikel ini ini mengupas pandangan-pandangan para filosof Muslim dalam menilai dalil tentang tujuan alam semesta.
ARGUMEN EKSISTENSI TUHAN DALAM FILSAFAT BARAT supian supian
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 2 (2016): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.998 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v15i2.8

Abstract

Perdebatan tentang eksistensi Tuhan menjadi penting karena merupakan kunci dari semua pintu kajian tentang agama secara keseluruhan. Setiap agama akan dimulai dari pembahasan tentang keyakinan tentang eksistensi Tuhan. Apabila meyakini eksistensi Tuhan, maka seseorang secara sah disebut beragama (theism), dan apabila menolak eksistensi Tuhan, maka seseorang dapat digolongkan kepada menolak agama atau tidak beragama (atheism). Artikel ini dimaksudkan untuk menyelami sejarah dan pemikiran para filosof Barat dalam memberikan argumen-argumen eksistensi Tuhan. Kajian ini menemukan bahwa eksistensi Tuhan dalam berbagai pemikiran filsafat Barat telah memicu perdebatan serius yang melibatkan ranah akal dan hati.
PERAN PAI DALAM MENGHADAPI TANTANGAN RADIKALISME DI PERGURUAN TINGGI UMUM supian supian
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2017): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.82 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v16i2.59

Abstract

Tulisan ini merupakan gambaran umum penelitian yang memberikan gambaran ringkas mengenai bagaimana pemahaman secara umum tentang eksklusivisme dan radikalisme, bagaimana pemahamannya dalam al-Quran serta pendekatan-pendekatan lainnya serta bagaimana peran PAI dalam upaya menghadapi tantangan radikalisme tersebut. Dari kecenderungan radikalisme, baik yang ada dalam al-Quran maupun fakta yang terjadi di lapangan dan di tengah-tengah masyarakat, semuanya mengarah atau berhadapan antara Islam di satu pihak dan non-Islam di lain pihak, maka dapat disimpulkan apabila faham dan sikap demikian justru diterapkan dalam konteks internal Islam seperti memberi label sesat, kafir dan jenis-jenis eksklusivisme dan kurang toleran terhadap perbedaan yang menyangkut persoalan cabang keagamaan atau khilafiyah di dalam satu agama merupakan sesuatu yang destruktif. This paper is a resume of research that provides a brief overview of how the general understanding of exclusivism and radicalism, how it is understood in the Qur'an and other approaches and how the role of PAI in the effort to face the challenge of radicalism. From the tendency of radicalism, both in the Qur'an and the facts that occur in the field and in the midst of society, all lead or face between Islam on the one hand and non-Islam on the other, it can be concluded if such ideals and attitudes precisely applied in the internal context of Islam such as labeling heresy, kafir and other types of exclusivism and less tolerant of differences concerning the issue of religious or khilafi branch in one religion is destructive. Islam teaches ukhuwah values ​​in the midst of diversity, togetherness in diversity and compete in goodness (fastabiqul khoirat) to the pleasure of God.