Rudy Handoyo, Rudy
Physical Medical Science Program of Physical and Rehabilitation, Medical Faculty of UNDIP

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Medica Hospitalia

Perbedaan Efektivitas Chair-Based Exercise dan Senam Lansia dalam Meningkatkan Fleksibilitas Lumbal Lanjut Usia Rini, Maya Puspa; Handoyo, Rudy; Suhartono, Suhartono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.486 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.552

Abstract

Latar belakang: Fleksibilitas adalah kemampuan sendi bergerak melalui lingkup gerak tanpa nyeri. Senam Lansia (SL) merupakan salah satu usaha untuk mempertahankan dan meningkatkan fleksibilitas lumbal lanjut usia, yang dilakukan dalam posisi berdiri dan memberikan hasil yang baik terhadap fleksibilitas. Beberapa masalah terjadi pada lanjut usia seperti arthritis (khususnya pada sendi lutut) dan penurunan kekuatan otot yang menyebabkan mereka kesulitan untuk beraktivitas dalam posisi berdiri. Chair-Based Exercise (CBE) yang dilakukan dalam posisi duduk, merupakan alternatif latihan yang dapat digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas lumbal lanjut usia. Tujuan: Membuktikan tidak ada perbedaan efektivitas CBE dan SL dalam meningkatkan fleksibilitas lumbal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Quasi experimental design. Dua puluh dua lansia dari 3 panti werdha yang berusia 60-74 tahun dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok CBE (n=12) mendapatkan Chair-Based Exercise dan kelompok SL (n=10) mendapatkan senam lansia. CBE merupakan latihan aerobik yang dilakukan dalam posisi duduk, terdiri dari 3 tahapan: pemanasan, inti dan pendinginan. Sedangkan Senam lansia adalah latihan aerobik yang dilakukan dalam posisi berdiri, terdiri dari 3 tahapan: pemanasan, inti, pendinginan. Kedua latihan berdurasi 30 menit untuk 1 sesi latihan, dilakukan sebanyak 5 kali seminggu selama 6 minggu. Fleksibilitas lumbal dinilai sebelum dan setelah perlakuan dengan menggunakan Modified Back Saver Sit and Reach Test (MBSSRT). Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna delta nilai MBSSRT tungkai kanan dan kiri antara kelompok CBE dan SL setelah diberikan latihan. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan antara CBE dan SL dalam meningkatkan fleksibilitas lumbal lanjut usia. Kata kunci: Chair-Based Exercise, Senam Lansia, fleksibilitas lumbal, lanjut usia.
Perbedaan Efektivitas Latihan Core dengan Swissball dan Resistance Band terhadap Peningkatan Endurance Otot Core Remaja Obesitas Hurriawati, Iceu Helmina; Handoyo, Rudy; Julianti, Hari Peni
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 2 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.122 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i2.590

Abstract

Latar belakang : Otot core berperan penting dalam aktivitas sehari-hari. Individu yang mengalami obesitas cenderung memiliki endurance otot core yang rendah. Remaja adalah masa dimana seseorang banyak melakukan aktivitas fisik seperti naik turun tangga di sekolah dan masa kritis pertumbuhan untuk menjdi dewasa. Remaja obesitas dengan endurance otot core yang rendah berisiko mengalami cedera otot saat aktivitas atau nyeri punggung bawah pada jangka panjang. Endurance otot core dapat ditingkatkan dengan latihan core menggunakan swissball atau resistance band. Tujuan : membuktikan perbedaan efektivitas latihan core dengan swissball dan resistance band terhadap endurance otot core remaja obesitas. Metode : Penelitian ini merupakan randomized controlled trial. Sebanyak 36 remaja obesitas yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dirandomisasi dan dibagi kedalam dua kelompok latihan core dengan swissball (n=18) dan resistance band (n=18). Kelompok latihan core dengan swissball dan resistance band masing-masing menjalani latihan selama 6 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu, dengan durasi latihan 40 menit tiap sesi. Endurance otot core dinilai dengan McGill Core Endurance test. Kesimpulan : Latihan core dengan resistance band dapat meningkatkan endurance otot core remaja obesitas lebih tinggi dibandingakan dengan latihan core dengan menggunakan swissball.
Peran Latihan Terapeutik Pada Pasien Wanita 23 Tahun Dengan Lupus Eritematosus Sistemik (LES) Rahmatika, Rahmatika; Handoyo, Rudy
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 2 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.074 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i2.608

Abstract

Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun yang heterogen yang melibatkan banyak organ dengan gambaran klinis yang beragam. Penyakit ini ditandai oleh produksi antibodi terhadap komponen-komponen inti dan umumnya terjadi pada wanita (rasio 9:1), setelah masa pubertas (pada usia 20-30 tahun) serta dipengaruhi oleh faktor genetika. Pada LES didapatkan keterlibatan kulit dan mukosa, sendi, darah, jantung, paru, ginjal, susunan saraf pusat (SSP) dan sistem imun. Dilaporkan bahwa pada 1000 pasien LES di Eropa yang diikuti selama 10 tahun, manifestasi klinis terbanyak berturut-turut adalah arthritis sebesar 48,1%, ruam malar 31,1%, nefropati 27,9%, fotosensitivitas 22,9%, keterlibatan neurologik 19,4% dan demam 16,6%. Kami melaporkan pasien LES wanita usia 23 tahun dengan arthritis yang mengakibatkan limitasi lingkup gerak sendi (LGS) bahu dan jari tangan sehingga kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (AKS) menggunakan tangan antara lain menggenggam dan memakai pakaian dalam, gangguan pola jalan akibat kekakuan lutut kiri. serta keterbatasan ambulasi (jarak tempuh) akibat nyeri sendi ekstremitas bawah. Pasien diberikan program latihan aerobik dan LGS ekstremitas bawah menggunakan static ergocycle, latihan LGS ekstremitas atas dengan Mechanical Therapy Unit (MTU) serta latihan motorik halus dan latihan AKS. Setelah satu bulan, pasien mengalami perbaikan dalam menggenggam dan memakai pakaian dalam serta dapat berjalan dalam jarak sekitar 100m tetapi pasien masih berjalan jinjit pada kaki kiri akibat kekakuan lutut dan pergelangan kaki kiri.
Pengaruh Penambahan Kinesiotaping pada Rehabilitasi Pasca Stroke Fase Kronis yang Mendapatkan Weight Shifting Training terhadap Kecepatan Berjalan Zakaria, Nieke; Handoyo, Rudy; Setiawati, Erna
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 10 No. 1 (2023): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v10i1.821

Abstract

Background: Stroke is the leading cause of disability including decreased walking speed. It is estimated that 73% of stroke sufferers have a lack of motor control and result in limited mobilization. Kinesiotaping(KT) is a method that can be added to other forms of exercise including weight shifting training. With the addition of kinesiotaping is expected to occur improvements in muscle performance and balance so that the speed of walking increases. Objective: To prove the effect of the addition of KT on chronic stroke rehabilitation that gets weight shifting training on walking speed. Methods: This study is a randomized controlled trial pre-test and post test control group design. There were 18 subjects of chronic stroke rehabilitation patients divided into 2 groups, namely the control group that got weight shifting training (9 people) and the treatment group that got the addition of kinesiotaping to weight shifting training (9 people). The walking speed assessment was measured before and after 4 weeks of treatment. Results: There was a significant difference in the mean walking speed before and after treatment in each group (p<0.001). In the treatment group 0.60 ± 0.08 and 0.68 ± 0.07 at the end. In the control group 0.62 ± 0.05 at the beginning and 0.64 ± 0.05 at the end. There was a sigificant difference in the mean walking speed increase in both groups (p<0.001). Conclusion: The mean increased walking speed was higher in the group that got the addition of KT in chronic phase stroke rehabilitation who received weight shifting training.
Comparison Of The Effectiveness Of High Intensity Laser Therapy (HILT) And Low-Level Laser Therapy (LLLT) On Improving Balance In Knee Osteoarthritis Wibisono, Kukuh; Handoyo, Rudy; Setiawati, Erna
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 11 No. 1 (2024): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v11i1.984

Abstract

BACKGROUND : Osteoarthritis (OA) of the knee is a joint disease with a high prevalence among the elderly. OA can cause balance disorders, which are one of the main causes of falls in the elderly. Balance can be measured using several scoring systems, one of which is the Berg Balance Scale (BBS). One of the treatment modalities for OA is laser therapy which is non-invasive and easy to apply. Low level laser therapy (LLLT) has been widely used in patients with knee OA, but recently high intensity laser therapy (HILT) has begun to be used in physical therapy with advantages over a wider range and depth. AIMS :  to compare the effect of LLLT and HILT therapy on improving functional balance in the elderly with knee OA. METHOD : This research is a randomized controlled trial pre-test and post-test-controlled group design. The sampling method used in this study is the simple random sampling method. The sample size was 27 subjects and divided into two groups, the LLLT group (n=14) and the HILT group (n=13). Each subject received laser therapy sessions 2 times a week for 4 weeks. Balance was assessed using the BBS before and after the intervention. RESULT :  There was an increase in BBS scores before and after treatment in the HILT group (p<0.001) and in the LLLT group (p<0.001), with the increase in the HILT group (7.79 ± 2.16) significantly greater than in the LLLT group (3 .08 ± 0.76) (p<0.001). CONCLUSION : HILT improves balance score better than LLLT.