Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The CM/C Ratio Analysis of Virginian Tobbaco Ovening Business on Various Types of Fuel Use in East Lombok – Indonesia Tajidan Tajidan; Rosi Septina Ningsih; IGL Parta Tanaya
JURNAL SOSIAL EKONOMI DAN HUMANIORA Vol. 8 No. 1 (2022): JURNAL SOSIAL EKONOMI DAN HUMANIORA
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.965 KB) | DOI: 10.29303/jseh.v8i1.16

Abstract

The commonly used feasibility analysis formulas are R/C ratio, Gross B/C ratio and Net B/C ratio. In this analysis, we try to use the CM/C ratio analysis formula as an alternative to assess the feasibility of implementing a new technology. The purpose of this study was to assess the economic feasibility of using kerosene substitute fuel in the virgina tobacco oven process. To achieve the research objectives, data was collected using survey techniques on 44 tobacco farmers who have ovens in three sub-districts, namely Terara sub-district, Sakra sub-district and East Sakra sub-district. In each sub-district, one village was designated as the research location. The location of the research was determined by purposive sampling, which is the center of tobacco plants. Respondents in this study are farmers who have a Temakau Virginia oven in the research location selected by proportional accidental sampling technique as much as 20% of the population. The results showed that the use of kerosene, diesel, coal and liquefied gas fuels has been abandoned by farmers who work on oven ovens for viriginian tobacco, farmers have turned to palm shells, candlenut shells, and firewood. Almost half of the farmers who do tobacco ovens use firewood. The use of palm kernel shells, candlenut shells and firewood fulfills the requirements of economic feasibility with a CM/C ratio ranging from 24 percent to 65 percent higher than the bank interest rate of 4.5 percent per six months
Memahami Preferensi Konsumen terhadap Komoditas Sayuran Lokal: Studi Kangkung Lombok di Pasar Induk Mandalika Kota Mataram IGL Parta Tanaya; Daeva Mubarika Raisa; Mardiana Mardiana; Sarfina Nabilah; Ni Putu Eka Trisnianingsih
Jurnal Riset Multidisiplin Agrisosco Vol 4, No 2 (2026): Vol 4 No 2 Agustus 2026 (In Press)
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengembangan, Pemberdayaan Potensi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61316/jrma.v4i2.329

Abstract

Kangkung Lombok merupakan komoditas sayuran lokal yang memiliki nilai ekonomi, budaya, dan konsumsi tinggi bagi masyarakat Lombok. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap Kangkung Lombok serta menganalisis atribut yang paling dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian di Pasar Induk Mandalika Kota Mataram. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan unit analisis konsumen Kangkung Lombok. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive karena Pasar Induk Mandalika merupakan salah satu pusat perdagangan sayuran terbesar di Kota Mataram. Sebanyak 50 responden dipilih melalui teknik accidental sampling. Data primer dikumpulkan melalui wawancara berbasis kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur dan dokumen pendukung. Atribut produk yang dianalisis meliputi tekstur batang, periode panen, asal budidaya, warna, dan harga. Data dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, dan analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi atribut yang paling disukai konsumen adalah Kangkung Lombok dengan tekstur batang mudah patah, periode panen pertama atau kedua, berasal dari Narmada/Suranadi/Lingsar, berwarna hijau muda, dan harga kurang dari Rp2.000 per ikat. Atribut yang paling dipertimbangkan konsumen adalah tekstur batang dengan nilai kepentingan 24,955, diikuti oleh warna, harga, asal budidaya, dan periode panen. Model konjoin dinilai layak karena nilai Pearson’s R sebesar 0,918 dengan signifikansi 0,001. Temuan ini menegaskan bahwa kelembutan batang, kesegaran visual, keterjangkauan harga, dan reputasi asal budidaya merupakan dasar penting dalam pembentukan preferensi konsumen. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pedagang dan petani untuk menyesuaikan mutu produk dengan preferensi pasar.