Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Challenges of Educational Philosophy (Humanism, Idealism, Naturalism, Pragmatism, Materialism, Existentialism) and its Impact on PAK in the Era of Globalization Yeremia Jahtra Pay Phela; Nelson Hasibuan; Ampinia R. W. Rohy; Mario Alberto Manodohon
Formosa Journal of Multidisciplinary Research Vol. 2 No. 5 (2023): May, 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjmr.v2i5.4315

Abstract

Education in the current era of globalization is experiencing a value crisis. Education only produces outputs that are cognitively smart, master theory and technology but dry from human and social values ​​(dehumanization). The purpose of this article is to describe the challenges of educational philosophy and its impact on PAK in the era of globalization that philosophy is the view of life of a person or group of people which forms the basis for all aspects of their life. It must also be understood that in studying secular philosophy one must be careful. The Bible explains that, “Be careful that no one takes you captive with empty and false philosophies according to traditions and the spirits of the world, but not according to Christ (Col. 2:8). Educators must be thorough and examine each of these teachings with the truth of God's word (Prov. 16:2; 17:3; 21:2; Jer. 20:12; Gal. 6:4).
Filsafat Pemikiran Progresif John Dewey Vs Sentralitas Alkitab Menjadi Fokus Pengenalan Akan Filsafat Pendidikan Agama Kristen Christono Ade Andreas Tonggembio; Ampinia Rahap Wanyi Rohy; Indraldo Undras; Mario Alberto Manodohon; Nelson Hasibuan
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 6 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v6i2.63

Abstract

Latar belakang dari penelitian ini terkait filsafat pemikiran progresif Jhon Dewey (1859-1952) berpengaruh terhadap pendidikan Kristen dan perkembangannya. Guru tidak termotivasi untuk belajar lebih tekun dengan dalih mereka hanya fasilitator, anak harus aktif belajar sendiri, mereka tidak membutuhkan disiplin, tidak membutuhkan otoritas dalam kelas, dapat menerapkan pola belajar mereka sendiri, dan menerapkan belajar melalui pengalaman (learning by doing) dengan sendirinya sebagai konstruktor pengetahuan. Sekolah Kristen sudah bukan lagi sekolah yang hidup karena simbol-simbol kekristenan, bukan lagi sekolah yang hidup dalam nilai-nilai religiusitas semata. Sudah seharusnya sekolah Kristen lahir dalam keseharian hidup, berelasi dengan Tuhannya, mengalami Tuhan, dan memiliki spiritualisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan oleh pemikir pendidikan Kristen dalam meresponinya, sehingga pendidik tidak tersesat dan terbawa oleh arus dunia ini. Sementara itu, metode kualitatif studi kepustakaan melaui analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini bahwa seharusnya pendidik Kristen memahami pemikiran filsafat Kristen yang berdasarkan kepada kebenaran Alkitab. Filsafat pendidikan yang dianut sebuah sekolah sangat menentukan praksis pembelajaran yang berlangsung, yang ujungnya bermuara pada pembinaan dan kualitas pendidikan. Filsafat pendidikan Kristen memiliki sentralitas Alkitab. Semua prinsip pendidikan digali dari kebenaran firman Tuhan. Spiritualisme dalam operasional sekolah yang lahir melalui disiplin, kurikulum, dan metode dalam mandat Injil. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah pendidikan Kristen harus berakar dari manusia ciptaan Tuhan, diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Natur manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan sudah ditebus oleh kasih Allah sehingga manusia memahami hidupnya di dunia. Sentralitas Alkitab menjadi fokus pengenalan akan filsafat pendidikan Kristen, yaitu: Realitas Ciptaan Allah, Mandat Penciptaan, Perjanjian Antara Allah dan Umat Pilihan-Nya, Mandat Amanat Agung.