Cindy Eka Ernanda
Universitas Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Risiko Bencana Dalam Masyarakat Modern Yensi Purwanti; Cindy Eka Ernanda; Sindi Ariska Dwi Agustin
Jurnal Insan Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 1 No. 2 (2023): Mei: Jurnal Insan Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Universitas Katolik Widya Karya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/jipsoshum-widyakarya.v1i2.317

Abstract

The risk society, also known as the Risk Society, is a term associated with the famous sociologist Ulrich Beck. According to him, we are still in a new era, even in a new form of modernity. There are still many sociological publications that still refer to the main idea of ​​a risk society. The concept of uncertainty follows a societal perspective that develops through a narrow perspective of the risk society regarding environmental hazards. The role of technology is often underexplained in sociological theory. So that technological risk is not taken into account in Beck's risk community concept. There are three basic characteristics that overlap from the first modernity in pursuing society of risk as an important concept. Disaster is an event or phenomenon that has the potential to cause damage resulting in loss of life and cause destruction of property. There are three types of disasters according to their causes. In risk research on sociological discourse, media and communication play a role in the construction of risks that get recognition about risks. Disaster management can be understood as a set of policies to make efforts related to disasters before, during and after a disaster, which include prevention, mitigation, preparedness, emergency response, healing and repair through appropriate and effective organizing activities. This can be criticized in two ways, namely, in terms of studies regarding the perspective of a socio-cultural approach to a risk and surveys regarding general risk awareness.
Solidaritas Para Buruh Tani Dalam Menghadapi Modernisasi Di Sektor Pertanian Chechya Avayah Tiffany; Cindy Eka Ernanda; Ervina Safitri Herdianing
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 4: Juni 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v2i4.1714

Abstract

Negara agraris adalah julukan bagi Indonesia di mana hampir separuh masarakatnya bermata penacaharian dan menggantungkan hayatnya ke bidang pertanian. Bidang pertanian memiliki  peran bernilai sebagai penyerapan tenaga kerja di pedesaan. Tak sedikit dari masyarakat desa yang memutuskan untuk bekerja di sektor pertanian. Sebutan buruh tani disandang oleh seorang yang bertugas pada lahan pertanian punya orang lain untuk agar memperoleh hasil gaji dari empunya sawah tersebut karena sudah menggarap lahannya. Dalam melakuakn pekerjaannya menjadi seorang buruh yang menggarap lahan pertanian, para buruhmembentuk sebuah  kelompok yang menciptakan sebuah solidaritas antar buruh tani. Solidaritas sosial tercipta agar masyarakat senantiasa hidup saling menghargai dan dapat menciptakanketergantungan dan keterkaitan antar individu agar tercpainya tujuan bersama. Kelompok sosial terbentuk atas dorongan ketergantungan dan keterkaitan antar individu  satu dengan individu yang lain. Namun terjadinya berbagai macam bentuk perubahan yang ada pada pembangunan di sektor  pertanian mengakibatkan berubahnya  bentuk struktur pada ekonomi dan budaya  pada masyarakat pedesaan, khususnya hal tersebut terjadi kepada buruh tani.  Abad globalisasi mempunyai imbas yang tangguh di segala ukuran yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan sosial baik secara positif maupun negatif. Alat pertanian sudah dikenalkan sudah sejak lama, namun terdapat evaluasi-evaluasi yang berlangsung dengan baik numan juga banyak pula yang gagal. Alat pertanian di bagi dua yakni alat pertanian kuno atau tradisional dan juga alat pertanian yang sudah modern. Dalam penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif  dengan menggunakan metodologi etnografi dimana subjeknya tidak hanya fokus pada  satu individu saja.