Pluralisme budaya adalah terdapatnya lebih dari satu sistem budaya dalam suatu masyarakat, kemudian sistem budaya tersebut oleh anggota masyarakat sama-sama diberlakukannya. Pluralisme budaya dapat muncul karena adanya berbagai macam suku bangsa dan juga karena adanya proses perubahan masyarakat. Fokus penelitian pada penulisan ini adalah bagaimana representasi pluralisme budaya dalam Sinetron Raden Kian Santang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian semiotika Roland Bartes. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dan dokumentasi. Teknis analisis data meliputi penanda, petanda, konotasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dari representasi pluralisme budaya dalam sinetron Raden Kian Santang terdapat empat poin yaitu. 1) Tidak boleh memaksakan seseorang untuk masuk agama yang di anutnya, artinya seseorang berhak memeluk agama yang diyakininya. 2) Tidak memusuhi agama lain artinya walaupun berbeda agama tetap menciptakan kehidupan harmonis dan saling mendoakan hal hal baik. 3) Saling tolong menolong dengan sesama manusia. 4) Hidup rukun dan damai dengan sesama manusia. Dalam tayangan sinetron Raden Kian Santang ini merepresentasikan bagaimana kelompok orang yang terdiri dari budaya-budaya yang berbeda kemudian mereka berada dalam satu kelompok masyarakat kerajaan, mampu menerima satu sama lain tanpa mebeda-bedakan kelompok satu dengan kelompok yang lain. Beberapa karakter tokoh yang berbeda-beda budaya dalam tayangan ini menunjukkan identitas dari masing-masing budaya yang mereka anut. Diantaranya adalah budaya Hindu, Budha dan Islam walaupun demikian, tokoh-tokoh yang berbeda budaya tersebut menunjukkan sikap toleransi satu sama lain. Hal ini terlihat dari beberapa karakter tokoh yang berbeda-beda budaya ikut serta dalam tradisi dari budaya lain.