Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Implementasi Keputusan Menteri Agama Nomor 184 Tahun 2019 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Pada Madrasah Dalam Mewujudkan Mutu Pendidikan Andi Mahrisal Sabil; Firdaus Firdaus; Burhanuddin Burhanuddin
Jurnal Al-Ilmi: Jurnal Riset Pendidikan Islam Vol 3 No 02 (2023): Volume 03 Nomor 02 Maret 2023
Publisher : Universitas Islam Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-ilmi.v3i02.1865

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk implementasi KMA 184 tahun 2019 yang telah diterapkan dalam mewujudkan mutu pendidikan di MA Darul Istiqamah Bongki Rinjani, dampak Implementasi KMA 184 Tahun 2019 dalam mewujudkan mutu pendidikan di MA Darul Istiqamah Bongki Rinjani. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian fenomenologi dengan menggunakan pendekatan pendekatan kualitatif. Subyek dari penelitian ini adalah Stakeholder Madrasah, Komite Madrasah, Guru dan peserta didik MA Darul Istiqamah Bongki. Adapun metode pengumpulan data yaitu dengan wawancara, observasi atau catatan lapangan, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan teknik reduksi data, penyajian data dan verivikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Darul Istiqamah Bongki mampu menjadi Madrasah yang memiliki daya saing untuk dapat mewujudkan madrasah yang unggul dengan madrasah negeri lainnya dalam cakupan se-kabupaten Sinjai. Yang menjadi nilai daya saing bagi madrasah ini adalah dalam beberapa tahun terakhir mampu berprestasi hingga event Provinsi selain itu mutu lulusan di terima di berbagai perguruan tinggi. Penerapan dari KMA 184 Tahun 2019 yang merupakan regulasi dari Kementerian Agama Republik Indonesia merupakan angin segar bagi madrasah untuk mengembangkan kekhasannya sendiri. Dengan kekhasan atau karakteristik madrasah tersebut dapat menjadi titik tolak atau nilai yang mampu menjadikan sebuah madrasah yang unggul.Upaya yang senantiasa dilakukan oleh MA Darul Istiqamah Bongki adalah menciptakan Sumber Daya Manusia terkait dengan guru dan tenaga kependidikan yang memiliki Kompetensi serta up to date dengan materi pembelajaran melalui kegiatan PJJ, MGMP, K2M
KEPEMIMPINAN WANITA DALAM PERSPEKTIF HADIS (Kajian Kritik Hadis dengan Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual) Firdaus Firdaus; Siar Ni'mah
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 6 No. 2 (2022): September
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v6i2.339

Abstract

Kepemimpinan wanita selalu menjadi polemik, padahal sandaran hadis yang digunakan adalah teks hadis yang sama. Karena itu muncul pertanyaan-pertanyaan mengapa sebuah hadis dapat melahirkan beragam interpretasi. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan tematik hadis. Pengumpulan data terkait dengan hadis kepemimpinan wanita didapatkan melalui aplikasi al-maktabah asy-syamilah. Adapun analisa data dalam penelitian ini adalah analisis isi (content analysis) atau lazim disebut analisis takhrij al-hadits dalam hadis, selain itu penelitian ini melalui pendekatan sosio, historis, dan kontekstual. Hasil yang ditemukan mengandung dua sudut pandang, yakni kaum tekstualis dan kontektualis. Simpulannya, tekstualis mengatakan dengan tegas bahwa menurut hadis ini wanita tidak diperbolehkan untuk memimpin. Sementara kontekstualis juga mengatakan dengan tegas bahwa hadis larangan pemimpin wanita tidak boleh dipahami secara kasat mata teksnya, tetapi dengan menggunakan pendekatan yang tepat, sehingga hasilnya adalah wanita boleh memimpin, baik domestik maupun publik.The woman leadership has always been a polemic, whereas the hadits used is the same hadits. Therefore, there are some questions about the hadits interpretation, the question was how could that one hadits arise many interpretations. This research is alibrary research with the thematic hadits approach. The collection of data that concerning of the women’s leadership used the application called al-maktabah asy-syamilah. The data analysis used is content analysis or often called by takhrij hadits analysis with the socio, historical, and contextual approaches. The result in this research was found two point of view from the textualists and the contextualists. The conclusion are, the textualist said that according to the hadith women are not allowed to lead. Meanwhile, the contextualist said that according to the hadith too, the women are allowed to lead, domestic nor public.
Hubungan Lagu Berbahasa Arab dengan Maharah Istima’ Mahasiswa Nurul Fawzani; Firdaus; Akmal
Naskhi: Jurnal Kajian Pendidikan dan Bahasa Arab Vol 4 No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 Oktober 2022
Publisher : IAI Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/naskhi.v4i2.1214

Abstract

The purpose of this study was to determine the degree of relationship between Arabic songs and maharah istima' (listening ability) of the Students of Arabic Education Study Program IAI Muhammadiyah Sinjai. This research belongs to the type of correlational research and uses a quantitative approach. The object of this research is the Arabic Language Education Study Program students, totaling 86 people, with a total sample of 68 people. The results of this study indicate that there is a relationship between Arabic songs and maharah istima' of the Students of Arabic Education Study Program IAI Muhammadiyah Sinjai. Based on the product moment correlation test results obtained a value of 0.000 <0.05 so that H0 is rejected and Ha is accepted. In the coefficient interval 0.60-0.799, the results of the correlation coefficient of 0.722 indicate that the correlation between Arabic songs and maharah istima' is included in the strong category.
Zuhud Dalam Perspektif Sunnah Firdaus Firdaus
Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Al-Mubarak
Publisher : LP2M IAIM Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-mubarak.v4i1.48

Abstract

Sikap zuhud bukanlah sikap pesimistis terhadap kehidupan dunia dan tidak pula menganggapnya sebagai suatu hal yang harus tinggalkan. Akan tetapi Zuhud adalah suatu sikap mental yang mencerminkan pola hidup sederhana, tidak mementingkan kehidupan dunia secara berlebih-lebihan, namun tidak melupakannya sama sekali. Dunia bukanlah tujuan,te tapi tempat persinggahan dan tempat mengabdikan diri kepada Allah Swt. Zuhud tidak menolak, apalagi mengharamkan kekayaan. Zuhud hanya membenci kemewahan dan kehidupan dunia yang berlebih-lebihan. Seseorang boleh saja memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi pola hidupnya tetap sederhana dan kekayaannya tersebut dipergunakan pada hal-hal yang dapat membuat dirinya lebih dicintai oleh Allah Swt dan lebih disenangi oleh orang lain. Sikap zuhud dan pola hidup sederhana telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Beliau dapat saja memiliki kekayaan, namun tidak dilakukannya. Selain itu, sikap zuhud akan melahirkan sifat-sifat terpuji, seperti qana'ah, tawadhu' dan syukur. Sifat-sifat ini dapat melahirkan ketenangan dalam kehidupan. Tidak lupa diri karena kekayaan yang melimpah di tangannya dan tidak sedih karena kemiskinan dan musibah yang menimpanya. Segala sesuatu yang terjadi pada dirinya selalu disandarkan pada Tuhan.
Studi Kritis Tafsir Mafatih Al-Ghaib Firdaus Firdaus
Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Al-Mubarak
Publisher : LP2M IAIM Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-mubarak.v3i1.214

Abstract

Tulisan ini membahas tentang Mafatih al-Ghaib yang ditulis oleh seorang ulama terkenal, Imam Fakhr ad-Din ar-Razi. Secara gamblang tulisan ini menjelaskan seluk beluk pemikiran tafsirnya, yakni dimulai dari sumber tafsir, corak tafsir, demikian dengan metode tafsirnya, dilengkapi dengan pandangan-pandangan Ar-Razi terhadap ulum al-Qur’an. Hal ini penting dalam kajian tafsir khususnya pada tafsir dengan sumber bi al-ra’yi, mengingat betapa komprehensifnya ulasan yang disampaikan oleh ar-Razi dalam tafsir ini. Menjadi hal yang tidak bisa ditolerir jika produk tafsir dari masa ke masa tidak dikenal oleh para pegiat tafsir masa kini. Hal demikian tentu didasari oleh urgennya kedudukan tafsir yang terbilang klasik menjadi acuan pagi mufasir modern dalam menjelajahi setiap makna yang diinterpretasikan dari ayat-ayat-Nya. Demikianlah bahwa lahirnya studi tafsir mafatih al-Ghaib ini juga untuk mengisi ruang tersebut.
Leksiologi Bahasa Tinjauan Variasi Lafaz Dalam Hadis Firdaus Firdaus
Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3 No 2 (2018): Jurnal Al-Mubarak
Publisher : LP2M IAIM Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-mubarak.v3i2.215

Abstract

Al-Quran dan al-Hadits adalah pedoman muslim yang diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab, penuh dengan kaidah tata bahasa yang agung dan susunan ungkapan yang sangat indah sehingga ketika akan memahami maksudnya diperlukan penguasaan bahasa Arab. leksiologi kata dalam hadis sangat ditentukan oleh lafadz-lafadz basyīr, al-jinnah, nadzīr, al-du`a, Al-Munkar, tarbiyah, Al-Nahy, al-Khalifah, dan ta’lim. Kata basyīr dan beberapa derivasinya memiliki dua unsur makna kunci yaitu; (1) adanya proses menampakkan, memberitahukan, atau memberikan informasi, serta (2) sesuatu yang diinformasikan bersifat menggembirakan. Atau kalau kita mengambil pendapat Al-Thabary terdapat unsur ketiga yaitu (3) informasi yang menggembirakan tersebut sebelumnya tidak diketahui oleh penerima. Kata indzār lebih sering digunakan untuk mengartikulasikan pemberian peringatan atau informasi yang menakutkan, meskipun juga bisa berarti pemberian informasi secara mutlak. Atau dalam konteks beberapa ayat al-Qur’an bisa memiliki arti memberikan peringatan berupa pengajaran pesan-pesan agama Islam. Sedangkan kata Ta’lim secara umum hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata. Hal ini memberikan pemahaman bahwa ta’lim hanya mengedepankan proses pengalihan ilmu pengetahuan dari pengajar (mu’alim) dan yang diajar (muta’alim).
Musyawarah Dalam Perspektif Al-Qur'an Firdaus Firdaus
Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Al-Mubarak
Publisher : LP2M IAIM Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-mubarak.v4i2.224

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna-makna ayat Al- Qur’an terkait musyawarah, hal ini dilakukan mengingat konteks musyawarah merupakan satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat muslim, sebagaimana Nabi Saw. telah menerapkan konsep musyawarah ini untuk memutuskan masalah dengan tepat. Metode penulisan ini adalah studi kepustakaan (library research) yakni menelaah sumber-sumber normatif yang dapat dijadikan sebagai sajian informatif dalam konteks kehidupan manusia (umat Islam) secara luas. Dengan demikian, makna daripada ayat-ayat musyawarah dalam Al-Qur’an betul-betul dapat diinterpretasi secara tepat dengan tidak melupakan konteks historis dimana ayat-ayat musyawarah tersebut diturunkan, sehingga yang dihasilkan adalah konsep yang tidak saja interpretatif tetapi implementatif. Pada akhirnya konsep musyawarah sebagaimana Al-Qur’an ketengahkan ini menjadi konsep yang dapat diterapkan secara global.
Virus Corona Dalam Perspektif Sunnah Firdaus Firdaus
Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Vol 5 No 1 (2020): Jurnal Al-Mubarak
Publisher : LP2M IAIM Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-mubarak.v5i1.292

Abstract

Hadis menjelaskan tentang wabah dengan istilah thaa’uun. Istilah ini mencakup semua bentuk virus atau wabah yang dapat menular atau mewabah kepada setiap orang. Melalui kata thaa’uun, hadis-hadis Nabi Saw tentang virus corona dapat ditelusuri. Ini menunjukkan bahwa di masa Nabi dan sahabat telah terjadi kondisi yang serupa dengan kondisi yang menimpa hampir semua negara saat ini. Menurut hadis Nabi Saw, salah satu cara menghindari atau memutus mata rantai merebak atau semakin meluasnya wabah itu adalah lockdown atau isolasi diri, termasuk stay home. Keluar rumah dibolehkan jika ada kepentingan tertentu dan mendesak, itupun harus hati-hati, menggunakan masker, dan menjaga jarak dengan orang lain atau social distancing. Illat gugurnya kewajibah shalat jum’at dan shalat berjama’ah adalah berkumpul dalam satu tempat saat Covid-19 dapat menular dan menyebar, karena hal ini dapat menambah dan dianggap dapat memperluas penyebaran wabah Covid-19 tersebut. Dan jika hal ini terjadi terus menerus, maka korban akan terus bertambah dan mata rantai penyebaran Covid-19 sangat sulit untuk dihentikan. Karena itu, seluruh ibadah yang melibatkan banyak orang dan berkumpul dalam suatu tempat harus dihindari, termasuk shalat jum’at, shalat wajib, tarwih, dan ‘Id secara berjama’ah. Pelaksanaan Ibadah ini, sebaiknya dilaksanakan di rumah masing-masing sampai terhentinya penyebaran Covid-19.
ULUL ALBAB DALAM AL-QUR’AN Firdaus Firdaus
Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Vol 6 No 2 (2021): Jurnal Al-Mubarak
Publisher : LP2M IAIM Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-mubarak.v6i2.490

Abstract

Ulul albab dalam Al-Qur’an disebutkan pada banyak tempat, kehadirannya yang banyak itu tentu saja menyiratkan makna mendalam, sehingga dirasa penting melakukan penelitian ini. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode tafsir tematik, yakni menetapkan sebuah tema ulul albab sebagai poros dalam mengupas ayat-ayatNya. Tujuan penelitian ayat-ayat ulul albab ini adalah untuk mengetahui sikap dan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang ulul albab (cendikiawan muslim) menurut Al-Qur’an. Melalui pendekatan tematik ini, sikap dan karakteristik seorang ulul albab akan menjadi jelas. Selanjutnya, kesimpulan dari interpretasi ayat-ayat ulul albab adalah bagaimana pemahaman terhadap sikap dan karakteristik ulul albab, harus dimiliki oleh seorang cendikiawan muslim, agar betul-betul dapat menjadi ulul albab yang sesungguhnya.
KORELASI HASIL BELAJAR ILMU TAJWID DENGAN TINGKAT KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN MAHASISWA PRODI IAT IAI MUHAMMADIYAH SINJAI Siar Nimah; Firdaus; Amir Hamzah
Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Vol 6 No 1 (2021): Jurnal Al-Mubarak
Publisher : LP2M IAIM Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-mubarak.v6i1.491

Abstract

Pembelajaran ilmu tajwid penting dilakukan sebagai dasar mengukur kemampuan membaca Al-Qur’an. Idealnya, seorang yang mahir dalam ilmu tajwid, maka kemampuan membaca Al-Qur’annya pun baik, begitu sebaliknya. Penelitian ini mengambil populasi pada mahasiswa prodi IAT IAIM Sinjai dengan 38 sampel dari angkatan 2017, 2018, dan 2019. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan perspektif korelasional. Pengumpulan datanya dengan teknik dokumentasi, observasi, dan tes. Data yang ada kemudian dianalisa dengan menggunakan alat bantu aplikasi SPSS 21. Hasilnya, terdapat korelasi yang signifikan antara variabel independen (pemahamn ilmu tajwid) dan variabel dependen (kemampuan membaca Al-Qur’an), dengan tingkat korelasi sedang atau cukup. Kesimpulan ini sesungguhnya memberikan alarm bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik selalu berbanding lurus dengan penguasaan keilmuan tajwid.