nanang muhibuddin, nanang
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA DENGAN TERKENDALINYA KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 (Studi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kediri) muhibuddin, nanang; Sugiarto, Sugiarto; Wujoso, Hari
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 September 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.287 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i1.10407

Abstract

Penyakit Diabetes Melitus  jumlahnya terus meningkat serta menjadi masalah kesehatan karena komplikasinya, terjadi akibat kurangnya pengetahuan maupun sikap Keluarga dalam kontrol gula darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dengan terkendalinya kadar gula darah pada pasien DM tipe-2. Rancangan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel 46 Responden keluarga (extended) pasien diambil dengan accidental sampling. Dilaksanakan di RSUD Kabupaten Kediri Bulan Februari sampai Maret 2016. Variabel bebas pengetahuan skor 0-30 dan sikap skor 0-120 tentang terkendalinya kadar gula darah dengan lembar kuesioner, variabel terikat Terkendalinya kadar gula darah Glycohemoglobin (HbA1c) dalam % dengan lembar observasi Rekam Medis (HbA1c). Data  dinyatakan dalam skala interval dan di analisis menggunakan Regresi Linier berganda. Tingkat kesalahan (α) 5% (0,05). Hubungan pengetahuan keluarga dengan terkendalinya kadar gula darah (b= –0.29; CI 95%= -0.53 s/d -0.05; p=0.017 (30,1%)). Hubungan sikap keluarga dengan terkendalinya kadar gula darah (b= -0.125; CI 95%= -0.22 s/d -0.03; p=0,012 (31,1%)). Hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dengan terkendalinya kadar gula darah p=0,001 (37%) terkendalinya kadar gula darah pada pasien Diabetes Melitus tipe-2 dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan sikap. Ada hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dengan terkendalinya kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe-2.Kata Kunci : Pengetahuan Keluarga, Sikap Keluarga, Terkendalinya kadar gula darah
PENGARUH STIMULASI DINI DAN STATUS GIZI TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 2-3 TAHUN Muhibuddin, Nanang; Rini, Sulistyo Dewi Wahyu; Nurochim, Erna
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.54561

Abstract

Perkembangan motorik halus anak usia 2–3 tahun merupakan aspek penting dalam menunjang kesiapan belajar dan kemandirian anak. Perkembangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik biologis maupun lingkungan, seperti stimulasi dini, status gizi, pola asuh orang tua, dan tingkat pendidikan ibu. Di Kabupaten Kediri masih ditemukan anak dengan keterlambatan perkembangan motorik halus yang diduga berkaitan dengan variasi faktor-faktor tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keempat faktor tersebut terhadap perkembangan motorik halus anak usia 2–3 tahun. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian adalah seluruh anak usia 2–3 tahun di wilayah kerja Puskesmas Brenggolo, dengan sampel sebanyak 120 anak yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Variabel independen meliputi stimulasi dini, status gizi, pola asuh, dan pendidikan ibu, sedangkan variabel dependen adalah perkembangan motorik halus anak. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner stimulasi dan pola asuh, pengukuran antropometri untuk status gizi, serta Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis data menggunakan uji regresi logistik multivariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa stimulasi dini, status gizi, pola asuh, dan pendidikan ibu berpengaruh signifikan terhadap perkembangan motorik halus anak (p<0,05). Anak yang memperoleh stimulasi baik, status gizi normal, pola asuh positif, dan ibu berpendidikan lebih tinggi memiliki peluang lebih besar mencapai perkembangan motorik halus sesuai usia.. Keempat faktor tersebut secara bersama-sama memengaruhi perkembangan motorik halus anak usia 2–3 tahun, sehingga intervensi terpadu perlu difokuskan pada keluarga dan lingkungan pengasuhan.