p-Index From 2021 - 2026
0.983
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Arsitektur
Sasurya Chandra
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

TIPOLOGI BANGUNAN TRADISIONAL DI KABUYUTAN TRUSMI Muhammad Taufiq Ismail; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2021): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1981.842 KB) | DOI: 10.59970/jas.v13i2.30

Abstract

Kabuyutan Trusmi merupakan salah satu kompleks pemakaman bersejarah di Kabupaten Cirebon. Selain area pemakaman, Pada kompleks ini juga terdapat Masjid sebagai bangunan utama, serta bangunan-bangunan tradisional lainnya yang masih bertahan dan berfungsi hingga sekarang. Banyaknya bangunan tradisional di kompleks ini yang mendasari penulis untuk melakukan penelitian. Seperti apakah tipe-tipe bangunan tradisional yang ada dikompleks ini. Maka dari itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipologi bangunanbangunan tradisional di Kabuyutan Trusmi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatifmelalui observasi, analisa, wawancara, serta studi pustaka. Hasil temuan dari penelitian ini didapat bahwa bangunan-bangunan pada kompleks tersebut memiliki fungsi atau kegunaan yang berbeda dikelompokan berdasarkan bentuk, struktur dan sifat dari bangunan tersebut
SIMBOLISASI PENGGUNAAN ORNAMEN PADA ELEMEN FASAD GEREJA SANTO YUSUF Sri Ayu Sladiva; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1762.792 KB) | DOI: 10.59970/jas.v14i2.75

Abstract

Cirebon memiliki banyak cagar budaya salah satunya yaitu Gereja Santo Yusuf. Gereja Santo Yusuf menjadi gereja katolik tertua se-Jawa Barat yang menjadi salah satu ikon di kota Cirebon. Gereja yang dirancang oleh Gaunt Slotez berada di Jalan Yos Sudarso tepatnya di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Gereja katolik yang berkembang pada tahun 1877 ini dirintis oleh seorang pengusaha bernama Louise Theodore Gonsalves yang juga menjadi seorang pemimpin perusahaan pabrik gula di Tersana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simbolis penerapan ornamen yang ada pada gereja Santo Yusuf di Cirebon atau simbolisasi penggunaan ornamen pada elemen fasad gereja Santo Yusuf Cirebon. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif. Data yang diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, pengumpulan data dari sumber informasi, pengukuran serta dokumentasi. Masing – masing gereja memiliki ciri khas tersendiri, mungkin yang menjadi salah satu ciri khas tersebut dapat dilihat dari ornamennya. Banyak orang yang mengetahui ornamen adalah karya yang indah, namun sedikit orang yang mengetahui ornamen juga memiliki simbolik. Maka dari itu, penerapan ornamen pada arsitektur gereja juga dapat mengetahui simbolik atau pesan yang terkandung di dalamnya. Pusat peradaban umat katolik di dunia berada pada Vatikan, Eropa
PROPORSI DAN KESEIMBANGAN FASAD PADA BANGUNAN KOLONIAL GEDUNG NEGARA Syifa Ihsani Fadhillah; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 15 No. 1 (2023): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1936.777 KB) | DOI: 10.59970/jas.v15i1.98

Abstract

Arsitektur Kolonial merupakan perpaduan arsitektur Barat dengan mengadaptasi unsur budaya timur di Nusantara sebelum masa kemerdekaan. Ketika Belanda menduduki Nusantara banyak perubahan yang terjadi dari system pemerintahan, perekonomian, dan merubah gaya arsitektur juga. Arsitektur kolonial ini dibawa oleh arsitek Belanda, hanya diperuntukkan untuk bangsa Belanda yang tinggal di Indonesia. Tersebar secara luas di seluruh Nusantara. Gedung Negara Keresidenan Cirebon merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang ada di Cirebon . Gedung Negara Keresidenan Cirebon adalah sebuah bangunan kolonial yang berada di jalan Siliwangi Kota Cirebon. Dibangun pada masa keresidenan Albert Wilhem Kinder De Camurecq sekitar tahun 1865. Dirancang oleh arsitek Belanda bernama Van Den Berg. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai rumah dinas residen yang menjadi tempat beristirahat para petinggi Hindia Belanda. Bentuknya masih mempertahankan ciri khasnya yaitu bangunan dengan gaya arsitektur Indische Empire Style. Ini menjadi hal yang menarik, karena bentuk massa bangunan dan prinsip desain dari sudut pandang proporsi dan keseimbangan pada Façade depan menyampaikan makna secara tidak langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih dalam tentang proporsi dan keseimbangan fasad pada bangunan kolonial di Gedung Negara Cirebon. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kulaitatif dengan melakukan pengamatan pada objek pengamatan, mengidentifikasi bangunan menyesuaikannya dengan teori yang berkaitan dengan prinsip desain proporsi dan keseimbangan, mengambil kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pada komposisi fasad memiliki proporsi dan keseimbangan bentuk massa dengan prinsip desain sesuai teori yang digunakan. Dalam fasad Keresidenan ini sudah menerapkan dua poin komposisi penyusun bentuk yang cukup baik dan sudah diterapkan pada bangunan yang sekarang
KOMBINASI ARSITEKTUR ISLAM JAWA DAN ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA MASJID: Studi Kasus : Masjid Dog Jumenang Astana Gunung Jati Cirebon Mariska Ershaputri; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2297.541 KB) | DOI: 10.59970/jas.v14i1.99

Abstract

Masjid ini merupakan bagian dari kompleks Astana Gunung Jati, Kompleks makam Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Beserta Turunannya. Terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Masjid ini didirikan tidak lama setelah Astana Gunung Jati dibangun, yaitu sekitar abad ke - 15 ( Tahun 1470 M ). Nama Dog jumeneng berasal dari dog yang memiliki arti ‘ anteng ‘ ( bahasa jawa ) atau ‘tenang’ sedangkan jumeneng berarti ‘ menjadi diri sendiri dengan kesejatian insani‘,sehingga dog jumeneng mengandung makna dalam memperoleh keagungan tertinggi dilakukan oleh diri sendiri dengan jiwa yang tenang danistiqomah. Penelitian ini di lakukan untuk menjawab pertanyaan sejauh mana kombinasi arsitektur islam jawa dan arsitektur vernakular pada masjid dog jumeneng. Metode yang digunakan adalah metode Kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teori dari Miles dan Huberman yaitu mereduksi data,menyajikan data, dan menyimpulkan data. Hasil penelitian menunjukan adanya Kombinasi Arsitektur Islam Jawadan Arsitektur Vernakular pada masjid dog jumeneng ialah terlihat dari bahan kontruksi alami yang di gunakan dan juga dari bentuk atap yang mengerucuk ke satu titik
KARAKTERISTIK FASAD PADA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF CIREBON Lia Yasmin Ramaniya A; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2074.716 KB) | DOI: 10.59970/jas.v12i2.104

Abstract

Kota Cirebon merupakan daerah pesisir pantai utara jawa yang memiliki jalur pelabuhan sebagai tempat kegiatan perdagangan bangsa Indonesia dengan bangsa asing. Salah satunya yakni bangsa Eropa. Pada masa jajahannya, bangsa Eropa membangun rumah, kantor pemerintahan, tempat ibadah serta pemukiman sehingga terbentuk suatu tatanan kota kamp-kamp bangunan Kolonial, seperti yang tampak pada kawasan Jl. Yos Sudarso terdapat beberapa bangunan peninggalan Kolonial yang menjadi karakteristik fasad bangunan Kolonial pada kawasan tersebut. Jl Yos Sudarso memiliki karakteristik fasad sebagai bangunan bersejarah pada masa kolonial, sehingga karakteristik fasad ini dinilai sebagai penentu gaya arsitektur terhadap suatu bangunan. Menurut Rob Krier (2001:122) fasad merupakan bagian depan yang yang menghadap jalan serta pada bagian belakang sebagai ruang eksterior semipublik atau ruang eksterior pribadi. Fasad juga merupakan penyampaian budaya saat bangunan itu dibangun serta mengungkapkan kriteria tatanan, penataan dan memberikan kreativitas dalam ornamentasi serta dekorasi. Pada Penelitian ini menggunakan metode penetilian kualitatif yang bersifat deskriptif, yakni mendeskripsikan atau menjelaskan penelitian dengan fakta apa adanya. Serta teknik pengumpulan data diperoleh melalui data primer dan data sekunder. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bangunan Gereja Santo Yusuf memiliki karakteristik terhadap bangunan kolonial dengan penggunaan gewel di atas bangunan yang berbentuk segitiga.
POLA GEOMETRI PADA MASSA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF CIREBON Much. Fakri Gaffar; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2021): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59970/jas.v13i1.113

Abstract

Gereja Santo Yusuf adalah sebuah banguanan kuno yang berada di Jl. Yos Sudarso, Kota Cirebon. Didirikan pada tahun 1878 oleh Louis Theodore Gonsalves, pemilik Pabrik Gula di pulau Jawa pada saat itu, dengan arsiteknya yang bernama Gaunt Slotez. Gereja ini didirikan sebagai ucapan terimakasih kepada ayahnya, Joseph Maria Gonsalves. Karena bangunan ini termasuk kedalam bangunan kuno yang berada di Kota Cirebon, kita sebagai mahasiswa arsitektur yang berada di Kota Cirebon sangat berantusias untuk mengadakan sebuah penelitian tentang Gereja ini. Karena gereja ini merupakan objek arsitektur kuno yang berada di Kota Cirebon, hal yang menarik pada Gereja ini terletak pada massa bangunannya, dan bentuk geometri yang tersirat pada Façade depan bangunan Gereja Santo Yusuf. Metode penelitian menggunakan observasi lapangan secara langsung dengan menggunakan landasan teori dari buku karya Sunaryo, Aryo (2002) penyajian dari hasilpenelitian ini menggunakan deskripsi kualitatif mengenai bentuk geometris dengan melibatkan 6 prinsip komposisi. Harapannya setelah penelitian ini selesai kita sebagai mahasiswa arsitektur bisa mengetahui dan memahami bagaimana bentuk bangunan gereja kuno, dan elemen-elemen penyusun ruangannya. Serta dapatmenjadi pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi penulis serta pembaca, apabila nanti adanya kelanjutan ataupun ada yang meneruskan tentang penelitian gereja ini